Mahasiswa Gorontalo Ini Sulap iPad Bekas Jadi Bisnis Photo Booth Beromzet Jutaan
Fadri Kidjab August 19, 2026 10:43 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Berawal dari kegemaran mengabadikan momen dan melihat tren photo booth atau stan foto berkonsep frame di media sosial, Wahyu Saputra (21) menemukan peluang usaha.

Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) asal Padang, Sumatera Barat, itu kini merintis usaha photo booth outdoor bersama rekannya, Susilawaty Idrus (21).

Wahyu yang tinggal di Perumahan Awara, Kelurahan Liluwo, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, mulai merintis usaha tersebut pada April 2026. Hingga Agustus 2026, usaha yang diberi nama Basuwo Ipadbooth itu telah berjalan sekitar empat bulan.

Konsep yang ditawarkan cukup berbeda dari photo booth pada umumnya. Alih-alih berada di dalam ruangan berlatar buatan, Wahyu dan Susilawaty membawa perangkat photo booth ke ruang terbuka dengan latar tempat-tempat ikonik di Kota Gorontalo.

Ide tersebut bermula ketika Wahyu melihat sejumlah photo booth berkonsep frame yang ramai di media sosial, lalu menyadari bahwa konsep serupa belum banyak ditemukan di Gorontalo.

"Saat itu kami suka lihat frame-frame yang bagus di media sosial, seperti di luar daerah. Waktu kami cek, konsep seperti ini belum ada di Gorontalo," kata Wahyu saat diwawancarai Tribun Gorontalo, Rabu malam (19/8/2026).

Dari situlah muncul keinginan untuk menghadirkan tren tersebut di Gorontalo.

KREATIFITAS MAHASISWA - Foto Booth Outdor milik Wahyu Saputra (21) dan Susilawaty Idrus (21) mahasiswa UNG buka di kawasan Bundaran Saronde Kota Gorontalo, Rabu malam (19/8/2026). (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)
KREATIFITAS MAHASISWA - Photo Booth Outdor milik Wahyu Saputra (21) dan Susilawaty Idrus (21) mahasiswa UNG buka di kawasan Bundaran Saronde Kota Gorontalo, Rabu malam (19/8/2026). (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

 

Baca juga: Sosok Sandi Bilondatu Mahasiswa UNG Korban Longsor di Tambang Marisa Gorontalo, Eks Sekretaris HMJ

Nama Basuwo sendiri memiliki makna khusus bagi Wahyu. Kata ini berasal dari bahasa Minang yang berarti bersua atau berjumpa. Nama tersebut dipilih karena konsep usaha mereka berkaitan dengan momen pertemuan seseorang dengan orang lain yang diabadikan melalui foto.

"Kebetulan saya orang Minang. Basuwo dalam bahasa Minang artinya bersua. Kami ingin mengabadikan momen-momen orang yang saling berjumpa," ujarnya.

Menariknya, modal awal Wahyu untuk merintis usaha ini tidak langsung berasal dari investasi besar. Sebelum membuka Basuwo, ia sudah memiliki sebuah iPad. Namun, perangkat tersebut mulai jarang digunakan sehingga sempat terpikir untuk dijualnya.

Alih-alih menjual iPad tersebut, Wahyu berpikir bagaimana perangkat itu bisa menghasilkan sesuatu. Dari sanalah muncul ide untuk menjadikannya bagian dari perangkat photo booth.

"Awalnya saya sudah punya iPad dan sudah jarang digunakan. Sempat terpikir untuk menjualnya, tapi kemudian saya berpikir apa yang bisa dihasilkan tanpa harus menjual iPad ini," ungkap Wahyu.

Dengan iPad dan pencetak (printer) sebagai perangkat utama, Wahyu dan Susilawaty mulai membangun usaha tersebut secara bertahap. Peralatan pendukung lainnya dibeli secara progresif sesuai perkembangan usaha. Untuk modal awal, Wahyu menyebut dana yang dikeluarkan mencapai kisaran di bawah Rp10 juta.

Basuwo biasanya membuka layanan photo booth outdoor pada malam hari. Jam operasionalnya mulai pukul 19.00 Wita hingga 23.00 Wita, atau terkadang sampai tengah malam. Lokasi yang sering digunakan berada di kawasan Tugu Saronde, Kota Gorontalo.

Selain itu, mereka beberapa kali berpindah lokasi dan membuka layanan melalui sistem kolaborasi dengan pelaku usaha lain. Basuwo juga pernah hadir di kawasan Menara Pakaya Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Selain membuka lapak mandiri, Wahyu dan Susilawaty menerima pesanan photo booth untuk berbagai kegiatan, mulai dari acara kantor, ulang tahun, pernikahan, hingga kegiatan kampus dan sekolah.

Khusus untuk kegiatan kampus maupun sekolah, panitia dapat mengajukan proposal kepada mereka untuk mendiskusikan bentuk kolaborasinya.

"Kami juga menerima kolaborasi dengan panitia di kampus dan sekolah. Teman-teman bisa mengirim proposal, kemudian kami diskusikan kebutuhan dan konsep kolaborasinya," jelas Wahyu.

Untuk layanan reguler, Basuwo menawarkan paket foto seharga Rp30.000. Harga tersebut sudah termasuk sesi foto, kartu ucapan (gift card), serta satu lembar foto ukuran 4R.

Menariknya, paket tersebut tidak membatasi jumlah orang dalam satu sesi foto. Artinya, pelanggan dapat berfoto bersama teman, pasangan, maupun keluarga selama masih dalam satu sesi.

Selain paket reguler seharga Rp30.000, pelanggan dapat menambah layanan tertentu dengan biaya tambahan Rp15.000.

Konsep outdoor menjadi salah satu daya tarik utama karena pelanggan tidak hanya mendapatkan hasil cetak foto, tetapi juga latar tempat yang menjadi bagian dari cerita foto tersebut.

Menurut Wahyu, respons masyarakat terhadap konsep photo booth outdoor ini cukup baik. Promosi melalui media sosial menjadi salah satu cara utama masyarakat mengenal Basuwo. Mereka menggunakan TikTok dan Instagram untuk memperkenalkan lokasi, konsep, serta hasil foto. Kerja sama dengan usaha lain juga turut membantu memperluas jangkauan pelanggan.

"Atensinya bagus dan banyak yang tahu dari media sosial. Kami punya TikTok dan Instagram, dari sana cukup banyak yang mengetahui usaha ini," katanya.

Untuk layanan reguler di lokasi outdoor, pelanggan yang datang didominasi oleh Gen Alpha dan Gen Z. Namun, ketika menerima pesanan untuk acara tertentu, pelanggan yang menggunakan jasa mereka menjadi lebih beragam, mencakup anak muda hingga keluarga.

Memasuki bulan keempat sejak dirintis, Wahyu menyadari bahwa bisnis photo booth tidak bisa hanya mengandalkan satu konsep. Menurutnya, tren fotografi dan selera pelanggan terus berubah. Oleh karena itu, mereka harus terus berkreasi agar pelanggan tidak merasa bosan.

"Usaha fotobooth ini dinamis. Harus kreatif untuk mengembangkan apa yang ada karena tren terus berubah. Kalau hanya print seperti itu, orang bisa bosan," ujarnya.
Cara yang dilakukan adalah mengikuti tema yang sedang populer. Belakangan, mereka membuat konsep kolaborasi bertema Spider-Man untuk mengikuti tren yang diminati masyarakat.

Dari sisi pendapatan, Wahyu menyebut usaha tersebut mampu menghasilkan omzet kotor di atas Rp3 juta dalam sepekan. Angka tersebut masih berupa pendapatan kotor dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti jumlah pelanggan, lokasi, serta kegiatan yang mereka ikuti.

Menjalankan usaha photo booth di ruang terbuka tentu memiliki tantangan tersendiri. Cuaca menjadi persoalan utama yang harus diperhitungkan. Hujan atau kondisi cuaca yang tidak bersahabat membuat layanan outdoor tidak dapat dijalankan seperti biasanya. Oleh karena itu, perangkat yang digunakan dirancang secara portabel agar lebih mudah dipindahkan dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

"Kalau cuacanya tidak bersahabat, tentu kami tidak bisa beroperasi seperti biasa. Karena itu konsepnya dibuat portable," tutur Wahyu.
Meski demikian, selama menjalankan usaha sejak April lalu, Wahyu mengaku belum menemukan kendala besar lainnya.

Wahyu tidak ingin Basuwo berhenti sekadar sebagai usaha photo booth outdoor. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, ia berharap dapat mengembangkan usaha tersebut menjadi studio foto dengan berbagai tema.

Harapannya, pelanggan tidak hanya datang untuk mencetak foto, tetapi juga merasakan pengalaman mengabadikan momen dengan konsep yang berbeda.

"Harapannya tentu kami bisa punya studio dengan berbagai tema. Kami ingin membuat momen-momen itu lebih berkesan melalui foto yang ada," katanya.

Bagi Wahyu, perjalanan membangun Basuwo juga menjadi pengalaman berharga bagi anak muda untuk berani mencoba peluang usaha. Ia mengajak generasi muda yang memiliki ide untuk tidak terlalu lama menunggu keadaan sempurna.

"Kita masih muda. Kalau ada sesuatu yang terpikir, coba saja dulu. Selagi masih muda, ambil semua risiko yang ada," pesannya.

Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com, lokasi usahanya berada di trotoar samping SPBU Nani Wartabone atau di Jalan Nani Wartabone, Kota Gorontalo.

Jika diakses dari arah kampus 1 UNG, lokasinya berada di sebelah kanan, sedangkan jika dari arah Lapangan Taruna Remaja, lokasinya berada di sebelah kiri.

 
(TribunGorontalo.com / Jefri)
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.