10 Contoh Laporan Perjalanan di Riau - Pekanbaru Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora
Nolpitos Hendri August 20, 2026 12:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Riau - Pekanbaru dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

Baca juga: 10 Contoh Laporan Perjalanan di Sumatera Barat-Padang Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora

Bab 6 Satu Titik

Soal : 

Bahas Bahasa

Majas Metafora

Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.

Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “AnakAnak Merapi”.

1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan

2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih

3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat

4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar

5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih

Menulis

Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana

Laporan Perjalanan

Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.

Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi atau karangan. Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi atau karangan. Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.

Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.

Judul : 

Awal (1 paragraf)

Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).

Tengah (2—3 paragraf)

Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.

Akhir (1 paragraf)

Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”

Kunci jawaban : 

Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Riau - Pekanbaru dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora : 

1. Laporan Perjalanan ke Masjid Raya An-Nur, Pekanbaru
Judul: Menyapa Cahaya Iman yang Bersinar di Jantung Pekanbaru

Pada awal bulan Juni, saat matahari mulai menyebarkan cahayanya dengan lembut, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Masjid Raya An-Nur, kebanggaan Kota Pekanbaru yang berdiri megah bagai istana di tepi Sungai Siak. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi libur sekolah sekaligus menyaksikan langsung keindahan masjid yang menjadi lambang keimanan dan kemegahan budaya Melayu di tanah Riau.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang melaju tenang bagai perahu menyusuri aliran sungai yang tenang. Perjalanan dari pusat kota memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan suasana jalan yang ramai namun tetap tertib. Di sepanjang jalan, deretan gedung dan pepohonan rindang bagai barisan prajurit yang menyambut kedatangan para tamu yang mendambakan kedamaian dan keindahan.

Sesampainya di gerbang masjid, bangunan berwarna putih dan keemasan itu tampak menjulang bagai awan yang bersinar terang di siang hari. Kubah-kubahnya yang melengkung indah bagai pelangi yang membentang di angkasa, memadukan corak Melayu dan arsitektur modern menjadi satu kesatuan yang harmonis bagai irama lagu yang menenangkan hati pendengarnya.

Kami melangkah masuk ke halaman masjid dengan penuh rasa kagum bagai anak kecil yang memasuki negeri dongeng. Dinding-dindingnya yang bersih dan berkilau bagai lembaran cermin yang memantulkan cahaya iman, seakan berbisik menceritakan kemuliaan dan ketakwaan yang tumbuh subur di tanah ini bagai pohon yang berbuah lebat di musim kemarau.

Di dalam ruang utama masjid, suasana sejuk dan damai langsung menyelimuti hati bagai berada di bawah naungan pohon rindang yang meneduhkan jiwa. Kami melaksanakan ibadah sambil menikmati keindahan hiasan kaligrafi yang bagai untaian doa yang terukir indah di atas lembaran hati, menyadarkan kami betapa agung Pencipta yang telah menitipkan keindahan tempat ibadah yang begitu memukau jiwa dan raga.

Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan masjid yang masih tampak megah bagai raja yang duduk di singgasana di tepi sungai. Meski kaki terasa sedikit lelah berkeliling, namun hati terasa penuh bagai bejana yang meluap dengan rasa syukur atas keindahan warisan luhur yang begitu menyejukkan jiwa.

Perjalanan ini meninggalkan kesan yang mendalam bagai tinta emas yang tak mudah pudar di atas lembaran hati. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah saat pagi hari atau menjelang senja agar dapat menikmati keindahan masjid dan pemandangan Sungai Siak dengan tenang, serta kenakan pakaian yang sopan sebagai tanda penghormatan terhadap tempat ibadah yang mulia ini.

2. Laporan Perjalanan ke Sungai Siak, Pekanbaru
Judul: Menyusuri Nadi Kehidupan yang Mengalir Melintasi Pekanbaru

Pada pertengahan bulan Juli, aku dan kedua sahabatku melangkah beriringan menuju tepian Sungai Siak, sungai yang menjadi nadi kehidupan dan saksi bisu perjalanan sejarah tanah Riau. Perjalanan ini kami lakukan bukan sekadar untuk melepas penat, melainkan untuk menyaksikan langsung sungai yang airnya mengalir bagai darah yang menghidupi segenap tubuh bumi Melayu sejak ratusan tahun silam.

