Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Keterbatasan ekonomi membuat Juanda dan ayahnya harus menjalani kehidupan serba sederhana.
Tinggal berdua selama bertahun-tahun, keduanya kini mengandalkan bantuan keluarga dan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Juanda mengaku telah tinggal bersama sang ayah di rumah yang berada di Desa Daspetah Kepahiang tersebut selama sekitar 13 tahun.
"Saya tinggal di sini berdua sama ayah, saya di sini sudah sekitar 13 tahun," ucap Juanda.
Berdasarkan pantauan TribunBengkulu.com, rumah yang mereka tempati berukuran sekitar 3 x 6 meter.
Lantai rumah hanya beralaskan semen, sementara kebutuhan listrik mereka masih menumpang dari rumah tetangga.
Listrik tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan dasar, seperti menyalakan satu bola lampu berukuran kecil dan menghidupkan mesin air.
Kondisi serupa juga terlihat pada kebutuhan memasak. Juanda dan ayahnya tidak memiliki kompor sehingga masih mengandalkan kayu bakar untuk memasak makanan sehari-hari.
Pilihan menggunakan kayu bakar bukan tanpa alasan. Juanda sengaja menghindari penggunaan kompor karena kondisi sang ayah yang sudah pikun.
Kayu bakar dinilai lebih aman karena dikhawatirkan sang ayah lupa mematikan kompor apabila ditinggal sendirian.
Sebelumnya, Juanda dan ayahnya masih bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, kondisi kesehatan keduanya membuat pekerjaan tersebut kini tidak lagi bisa dilakukan.
"Sebelumnya kami bekerja sebagai buruh tani, tapi sekarang kami tidak bisa bekerja, jadi sehari-hari di rumah saja," jelas Juanda.
Juanda mengungkapkan, dirinya mengalami cedera pada bagian kaki yang membuatnya kesulitan berjalan.
"Kondisi kami sehat, tapi memang kaki saya sudah cedera. Tiba-tiba kaki sakit dan mengecil, bisa berdiri tapi pakai tongkat. Sementara ayah saya sudah pikun," ungkap Juanda.
Keterbatasan tersebut membuat keduanya kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Juanda mengandalkan bantuan dari keluarga maupun pemerintah.
Bantuan yang diterima di antaranya berupa tongkat, sembako hingga bantuan uang tunai.
"Kami hidup mengandalkan bantuan dari keluarga dan pemerintah berupa bantuan tongkat, sembako dan uang. Terbaru dari Januari-April 2026 kemarin kami menerima Rp900 ribu," terang Juanda.
Dengan kondisi tidak lagi memiliki penghasilan tetap, bantuan yang diterima menjadi satu-satunya pegangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Juanda mengaku bantuan tersebut terkadang tidak mencukupi seluruh kebutuhan. Namun, ia tetap berusaha mengaturnya agar bisa digunakan selama mungkin.
"Dari bantuan itu cukup tidak cukup, dicukup-cukupi karena tidak bisa mencari uang," pungkas Juanda.