Kematian massal ikan terjadi di keramba milik warga Desa Sungai Duren, Kabupaten Muaro Jambi. Sekitar 15 ribu ikan dilaporkan mati dan menyebabkan kerugian pembudidaya hingga ratusan juta rupiah.
Kepala Desa Sungai Duren, Zaini, mengatakan terdapat sekitar 150 pembudidaya ikan di wilayahnya. Jumlah keramba yang dimiliki setiap pembudidaya berbeda-beda sehingga kerugian yang dialami juga tidak sama.
“Pembudidaya ikan di Desa Sungai Duren sekitar 150 orang. Masing-masing memiliki jumlah keramba yang beragam. Sekarang jumlah ikan yang mati berkisar 15 ribuan dan kerugian yang dialami pembudidaya mencapai ratusan juta rupiah,” kata Zaini.
Menurut Zaini, kematian ikan diduga berkaitan dengan buruknya kualitas air Sungai Batanghari. Kondisi air yang keruh diperparah dengan debit sungai yang menyusut akibat musim kemarau.
Ketika debit air berkurang, kondisi perairan menjadi lebih rentan sehingga ikan yang dipelihara di dalam keramba lebih mudah mengalami stres hingga mati.
Selain faktor alam, aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Batanghari juga dinilai turut memperburuk kondisi air.
“Faktornya beragam, mulai dari kemarau yang menyebabkan Sungai Batanghari surut, ditambah aktivitas PETI di wilayah Sungai Batanghari,” tegasnya.
Menanggapi kejadian tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Muaro Jambi menyatakan siap menerjunkan tim ke lapangan untuk mengambil sampel air dan menguji kandungannya di laboratorium.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penyebab kematian massal ikan di keramba warga.
Kepala DLH Kabupaten Muaro Jambi, Medison, menjelaskan pengujian laboratorium diperlukan untuk mengetahui parameter kualitas air di lokasi kejadian.
"Uji air sungai ini untuk menentukan apakah kondisinya di bawah baku mutu atau di atas baku mutu. Jika hasilnya nanti di atas baku mutu, kita akan menelusuri dari mana sumber pencemaran itu terjadi. Sebaliknya, jika masih di bawah baku mutu, kami juga akan menyusun laporan resminya," ujar Medison.
Meski temuan ikan mati tersebut menghebohkan warga di sepanjang sungai, Medison mengaku pihaknya belum menerima laporan resmi dari masyarakat maupun aparat desa setempat.
"Sampai sekarang saya belum dapat informasi resmi dari masyarakat mengenai banyaknya ikan yang mati di sana," tambahnya.
DLH Muaro Jambi mengimbau masyarakat memberikan informasi secara detail mengenai titik lokasi ditemukannya ikan mati. Informasi tersebut diperlukan untuk mempermudah petugas mengambil sampel air.
(*)