Kami menaiki perahu wisata yang bergerak perlahan membelah air yang tenang bagai pisau yang membelah sutra halus. Perjalanan menyusuri sungai memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya sewa perahu sebesar Rp150.000 untuk satu rombongan. Di sepanjang aliran air, deretan bangunan dan pepohonan di tepian tampak beriringan bagai saksi bisu yang menyaksikan perjalanan waktu yang terus berjalan tanpa henti.

Angin berhembus lembut menyapa wajah, membawa sejuk yang meresap hingga ke dalam tulang bagai pelukan hangat di udara yang hangat. Air sungai yang mengalir tenang bagai aliran kehidupan yang terus berjalan membawa berkah, memantulkan bayangan langit dan bangunan di tepian bagai lukisan yang tergambar di atas permadani biru yang bergerak lembut.

Kami menyaksikan jembatan yang melintas gagah bagai raksasa yang merentangkan tangan menghubungkan dua tepian yang saling berpeluk. Di kejauhan, bangunan-bangunan bersejarah tampak berdiri tegak bagai prajurit yang tak pernah lelah menjaga warisan leluhur, seakan bercerita tentang masa kejayaan yang pernah bersinar terang bagai matahari di siang hari.

Saat perahu berlabuh kembali, kami berjalan menyusuri tepian sungai yang asri dan tertata rapi bagai taman yang dibangun dengan penuh kasih sayang. Suara air yang berdebur lembut terdengar bagai irama musik alam yang menenangkan jiwa, membuat segala lelah perjalanan perlahan luruh terbawa arus air yang mengalir menuju kejauhan tanpa akhir.

Saat matahari mulai turun ke peraduannya, langit berwarna jingga memantul di permukaan air bagai hamparan emas yang tersebar di atas permadani biru. Kami pulang membawa kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta karun yang tak ternilai harganya oleh siapapun di dunia ini.

Sungai Siak sungguh menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang tak pernah berhenti mengalir. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah kamera untuk mengabadikan pemandangan indah saat matahari terbenam, serta jaga kebersihan tepian sungai agar nadi kehidupan ini tetap jernih dan mengalir bagai air yang bersih dan menyejukkan sepanjang masa.

3. Laporan Perjalanan ke Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru
Judul: Jejak Sejarah yang Terukir di Dalam Dinding Museum

Pada awal bulan Agustus, aku beserta teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Museum Sang Nila Utama yang menyimpan ribuan jejak masa lalu tanah Riau. Perjalanan ini kami lakukan sebagai bagian dari tugas sejarah, untuk melihat langsung bukti-bukti peradaban dan kebudayaan yang pernah tumbuh subur di tanah ini bagai pohon besar yang menaungi ribuan makhluk hidup di bawahnya.

Kami menaiki bus sekolah yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang berkelok bagai aliran sungai yang berkelok namun tetap mengalir menuju tujuannya. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari sekolah tanpa biaya tiket masuk karena merupakan kunjungan resmi sekolah. Sepanjang perjalanan, kami berbincang dengan gembira bagai kawanan burung yang terbang beriringan menuju sarang kebahagiaannya.

Sesampainya di lokasi, bangunan museum yang kokoh dan sederhana tampak bagai buku tebal yang tertutup rapat namun menyimpan ribuan ilmu berharga di dalam halaman-halamannya. Saat pintu museum terbuka bagai lembaran waktu yang terbuka lebar, kami disambut suasana tenang yang seakan membawa kami kembali melintasi waktu menuju masa lampau yang penuh dengan kisah-kisah luhur.

Di dalam ruangan museum, ribuan benda bersejarah tersusun rapi bagai permata yang tersimpan di dalam peti berharga yang dijaga dengan penuh kesabaran. Alat-alat kehidupan masa lampau, pakaian adat, senjata, hingga naskah-naskah kuno bagai bercerita sendiri tentang kehidupan nenek moyang yang sederhana namun penuh dengan kebijaksanaan yang mendalam bagai sumur tua yang tak pernah kering airnya.

Kami berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain bagai berjalan menyusuri lorong waktu yang tak berujung. Setiap benda yang kami lihat seakan berbisik menceritakan perjuangan dan kehidupan nenek moyang yang membangun peradaban dengan tangan sendiri, ketekunan bagai tetesan air yang melubangi batu yang keras perlahan namun pasti hingga tercapai tujuan yang mulia.

