Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Lampung pada periode 18–21 Agustus 2026.
Baca juga: HUT ke 81 RI, Polres Way Kanan bersama Polsek Baradatu dan Warga Gotong Royong Perbaiki Jembatan
Kepala BMKG Panjang, Tarjono, mengatakan Provinsi Lampung saat ini memasuki puncak musim kemarau.
Kondisi cuaca secara umum didominasi cerah hingga cerah berawan.
Namun, kondisi angin di wilayah perairan Lampung berpotensi meningkatkan tinggi gelombang.
"Untuk prakiraan cuaca maritim periode 18–21 Agustus 2026, pola angin di wilayah perairan Provinsi Lampung pada umumnya bergerak dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 2–15 knot," kata Tarjono, Selasa (18/8/2026).
Menurut Tarjono, kecepatan angin tertinggi berpotensi terjadi di Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan Lampung, serta Teluk Lampung bagian selatan dan utara.
Kondisi angin tersebut berpotensi meningkatkan tinggi gelombang di sejumlah wilayah perairan Lampung.
BMKG memprakirakan gelombang setinggi 1,25–2,50 meter atau kategori sedang berpeluang terjadi di Perairan Teluk Lampung bagian utara dan selatan.
Sementara itu, gelombang dengan ketinggian 2,50–4 meter atau kategori tinggi berpeluang terjadi di Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung.
Tarjono mengatakan kondisi angin dan gelombang tersebut perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko keselamatan pelayaran. Tingkat risikonya bergantung pada jenis dan karakteristik kapal yang digunakan.
Berdasarkan ambang risiko yang disampaikan BMKG, perahu nelayan mulai menghadapi risiko ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter.
Untuk kapal tongkang, risiko meningkat pada kecepatan angin 16 knot dan tinggi gelombang 1,50 meter. Sementara kapal feri berisiko pada kecepatan angin 21 knot dan tinggi gelombang 2,50 meter.
Adapun kapal kargo dan kapal pesiar berisiko ketika kecepatan angin mencapai 27 knot dengan tinggi gelombang 4 meter atau lebih.
Meski terdapat potensi gelombang tinggi, hingga Selasa (18/8/2026), aktivitas penyeberangan pada lintasan Merak–Bakauheni masih berjalan normal.
Tarjono mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, pengguna jasa penyeberangan, dan warga yang beraktivitas di wilayah pesisir, untuk memantau perkembangan cuaca dan kondisi gelombang melalui informasi resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas di laut.
"Masyarakat yang hendak beraktivitas di laut agar terus memantau dan menyimak informasi dari BMKG serta jangan memaksakan diri jika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat," kata Tarjono.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )