Tribunlampung.co.id, Pesawaran – Perkebunan bawang merah di Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran dinilai terus berkembang.
Baca juga: Metro-Solok Perkuat Kerja Sama Pasokan Bawang Merah untuk Kendalikan Inflasi
Luas hamparan tanaman bawang merah kini mencapai sekitar 16 hektare, seiring bertambahnya jumlah petani yang mulai beralih dari tanaman padi.
Kepala Desa Sukadadi Rudi Maryoto mengatakan, perkembangan bawang merah di Sukadadi dalam beberapa tahun terakhir dinilai menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Tidak hanya luas lahan yang bertambah, jumlah petani yang menggeluti komoditas tersebut juga terus meningkat.
“Semakin ke sini semakin bagus. Semakin luas hamparannya, petaninya juga bertambah. Peningkatannya luar biasa,” kata Rudi.
Menurutnya, bawang merah menjadi salah satu bagian dari upaya masyarakat meningkatkan perekonomian melalui sektor pertanian.
Sejumlah petani yang sebelumnya mengandalkan tanaman padi mulai mencoba membudidayakan bawang merah.
Rudi menyebut kemampuan petani dalam mengelola tanaman bawang juga semakin baik.
Jika pada awal pengembangan masyarakat masih terkendala pengetahuan dan teknik budi daya, kini sebagian besar petani telah memahami cara mengolah lahan hingga melakukan perawatan tanaman.
“Dua tahun terakhir masyarakat sudah pintar mengelola tanah bawang merah. Awalnya memang sulit karena masih awam, sekarang rata-rata sudah paham cara perawatan dan pengolahannya,” ujarnya kepada Tribun Lampung, (18/8).
Untuk varietas, petani Sukadadi sebelumnya telah mencoba bibit dari sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Namun, varietas yang dinilai paling sesuai dengan kondisi tanah setempat kemudian lebih banyak digunakan oleh petani. Saat ini, luas hamparan bawang merah di Desa Sukadadi diperkirakan mencapai 16 hektare.
Hasil panen juga telah memiliki pembeli, meski pemasaran masih terbatas di wilayah Lampung.
Rudi mengatakan, produksi bawang merah dari Sukadadi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar Lampung secara besar.
Bahkan, hasil produksi desa tersebut diperkirakan baru menyumbang sekitar 0,7 hingga 0,8 persen terhadap kebutuhan pasar Lampung. “Kalau untuk keluar Lampung belum. Masih sekitar Lampung saja,” katanya.
Di sisi lain, petani masih menghadapi sejumlah kendala dalam budidaya, terutama saat musim kemarau.
Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan karena kebutuhan pengairan tidak semudah pada kondisi normal.
Selain air, serangan hama ulat juga menjadi perhatian petani selama musim kemarau. Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap biaya produksi dan hasil yang diperoleh petani.
Meski begitu, produksi bawang merah Sukadadi dinilai cukup menjanjikan.
Pada panen terakhir, hasil bawang merah yang keluar dari Desa Sukadadi mencapai lebih dari 20 ton. Bahkan, terdapat petani yang mampu menghasilkan hingga sekitar 5 ton dalam sekali panen.
Saat ini terdapat sekitar 33 petani yang mengembangkan bawang merah di desa tersebut.
Perkembangan itu juga mulai membuat nama Sukadadi dikenal hingga luar daerah.
Rudi menyebut sejumlah pihak dari Jambi dan Palembang bahkan pernah datang untuk melihat langsung pengembangan bawang merah di Sukadadi.
“Walaupun hamparannya masih kecil, nama Sukadadi sudah dikenal keluar. Dari Jambi dan Palembang sudah pernah datang ke sini,” ujarnya.
Rudi berharap pemerintah daerah dapat ikut mendorong pengembangan bawang merah di Sukadadi, terutama dari sisi pemasaran dan dukungan infrastruktur.
Menurutnya, penjualan langsung dari lahan dapat memberikan peluang harga yang lebih baik bagi petani jika didukung dengan akses dan fasilitas yang memadai.
Ia bahkan berharap pengembangan bawang merah tidak hanya berhenti sebagai sentra pertanian, tetapi dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi pertanian atau wisata bawang merah. “Harapannya bukan hanya disebut petani bawang merah, tetapi nanti bisa menjadi wisata bawang merah. Kalau itu terjadi, sangat menjanjikan dan harga juga bisa lebih tinggi,” katanya.(oky)
Pengembangan bawang merah di Sukadadi sendiri bukan proses yang instan. Pemerintah desa sebelumnya pernah memberikan bantuan pada 2020, namun upaya tersebut belum berhasil karena masyarakat masih dalam tahap belajar.
Setelah dilakukan evaluasi dan pembelajaran dari petani lain, budidaya bawang merah kembali dikembangkan sejak 2022 dan terus berjalan hingga sekarang dengan kemampuan petani yang semakin mandiri.
Pada Agustus 2026, Desa Sukadadi juga mendapat kesempatan menampilkan komoditas bawang merah dalam kegiatan Kampung Pancasila yang mengangkat tema ketahanan pangan.
Rudi berharap momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk semakin memperkenalkan potensi bawang merah Sukadadi sekaligus mengangkat nama Pesawaran.
“Kalau bisa dilirik untuk kebutuhan dapur MBG,” pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Oky Indra Jaya )