Saat kunjungan selesai, kami keluar dari museum dengan pikiran yang penuh dan hati yang kagum bagai orang yang baru saja pulang dari perpustakaan terbesar di dunia. Langkah kaki terasa mantap dan kuat bagai pohon beringin yang berakar teguh di tanah subur, berjanji untuk meneruskan perjuangan pendahulu dengan cara yang penuh hikmat dan kasih sayang.

Museum Sang Nila Utama adalah jendela emas yang membuka pandangan kami tentang masa lalu yang gemilang. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah buku catatan dan pulpen untuk mencatat hal-hal berharga, serta berbicara dengan suara pelan agar tidak mengganggu ketenangan suasana yang bagai perpustakaan tempat ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang biak.

4. Laporan Perjalanan ke Taman Wisata Alam Rimbang Baling, Pekanbaru
Judul: Menyusuri Hutan Hijau yang Menjadi Paru-Paru Kota

Pada hari libur pertengahan bulan Agustus, aku bersama adik dan sepupu-sepupu berangkat menuju Taman Wisata Alam Rimbang Baling yang menjadi paru-paru hijau di wilayah Pekanbaru. Perjalanan ini kami lakukan untuk melepas penat setelah berhari-hari sibuk dengan tugas sekolah, sekaligus menikmati kesegaran alam yang bagai ramuan penyembuh bagi jiwa yang lelah dan pikiran yang penat.

Kami menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor yang melaju membelah angin segar bagai burung yang terbang rendah menyusuri lembah hijau. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan menuju kawasan wisata, pepohonan rindang yang berjejer rapi bagai barisan penjaga yang menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah dan sejuk yang menyejukkan hati.

Sesampainya di dalam kawasan hutan, hamparan tanaman hijau dan beragam jenis pohon yang tumbuh subur bagai permata berwarna-warni yang tersebar di atas permadani hijau yang luas. Udara yang segar dan bersih bagai napas baru yang menyegarkan paru-paru, langsung menyambut kami seketika menghapus rasa lelah yang menyelimuti tubuh selama perjalanan tadi.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang bagai berada di bawah naungan atap yang sejuk dan teduh. Di sela-sela pepohonan, terdapat kolam dan aliran sungai kecil yang airnya jernih bagai kaca bening, tempat ikan-ikan berenang riang bagai anak-anak yang bermain tanpa beban di tengah halaman rumah yang luas.

Angin berhembus lembut membelai dedaunan yang berbisik lemah bagai orang tua yang menceritakan kisah-kisah indah tentang kehidupan yang sederhana namun penuh makna di tengah kerimbunan alam yang asri. Kami berhenti sejenak mendengarkan suara kicauan burung yang terdengar merdu bagai irama musik alam yang menenangkan jiwa dan membuat hati yang gelisah menjadi tenang kembali.

Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan kawasan hutan yang masih tampak hijau dan segar bagai wajah yang selalu tampak muda karena bahagia. Meski tubuh terasa sedikit lelah karena berjalan berkeliling, namun jiwa terasa segar kembali bagai disiram air jernih yang mengalir dari mata air murni yang menyejukkan segenap raga.

Taman Wisata Alam Rimbang Baling adalah tempat pelarian yang indah dari hiruk pikuk kehidupan kota yang padat. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya kenakan alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh dan pakaian tertutup, serta jangan pernah meninggalkan sampah agar keindahan hutan ini tetap abadi bagai warisan luhur yang diwariskan nenek moyang kepada kita semua.

5. Laporan Perjalanan ke Danau Buatan, Pekanbaru
Judul: Permata Biru yang Terhampar di Tengah Kota

Pada awal bulan September, aku bersama paman dan sepupu berangkat menuju Danau Buatan yang menjadi ikon wisata dan tempat rekreasi asri di Pekanbaru. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati suasana tenang di tepian air yang bagai cermin bening yang memantulkan keindahan langit dan pepohonan di sekelilingnya, tempat di mana kedamaian dan keindahan menyatu bagai jiwa dan raga yang tak terpisahkan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, pemandangan kota yang asri dan tertata rapi bagai susunan manik-manik yang indah terus menyapa pandangan mata kami dengan penuh keramahan.

