Berburu Sate Sukowati di Lereng Gunung Kelud, Datang Telat Langsung Gigit Jari
Rendy Nicko August 18, 2026 05:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Udara segar khas pegunungan berembus lembut di Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jatim, Sabtu (15/8/2026) siang. Sebuah kampung di lereng Gunung Kelud.

Meski tengah hari, namun udaranya di kampung ini tetap lembut. Tidak terasa terik. Dari gapura kampung, aroma sedap khas sate sudah langsung terasa.

Di sinilah terdapat Warung Sate Bu Sukowati. Sekitar 1 KM setelah gapura masuk Des Satak. Asap dengan aroma khas terus membumbung. Aroma sedap sate ini yang memicu selera siapa saja yang melintas.

Namun, untuk bisa menikmati sepiring sate legendaris di lereng Kelud ini, urusan perut harus dibarengi dengan strategi dan perjuangan.

Baca juga: Viral Tabrakan di Perempatan Karang Pacar Bojonegoro, Pengendara Motor Terpelanting Seruduk Innova

20 Menit Perjalanan Trabas Hutan

Warung Sate Sukowati yang berlokasi di kawasan Kelud, memiliki magnet luar biasa. Usaha kuliner yang dirintis oleh keluarga  Ibu Sukowati ini sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2008.

Konsistensi rasa selama hampir dua dekade inilah yang membuatnya tetap eksis dan kian diburu. Perjalanan naik mobil dari pusat Kota Pare, Kabupaten Kediri ke lokasi hanya sekitar 20 menit.

Ditambah suasana perjalanan menerabas tepian hutan dan hamparan kebun nanas lereng Kelud memberi pengalaman tersendiri.

Langsung Ludes

Jarum waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB saat pintu warung resmi dibuka. Namun, jangan harap Anda bisa langsung duduk santai dan memesan.

Dalam sekejap mata, sate ini langsung ludes terjual. Saat surya.co.id menuju warung, tampak riuh antrean di meja warung.

Melangkah masuk ke dalam warung, suasana makin riuh pelanggan duduk menunggu pesanan. Mulai di ruang utama hingga ruang buritan samping warung.

Deretan meja kayu yang sengaja ditata memanjang tampak dipenuhi oleh para pengantre yang sudah tidak sabar.

Mereka duduk berjejer rapat, saling melempar obrolan ringan sembari menunggu pesanan datang di meja panjang.

Model meja duduk memanjang ini menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat. Sangat serasi dengan hawa sejuk area luar warung di lereng Gunung Kelud.

Baca juga: PG Pesantren Baru Kediri Perkuat Standar Mutu dan Pengelolaan Lingkungan Lewat Resertifikasi ISO

"Saya sudah lebih dari 15 menit menunggu. Tapi saya rela menunggu karena daging satenya segar dan ukuranya besar. Saya sudah ketiga ke sini sama suami," ucap Tarik, salah satu pelanggan.

Siapa Cepat Dia Dapat

Secara aturan, tidak ada regulasi tertulis yang mewajibkan pengunjung untuk memesan tempat atau makanan terlebih dahulu.

Siapa yang datang lebih awal, dialah yang dilayani pertama kali. Sederhana, bukan?Namun kenyataannya tidak semudah itu.

Tatik menuturkan pengalamannya. Rupanya  yang datang paling awal dan langsung menguasai meja-meja kayu panjang tersebut ternyata adalah para pelanggan yang sudah melakukan booking.

"Dulu saya datang pukul 12.00. Katanya buka pukul 13.00. Ternyata tusukan sate dengan jumlah sudah ditentukan itu adalah pesanan orang lain by WA sebelumnya," kenang Tatik.

Bagi pengunjung nekat yang datang tanpa memesan terlebih dahulu, bersiaplah untuk pulang dengan tangan hampa. Bisa gigi jari karena kehabisan.

"Kalau jumlah pesanan WA sudah habis untuk 2 ekor kambing, kami tidak akan melayani pengunjung yang langsung ke warung," ucap Pak Nur, istri Bu Sukowati.

Daging Segar

Berbeda dengan warung sate lain, daging segar adalah kunci utama kelezatan di warung Sukowati. Ukuran potongan daging per tusuknya pun tergolong besar dan mantap.

Uniknya, sensasi makan di sini makin terasa intim karena sate dibakar langsung di depan mata pengunjung. Menghadirkan aroma panggangan yang menggoda iman sebelum hidangan tiba di meja.

Pak Nur menuturkan bahwa setiap harinya, Sukowati membatasi kuota jualan demi menjaga kualitas. Warung ini hanya menyembelih dua ekor kambing segar.

"Ya sekitar 1.000 tusuk sate saja. Kalau jumlah pesanan mendekati porsi ini artinya pengunjung langsung ke warung hanya melayani beberapa," lanjut Nur.

Jumlah yang terkesan banyak itu langsung lenyap dalam hitungan jam karena serbuan pembeli.

Dengan kesegaran daging dan besarnya ukuran daging tusukan bisa dibilang Sate Sukowati  masuk ukuran sate premium. Seporsi sate isi sejinah (10 tusuk) dibanderol dengan harga Rp40.000.

Sementara itu, jika ingin menikmati menu nasi campur gule plus beberapa tusuk sate   seharga Rp28.000. Satu porsi gule Rp 25.000.

Kombinasi rasa daging yang empuk, bumbu yang meresap sempurna, serta keunikan interaksi di meja kayu panjang membuat momen bersantap terasa sangat nyaman.

Semua perjuangan berburu kuota sate seolah terbayar tuntas pada gigitan pertama. "Empuk karena dagingnya segar dan bumbunya meresap," ucap Tatik.

Konon, di kalangan warga lokal, sate kambing jumbo ini juga kerap disebut-sebut sebagai makanan khusus laki-laki karena khasiatnya yang dipercaya mampu mendongkrak stamina.

Terlepas dari mitos tersebut, satu hal yang pasti, Sate Sukowati adalah petualangan rasa yang layak diperjuangkan saat berada di Kediri. Santap sate di lereng Gunung Kelud. 

(Faiq Nuraini/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.