BANGKAPOS.COM -- Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan kepada seorang siswi Sekolah Rakyat kelas 4 SD, Citra Nur Ramadani (10), untuk tidak pacaran.
Hal tersebut disampaikan oleh Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, (14/8/2026).
"Citra, umurmu berapa?" tanya Prabowo.
"Sepuluh tahun," jawab Citra.
"Ya, nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Citra, kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karatemu ya. Jadi enggak ada yang berani nanti main-main sama kau," ujar Prabowo yang disambut tawa dan tepuk tangan tamu undangan yang hadir.
Menanggapi hal tersebut, Ketua KPAI Aris Leksono mengatakan pihaknya tidak ingin langsung menghakimi candaan Prabowo sebagai bentuk pelanggaran terhadap perlindungan anak.
Baca juga: Nasib Susanah usai Disebut Prabowo Pengupas Bawang Rp 700 Ribu, Ada Garis Polisi di Rumahnya
"Kami tidak ingin menghakimi atau menyimpulkan bahwa candaan itu merupakan bentuk pelanggaran terhadap perlindungan anak."
"Bisa jadi konteksnya adalah candaan spontan untuk mencairkan suasana," ujar Aris saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (18/8/2026).
Namun Aris menegaskan, komunikasi orang dewasa dan anak apalagi dilakukan oleh pejabat publik di ruang terbuka, tetap harus memperhatikan batasan.
Setiap interaksi dengan anak harus mengedepankan kepentingan anak, menghormati martabat anak, serta mempertimbangkan usia dan tahap perkembangannya.
"Ketika komunikasi dilakukan kepada anak usia 10 tahun, terlebih oleh pejabat publik dan disampaikan di ruang publik, tentu ada batasan yang perlu diperhatikan," katanya.
Aris menambahkan, komunikasi publik yang melibatkan anak perlu dilakukan secara bijak dengan mengedepankan kepentingan yang terbaik untuk anak.
"Prinsipnya, setiap komunikasi orang dewasa dengan anak harus mengutamakan kepentingan terbaik anak, menghormati martabat anak, memperhatikan usia dan tahap perkembangan anak," ujarnya.
Sosok Citra Nur Ramadhani menjadi sorotan setelah membuat Presiden Prabowo Subianto kagum.
Prabowo memanggil nama siswi kelas 4 SD itu saat menyampaikan program Sekolah Rakyat dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, (14/8/2026).
Presiden Prabowo lalu mengungkap sosok Citra Nur Ramadhani. Ia merupakan siswi 4 SD yang berasal dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, rovinsi Sulawesi Selatan.
Citra nyaris putus sekolah karena harus membantu ibunya yang penyandang disabilitas berjualan kacang. Sedangkan, ayah Citra telah meninggal dunia. Akhirnya, Citra melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Sekolah Rakyat memberi Citra kesempatan untuk belajar tanpa meninggalkan keluarganya menghadapi perjuangan sendirian," kata Prabowo.
Prabowo juga menyebutkan prestasi yang diraih Citra. Dimana, Citra berhasil meraih juara tingkat Kabupaten.
Dalam kesempatan itu, Prabowo sempat bertanya usia Citra. Siswi kelas 4 SD itu mengaku berusia 10 tahun.
Baca juga: Sosok Moeryono Aladin, Pensiunan Jenderal TNI Minta Prabowo Copot Listyo Sigit: Kapolri Harus Ganti
"Ya nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Kau boleh pacaran setelah sabuk hitam jadi enggak ada yang main-main sama kau," kata Prabowo.
Tak hanya Citra, Prabowo juga memanggil Muhammad Risky Pratama yang berusia 12 tahun.
Risky merupakan siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan.
Prabowo menceritakan Risky pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual.
"Luar biasa kau Rizky, kau anak yang baik," kata Prabowo.
Prabowo menuturkan Rizky sempat putus sekolah serta masuk sekolah rakyat belum lancar membaca serta menghitung.
"Hari ini, Risky kembali ke sekolah. Ia mendapatkan kembali haknya untuk belajar dan menata cita-cita. Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak," katanya.
Raih Penghargaan
Prabowo juga mendapat kabar bahwa tujuh siswa Sekolah Rakyat di Makassar berhasil memenangkan Olimpiade Nasional Indonesia ke-15 pada bidang Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Sosiologi.
"Capaian ini membuktikan bahwa pelajar dari keluarga yang paling tidak mampu, jika diberikan kesempatan, diberikan fasilitas, bisa mencapai prestasi nasional bahkan internasional," kata Prabowo.
Prabowo lalu menyinggung pembangunan Sekolah Rakayat yang merupakan sekolah berasrama bagi anak dari keluarga paling tidak berdaya dengan ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman.
"Strateginya kita harus memutuskan lingkaran kemiskinan," kata Prabowo.
"Kalau orang tua mengalami kondisi kemiskinan, anak-anak mereka tidak boleh. Sesuai Pasal 34 Undang Undang Dasar Negara kita, negara harus intervensi," imbuhnya.
Prabowo menyebut telah membuka 93 sekolah rakyat permanen. Kemudian ditambah Sekolah Rakyat rintisan. Sehingga total sudah ada 182 Sekolah Rakyat.
"Nantinya, semua kabupaten akan punya satu Sekolah Rakyat," kata Prabowo.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/TribunJakarta.com)