Sesampainya di tepian danau, hamparan air yang tenang dan berwarna biru jernih tampak bagai cermin raksasa yang memantulkan bayangan langit biru dan pepohonan hijau tanpa cela sedikit pun. Angin berhembus lembut menyapu permukaan air yang beriak tipis bagai kain sutra yang digerakkan tangan halus, menciptakan pemandangan yang bagai lukisan alam yang tak tertandingi keindahannya.

Kami berjalan menyusuri tepian danau yang tertata rapi dan asri bagai taman yang dibangun dengan penuh kasih sayang. Pepohonan rindang dan bunga-bunga yang bermekaran di tepian danau bagai hiasan indah yang melengkapi keindahan permata biru ini, membuat siapa saja yang berkunjung ke sini merasa tenang dan bahagia bagai berada di tempat yang penuh berkah dan kedamaian.

Kami juga menaiki perahu kecil yang bergerak perlahan membelah air danau yang jernih bagai kaca bening tanpa cela. Dari tengah danau, pemandangan tepian yang hijau dan asri tampak semakin indah bagai pelukan hangat yang melindungi ketenangan danau dari gangguan dunia luar yang sibuk dan bising. Hati terasa damai dan bahagia bagai anak kecil yang bermain riang di pelukan kasih sayang orang tuanya.

Menjelang matahari terbenam, langit berwarna jingga memantul di permukaan air yang berkilauan bagai hamparan emas yang tersebar di atas permadani biru yang luas. Kami pulang membawa kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta berharga yang tak akan pudar dimakan waktu dan tak akan hilang dimakan zaman yang terus berjalan.

Danau Buatan sungguh menjadi permata yang menghiasi keindahan Kota Pekanbaru. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah menjelang sore agar dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang memukau, serta bawalah alas kaki yang nyaman untuk berjalan menyusuri tepian danau yang panjang dan asri.

6. Laporan Perjalanan ke Taman Budaya Riau, Pekanbaru
Judul: Menyaksikan Permata Seni dan Budaya Melayu di Tanah Riau

Pada pertengahan bulan September, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Taman Budaya Riau yang menjadi pusat pelestarian seni dan budaya Melayu di Pekanbaru. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya nenek moyang yang tumbuh subur bagai pohon yang berbuah lebat di tanah yang diberkahi, serta menikmati keindahan bangunan yang mencerminkan kemegahan arsitektur Melayu yang agung.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang ramai namun tetap mengalir bagai air sungai yang terus bergerak menuju muara. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh lima menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp20.000 per orang. Di sepanjang jalan menuju lokasi, suasana kota yang asri dan penuh dengan nuansa budaya Melayu bagai menyambut kedatangan kami dengan penuh keramahan dan kehangatan.

Sesampainya di lokasi, bangunan utama yang berarsitektur Melayu tampak menjulang gagah bagai istana raja yang berdiri tegak di tengah taman yang indah. Atapnya yang melengkung indah menyerupai bentuk perahu dan tanduk kerbau bagai lambang kehidupan dan kemakmuran masyarakat Melayu yang senantiasa bersahabat dengan alam dan terus berjuang maju bagai ombak yang tak pernah berhenti menyapu tepian.

Di dalam kompleks taman budaya, kami menyaksikan beragam bangunan tradisional yang berdiri rapi bagai saksi bisu kehidupan nenek moyang yang sederhana namun penuh kebijaksanaan. Setiap ukiran dan hiasan pada bangunan bagai bercerita tentang kehalusan budi dan ketinggian seni budaya yang dimiliki masyarakat Melayu sejak ratusan tahun silam, yang tak lekang oleh waktu dan tak pudar dimakan zaman.

Kami juga menyaksikan pameran kesenian dan kebudayaan yang menampilkan kain tenun, kerajinan tangan, serta alat musik tradisional yang tersusun rapi bagai permata berwarna-warni yang dijaga dengan penuh kasih sayang. Kain tenun yang bermotif indah bagai lukisan yang bercerita tentang kehidupan dan harapan masyarakat Melayu yang senantiasa hidup rukun dan damai bagai air yang tenang di tepian sungai.

Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan Taman Budaya dengan hati yang penuh rasa bangga bagai orang yang baru saja menemukan harta karun berharga peninggalan leluhur. Kami pulang membawa semangat baru untuk menjaga dan melestarikan warisan luhur nenek moyang bagai menjaga biji mata agar tetap bersinar terang menerangi jalan kehidupan anak cucu di masa depan.

Taman Budaya Riau adalah jendela yang memperlihatkan keindahan dan kemegahan budaya Melayu yang kaya akan makna dan keindahan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah saat ada pertunjukan kesenian agar dapat menikmati keindahan tarian dan musik tradisional yang merdu, serta bawa buku catatan untuk mencatat hal-hal berharga yang menjadi pesan luhur nenek moyang kita.

7. Laporan Perjalanan ke Masjid Raya Syekh Burhanuddin, Pekanbaru
Judul: Cahaya Tauhid yang Bersinar di Tanah Melayu

Pada hari Jumat awal bulan Oktober, aku bersama ayah berkunjung ke Masjid Raya Syekh Burhanuddin yang berdiri megah dan indah di kawasan Pekanbaru. Perjalanan ini kami lakukan untuk melaksanakan ibadah sekaligus mengenal lebih dekat tokoh penyebar agama Islam yang namanya terukir bagai emas di lembaran sejarah tanah Riau, serta menyaksikan keindahan masjid yang dibangun dengan penuh cinta dan penghormatan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan taksi yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp25.000. Di sepanjang jalan, suasana kota yang tenang dan tertib bagai menyambut kedatangan kami dengan penuh kedamaian dan kehangatan yang menyejukkan hati.

Sesampainya di depan masjid, bangunan megah itu tampak bagai istana dari negeri dongeng yang tiba-tiba muncul di hadapan mata. Kubah-kubahnya yang berwarna putih bersih dan berkilauan bagai permata yang dipoles hingga bersih, berdiri tegak menyapa langit biru yang bersih tanpa noda, memancarkan keagungan dan kemuliaan tempat ibadah yang menjadi rumah bagi setiap orang yang beriman.

Kami melangkah masuk ke halaman masjid dengan hati yang tenang dan penuh rasa hormat bagai memasuki tempat yang disucikan oleh berkah Tuhan Yang Maha Esa. Halaman yang luas dan bersih bagai lembaran putih yang terbentang luas, menyambut setiap langkah kaki yang datang membawa harapan dan doa yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam dan suci.

Di dalam ruang utama masjid, suasana yang sejuk dan damai langsung menyelimuti hati bagai berada di bawah naungan pohon rindang yang meneduhkan jiwa dan raga. Cahaya matahari yang menembus celah jendela tampak bagai berkas-berkas cahaya iman yang menerangi jalan kehidupan di tengah malam yang gelap gulita, membuat hati yang gelisah menjadi tenang dan damai bagai air danau yang tenang tanpa riak sedikit pun.

Setelah selesai beribadah dan berdoa sejenak, kami berpamitan meninggalkan masjid dengan hati yang penuh kedamaian bagai hati anak yang mendapat pelukan kasih sayang dari ibunya yang tulus. Cahaya iman yang terpancar dari masjid ini seakan ikut kami bawa pulang bagai lentera yang menyala terang menerangi jalan kehidupan yang kami tempuh setiap hari.

Masjid Raya Syekh Burhanuddin adalah perpaduan sempurna antara keindahan seni dan kemuliaan iman yang menyejukkan jiwa. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah dengan hati yang tenang dan pakaian yang sopan sebagai tanda penghormatan terhadap tempat ibadah yang mulia ini, serta bawalah air minum agar tetap segar dan nyaman sepanjang waktu beribadah dan berkeliling.

8. Laporan Perjalanan ke Taman Kota Pekanbaru
Judul: Oase Hijau yang Menyejukkan Hati di Tengah Kota

Pada hari Sabtu pertengahan bulan Oktober, aku bersama adik dan teman-teman berangkat menuju Taman Kota yang menjadi tempat rekreasi dan penyejuk udara di tengah hiruk pikuk Kota Pekanbaru. Perjalanan ini kami lakukan untuk melepas penat setelah sibuk dengan kegiatan sehari-hari, sekaligus menikmati kesegaran udara dan keindahan taman yang tertata rapi bagai taman surga yang diturunkan ke bumi untuk menyejukkan hati setiap yang berkunjung ke sana.

