Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun jogja
DENGAN kesadaran penuh, kata merdeka yang harusnya menjadi kata pertama dalam judul catatan ini saya ganti dengan nama bulan Agustus. Pilihan itu rasanya lebih tepat sebagai sebuah rutinitas dibanding diksi merdeka yang rasanya sudah kehilangan makna.
Kemudian soal merah putih, entah kenapa tahun ini rasanya menjadi sia-sia saya ikut-ikutan latah untuk sekadar memasang merah putih di depan rumah sebagai tanda kita sudah merdeka.
Karena kata merdeka sudah kehilangan makna, maka rasanya menjadi percuma juga ketika saya harus ikut-ikutan latah mengibarkan bendera namun tak lebih sebagai kebanggan semu.
Saya bukannya tidak bangga menjadi orang Indonesia. Kalau boleh jujur, dada saya tetap bergetar bangga setiap harus berdiri mendengar atau harus menyanyikan lagu kebangsaan.
Bahkan di momen peringatan kemerdekaan di kampung, getar di dada saya semakin kentara lantaran merasakan kehilangan makna kemerdekaan itu sendiri.
Saya ingat betul, rasanya baru tahun ini saya dengan kesadaran penuh tidak latah memasang merah putih sepanjang Agustus ini.
Tahun-tahun sebelumnya, pertentangan akan makna kemerdekaan itu masih bisa dirasionalisasi. Namun dua tahun belakangan, utamanya tahun ini, saya justru merasa lebih sreg untuk tidak latah mengaku merdeka dengan memasang merah putih.
Kebetulan, ada ritual unik yang sejak beberapa tahun terakhir saya lakukan. Sepanjang bulan Agustus yang pernah kita kenal sebagai bulan kemerdekaan, bendera terpasang di depan rumah.
Namun untuk tanggal 13 Agustus hingga 16 Agustus, saya sengaja memasangnya setengah tiang. Kenapa? Saya seorang jurnalis yang bahkan pernah terlibat langsung menggugat Polda DIJ lantaran tak mampu mengungkap kematian wartawan Bernas Fuad Muhammad Safruddin alias Udin.
Udin dianiya dengan cara dipukul di depan rumahnya di Bantul pada 13 Agustus 1996 dan koma hingga meninggal pada 16 Agustus 1996. Persis ketika bangsa ini merayakan kemerdekaan yang ke-51, atau tanggal 17 Agustus 1996, Udin dimakamkan.
Hingga saat ini, Polisi memilih untuk menjadi ‘pengecut’ dengan mengaku gagal mengungkap siapa dalang sekaligus pelaku pembunuhan terhadap Udin. Untuk itulah, saya mendedikasikan bendera setengah tiang untuk Udin yang tak pernah sadarkan diri sejak dipukul hingga ajal menjemputnya.
Agustus tahun ini, tidak ada bendera berkibar di depan rumah saya. Sebut saja, bendera yang saya simpan di lemari terkoyak lantaran dimakan tikus yang menguasai lemari negeri ini.
Saya juga harus jujur bahwa saya menjadi bagian dari orang-orang yang frustasi, tanpa punya sedikitpun harapan atas bangsa ini.
Akal sehat yang saya miliki rasanya tidak lagi punya kemerdekaan untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Politik kekuasaan dijalankan secara barbar yang bahkan memerkosa hukum untuk kepentingan kekuasaan.
Sementara Presiden yang menahkodai negeri ini justru sering kepleset saat angkat micropon yang seharusnya selalu menjadi momentum untuk membangun kepercayaan terhadap public.
Saya ambil beberapa contoh sekaligus catatan terkait pidato Prabowo di momen kemerdekaan RI. Pertama ketiak dia berapi-api menyebut tak akan membiarkan ada sekolah roboh di negeri ini.
Saya juga mencatat bagaimana presiden mengklaim akan membangun 10 ribu Koperasi Desa Merah Putih dan tahun ini ditargetkan menjadi 30 ribu. Dalam hal ini, rasanya Prabowo tak pernah melihat kenyataan bagaimana kenyataan di lapangan lokasi KDMP justru menjadi bahan olok-olok karena tidak memikirkan market sehingga berpotensi menjadi mangkrak usai ‘merampas’ dana desa yang dialokasikan ke proyek ambisius tersebut.
Terpenting, Presiden juga mengklaim telah menumbuhkan 1,2 juta lapangan pekerjaan yang faktanya bertolak belakang dengan kenyataan sulitnya usia kerja di negeri ini mencari pekerjaan.
Agustus tahun ini tidak ada merah putih.
Saya benar-benar hoples dengan tata kelola negeri ini. Barangkali, saya menjadi ikut menjadi halu dan bermimpi untuk menjadi pengupas bawang yang bergaji Rp 700 ribu per kilo atau membangjn usaha penggilingan padi yang bisa meraup untung triliunan rupiah per musim.
Saya juga benar-benar tak punya harapan keadilan bisa terwujud di negeri ini ketika pertanyaan besar kenapa Silvester Matutina belum juga dieksekusi ketika kasusnya sudah berkekuatan hukum tetap.
Keraguan ini bakal bertambah ketika ujung dari kawsus Febrie Ardiansyah mantan Jampidsus tenggelam oleh upah pengupas bawang. (*)