TRIBUNJOGJA.COM- Pernah merasa satu hari penuh sudah digunakan untuk bekerja, tetapi rasanya masih belum punya waktu untuk diri sendiri?
Pagi dimulai dengan mengecek pesan pekerjaan, siang sibuk menyelesaikan tugas, lalu malam masih memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Bahkan ketika sudah berada di rumah, pikiran masih tertinggal di kantor.
Situasi seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi banyak orang.
Di tengah rutinitas yang semakin padat, istilah work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi pun semakin sering dibicarakan.
Sederhananya, work-life balance menggambarkan kondisi ketika seseorang bisa menjalankan pekerjaan sekaligus tetap punya ruang untuk kehidupan di luar pekerjaan.
Mulai dari waktu untuk keluarga, teman, hobi, kesehatan, hingga sekadar beristirahat.
Berbagai sumber menganggap work-life balance sebagai keseimbangan antara waktu bekerja dan kehidupan pribadi.
Artinya, pekerjaan tetap dijalankan dengan baik tanpa harus mengorbankan bagian hidup lainnya.
Work-Life Balance Bukan Sekadar Soal Waktu
Persoalan terkait work-life balance mungkin seringkali dianggap sebagai pembagian waktu antara bekerja dan beristirahat.
Misalnya, jam kerja selesai pukul 17.00. Setelah itu seseorang memang sudah tidak membuka laptop, tetapi masih terus memikirkan pekerjaan sampai menjelang tidur.
Secara waktu mungkin sudah berhenti bekerja, tetapi pikiran belum benar-benar beristirahat.
Sebaliknya, ada juga orang yang sesekali harus bekerja lebih lama karena sedang mengejar deadline atau tenggat waktu.
Selama setelah pekerjaan selesai masih ada kesempatan untuk beristirahat dan kembali menikmati kehidupan pribadi, kondisi tersebut belum tentu berarti keseimbangannya terganggu.
Karena itu, work-life balance dapat dikenal dengan kemampuan seseorang mengatur batas dan prioritas dalam kehidupannya.
Apa Saja yang Memengaruhinya?
Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi ternyata tidak hanya bergantung pada kemauan seseorang.
Ada banyak hal yang ikut menentukan.
1. Beban pekerjaan
Tugas yang terlalu banyak, deadline yang berdekatan, atau pekerjaan yang terus bertambah bisa membuat waktu pribadi ikut tersita.
Contohnya, niat awal hanya menyelesaikan satu pekerjaan di rumah. Karena masih ada tugas lain, waktu istirahat akhirnya kembali digunakan untuk bekerja.
2. Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi
Batas ini semakin penting ketika pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja.
Pesan dari grup kantor yang masuk malam hari, misalnya, bisa membuat seseorang merasa harus selalu siap merespons. Kalau tidak ada batas yang jelas, waktu di luar jam kerja pun perlahan ikut menjadi waktu kerja.
3. Lingkungan kerja
Cara sebuah tempat kerja mengatur jam kerja, memberikan fleksibilitas, membagi tugas, hingga berkomunikasi dengan karyawan juga berpengaruh.
Lingkungan yang memberi ruang untuk mengatur pekerjaan secara lebih fleksibel tentu berbeda dengan tempat kerja yang menuntut seseorang selalu tersedia.
4. Cara seseorang mengatur prioritas
Kondisi setiap orang berbeda. Maka dari itu, kemampuan menentukan mana yang perlu diselesaikan sekarang dan mana yang masih bisa menunggu juga membantu seseorang menjaga waktunya.
5. Kehidupan di luar pekerjaan
Keluarga, pasangan, teman, hobi, kegiatan sosial hingga waktu untuk diri sendiri juga membutuhkan perhatian.
Ketika semua energi hanya diberikan untuk pekerjaan, bagian kehidupan lain bisa perlahan terabaikan.
Apa Manfaatnya?
Memiliki keseimbangan artinya seseorang memiliki waktu untuk bekerja dengan serius dan ada waktu untuk berhenti sejenak.
Ketika waktu istirahat cukup, tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk memulihkan energi. Waktu di luar pekerjaan juga bisa digunakan untuk melakukan hal-hal yang membuat diri kembali bersemangat.
Hal sederhana seperti itu tetap punya tempat dalam kehidupan.
Berbagai sumber juga menyoroti pentingnya me time sebagai jeda dari kesibukan.
Waktu tersebut tidak harus selalu diisi dengan pergi berlibur atau melakukan sesuatu yang besar.
Tetapi, dengan memberikan jeda bagi tubuh dan pikiran untuk kembali tenang juga bisa menjadi bagian dari menjaga keseimbangan.
Tanda Hidup Mulai Tak Seimbang
Kadang-kadang, seseorang baru sadar terlalu sibuk setelah tubuh atau pikirannya mulai memberikan sinyal.
Beberapa tanda yang bisa diperhatikan antara lain:
Bahkan keluhan fisik seperti sakit kepala, pegal atau tubuh terasa tidak enak dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan jeda.
Keseimbangan Setiap Orang Berbeda
Tidak ada ukuran pasti tentang seperti apa work-life balance yang ideal.
Bagi seorang pekerja, pulang tepat waktu dan makan malam bersama keluarga mungkin sudah membuat harinya terasa seimbang.
Bagi orang lain, bisa menyisihkan waktu untuk olahraga atau bertemu teman mungkin menjadi hal yang penting.
Begitu pula dengan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir. Ada masa ketika hampir seluruh waktu digunakan untuk menyelesaikan penelitian.
Namun, bukan berarti selama masa tersebut seseorang harus merelakan seluruh waktu untuk beristirahat.
Pekerjaan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan. Tetapi, kehidupan tidak berhenti hanya karena pekerjaan sedang banyak.
Tubuh perlu beristirahat dan diri sendiri yang juga membutuhkan waktu untuk sekadar menikmati hari.
Jadi, bagi Tribunners yang akhir-akhir ini merasa hari-hari hanya dipenuhi pekerjaan, mungkin sudah waktunya melihat kembali bagaimana waktu dan tenaga digunakan.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)