Kami menempuh perjalanan menggunakan sepeda yang kami kayuh bersama bagai langkah seribu yang berjalan beriringan menuju kebahagiaan. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit dari rumah tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, kami menikmati pemandangan kota yang asri dan penduduk yang ramah menyapa satu sama lain bagai keluarga besar yang hidup rukun dan damai di bawah naungan kasih sayang Tuhan.

Sesampainya di dalam taman, hamparan rumput hijau yang lembut dan bunga-bunga yang bermekaran berwarna-warni bagai permata berwarna-warni yang tersebar di atas permadani hijau yang luas. Udara yang segar dan bersih bagai napas baru yang menyegarkan paru-paru, langsung menyambut kami seketika menghapus rasa lelah yang menyelimuti tubuh selama perjalanan tadi.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang dan bunga-bunga yang harum wanginya bagai wewangian surga yang menyebar ke segenap penjuru taman. Di tengah taman terdapat kolam yang airnya jernih bagai kaca bening, tempat ikan-ikan berenang riang bagai anak-anak yang bermain tanpa beban di tengah halaman rumah yang luas dan indah.

Kami juga duduk beristirahat di bawah naungan pohon-pohon besar yang rindang bagai berada di bawah pelukan kasih sayang yang hangat dan meneduhkan. Angin berhembus lembut membelai wajah dan dedaunan yang berbisik lemah bagai orang tua yang menceritakan kisah-kisah indah tentang kehidupan yang sederhana namun penuh makna di tengah keindahan alam yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan taman yang masih tampak hijau dan indah bagai lukisan yang tak akan pudar dimakan waktu. Meski tubuh terasa sedikit lelah karena berjalan dan bermain, namun jiwa terasa segar kembali bagai disiram air jernih yang mengalir dari mata air murni yang menyejukkan segenap raga dan menyegarkan pikiran yang penat.

Taman Kota Pekanbaru adalah oase hijau yang menyejukkan jiwa dan raga di tengah hiruk pikuk kehidupan kota yang sibuk. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh dan alas duduk agar dapat beristirahat dengan nyaman, serta jangan lupa membawa air minum dan makanan ringan agar perjalanan menjadi lebih menyenangkan dan penuh kebahagiaan.

9. Laporan Perjalanan ke Pusat Perdagangan Riau, Pekanbaru
Judul: Menyusuri Jalan Perdagangan yang Penuh Kehidupan

Pada awal bulan November, aku bersama Ibu berangkat menuju pusat perdagangan dan pasar tradisional di Pekanbaru untuk berbelanja sekaligus menikmati suasana kehidupan masyarakat yang sibuk namun penuh dengan keramahan dan kehangatan. Perjalanan ini kami lakukan untuk melihat langsung kesibukan dan kemakmuran tanah Riau yang menjadi gerbang perdagangan dan persilangan budaya yang tumbuh subur bagai pohon yang berbuah lebat di tanah yang subur dan diberkahi.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang ramai bagai aliran sungai yang terus bergerak membawa kehidupan ke segenap penjuru. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh lima menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, kami menyaksikan deretan toko dan gedung yang berdiri rapi bagai barisan prajurit yang menjaga ketertiban dan kemakmuran kota yang terus berkembang pesat bagai pohon yang tumbuh menjulang tinggi ke angkasa.

Sesampainya di kawasan pusat perdagangan, suasana yang ramai dan hangat langsung menyambut kedatangan kami bagai pelukan kerabat lama yang lama tak berjumpa. Beragam jenis barang dagangan tersusun rapi dan dipajang dengan indah bagai permata berwarna-warni yang tersimpan di dalam peti berharga, menawarkan beragam kebutuhan dan keindahan yang dibutuhkan oleh setiap orang yang datang berkunjung dengan hati yang gembira.

Kami berkeliling memilih barang yang dibutuhkan sambil berbincang dengan para penjual yang ramah dan murah senyum bagai matahari pagi yang bersinar lembut menyapa bumi yang baru saja dibasuh air hujan. Suara tawar-menawar yang terdengar di mana-mana bagai irama kehidupan yang merdu dan penuh semangat, menunjukkan betapa giat dan uletnya masyarakat Pekanbaru dalam berusaha dan mencari nafkah yang halal dan berkah.

Kami juga mencicipi beragam kuliner khas yang dijual di sepanjang jalan yang wanginya tercium hingga ke kejauhan bagai aroma surga yang menggugah selera. Makanan dan minuman khas yang rasanya lezat dan beragam bagai anugerah yang diberikan Tuhan kepada tanah Riau yang subur dan makmur, membuat hati yang lapar dan lelah menjadi gembira dan segar kembali seketika.

Menjelang siang, kami pulang membawa bekal belanjaan yang penuh dan hati yang gembira bagai orang yang baru saja pulang dari pesta yang penuh dengan kebahagiaan dan kelimpahan. Langkah kaki terasa ringan meski membawa beban yang cukup berat, karena hati terasa penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur atas kemakmuran dan keramahan yang kami temui di sepanjang perjalanan.

Pusat perdagangan Pekanbaru adalah cermin kehidupan yang sibuk namun penuh dengan kehangatan dan keramahan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar tidak terlalu panas dan ramai, serta jaga keselamatan barang bawaan dan dompetmu di tengah keramaian bagai menjaga biji mata agar tetap aman dan bersinar terang di siang hari yang terik.

10. Laporan Perjalanan ke Taman Rekreasi Kampung Melayu, Pekanbaru
Judul: Menikmati Suasana Melayu yang Asri di Taman Rekreasi Kampung Melayu

Pada hari libur akhir bulan November, aku bersama keluargaku berangkat menuju Taman Rekreasi Kampung Melayu yang menjadi tempat wisata yang asri dan penuh dengan nuansa budaya Melayu di Pekanbaru. Perjalanan ini kami lakukan untuk melepas penat sekaligus menikmati suasana kehidupan masyarakat Melayu yang sederhana namun penuh dengan kehangatan, keramahan, dan keindahan yang mencerminkan kemuliaan budi pekerti yang luhur.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan biaya tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang. Di sepanjang jalan menuju lokasi, suasana yang asri dan penuh dengan nuansa bangunan berarsitektur Melayu bagai menyambut kedatangan kami dengan penuh keramahan dan kehangatan yang menyejukkan hati.

Sesampainya di dalam kawasan taman, bangunan-bangunan tradisional dan ornamen khas Melayu tampak berdiri rapi bagai saksi bisu kehidupan nenek moyang yang sederhana namun penuh kebijaksanaan. Pepohonan rindang dan bunga-bunga yang bermekaran di sekeliling taman bagai hiasan indah yang melengkapi keindahan tempat ini, menciptakan suasana yang sejuk dan damai bagai berada di dalam pelukan kasih sayang yang hangat dan meneduhkan jiwa.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi taman yang indah dan asri bagai berjalan di dalam taman surga yang penuh dengan keindahan dan ketenangan. Di tepian kolam dan sungai buatan yang mengalir tenang, air yang jernih bagai kaca bening memantulkan bayangan bangunan dan pepohonan yang hijau, menciptakan pemandangan yang bagai lukisan alam yang tak tertandingi keindahannya.

Kami juga beristirahat menikmati udara segar dan suasana tenang sambil mendengarkan alunan musik tradisional yang terdengar merdu bagai irama kasih sayang yang mengalir lembut ke dalam hati. Suasana yang damai dan penuh kehangatan membuat segala lelah perjalanan perlahan hilang seketika, membuat hati yang penat menjadi tenang dan bahagia bagai anak kecil yang bermain riang di pelukan kasih sayang orang tuanya.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan, kami berpamitan meninggalkan taman yang masih tampak indah dan asri bagai lukisan yang tak akan pudar dimakan waktu. Kami pulang membawa kenangan indah dan kesan mendalam yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta berharga yang tak akan pudar dimakan waktu dan tak akan hilang dimakan zaman yang terus berjalan.

Taman Rekreasi Kampung Melayu sungguh menjadi tempat yang menyejukkan jiwa dan mengingatkan kita akan keindahan budaya nenek moyang. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah kamera untuk mengabadikan keindahan bangunan dan suasana yang penuh nuansa Melayu, serta datanglah menjelang sore agar dapat menikmati udara yang sejuk dan pemandangan matahari terbenam yang memukau hati.

Demikian 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Riau - Pekanbaru dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.