TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Jambi dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .
Baca juga: 10 Contoh Laporan Perjalanan ke Kepulauan Riau Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora
Bab 6 Satu Titik
Soal :
Bahas Bahasa
Majas Metafora
Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.
Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “AnakAnak Merapi”.
1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan
2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih
3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat
4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar
5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih
Menulis
Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana
Laporan Perjalanan
Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.
Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi atau karangan. Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi atau karangan. Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.
Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.
Judul :
Awal (1 paragraf)
Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).
Tengah (2—3 paragraf)
Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.
Akhir (1 paragraf)
Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”
Kunci jawaban :
Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Jambi dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora :
1. Laporan Perjalanan ke Candi Muaro Jambi
Judul: Menyusuri Jejak Peradaban yang Terukir di Tanah Melayu
Pada awal bulan Juni, saat embun masih membasahi dedaunan dan udara terasa sejuk menyapa bumi, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Kompleks Candi Muaro Jambi, saksi bisu kejayaan masa lampau yang berdiri tenang di tepi Sungai Batanghari. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi libur sekolah sekaligus menyaksikan langsung peninggalan peradaban kuno yang namanya terukir bagai emas di lembaran sejarah tanah Jambi.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi yang melaju tenang menyusuri jalan berkelok bagai aliran sungai yang terus mengalir menuju tujuannya. Perjalanan dari pusat kota Jambi memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan suasana yang asri dan sejuk. Di sepanjang jalan, hamparan sawah dan pepohonan hijau berjejer rapi bagai barisan prajurit yang menyambut kedatangan kami dengan sejuk yang meneduhkan jiwa dan raga.
Sesampainya di lokasi, reruntuhan bangunan suci yang terbuat dari batu bata tampak berdiri kokoh meski diterjang ratusan tahun waktu. Candi-candi itu tampak bagai raksasa yang beristirahat dengan tenang di pelukan hutan hijau, seakan berbisik menceritakan kemegahan kerajaan yang pernah bertahta di tanah ini bagai matahari yang bersinar terang di atas langit yang bersih tanpa noda.
Kami berjalan menyusuri lorong-lorong kuno yang dikelilingi pepohonan rindang dan semak hijau yang tumbuh subur bagai kasih sayang yang tak pernah putus. Setiap tumpukan batu bata yang tersusun rapi seakan menyimpan rahasia masa lampau yang mendalam bagai dasar samudera, membuat kami berdiri terpaku memandang betapa tingginya peradaban yang pernah tumbuh dan berkembang di tanah yang diberkahi ini.
Dari tepian sungai yang mengalir tenang membelah kompleks candi, air yang jernih memantulkan bayangan pepohonan dan reruntuhan bangunan kuno bagai lukisan yang tergambar di atas permadani biru yang bergerak lembut. Angin berhembus sejuk membawa aroma tanah basah dan dedaunan, seakan mengajak kami merenungi perjalanan waktu yang terus berjalan bagai aliran sungai yang tak pernah kembali ke hulu.
Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan menyinari batu-batu kuno dengan cahaya keemasan, kami berpamitan meninggalkan tempat itu dengan hati yang penuh dan pikiran yang tenang. Langkah kaki terasa ringan namun hati terasa berat meninggalkan saksi bisu masa lalu yang bagai pelita yang menerangi jalan masa depan anak cucu yang mencintai tanah air.
Candi Muaro Jambi adalah jendela masa lalu yang mengajarkan kami betapa agungnya peradaban leluhur. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar udara masih sejuk dan pencahayaan mendukung pengamatan, serta kenakan alas kaki yang nyaman dan bawa air minum karena area yang luas memerlukan tenaga yang cukup untuk menjelajahinya.
2. Laporan Perjalanan ke Danau Sipin, Jambi
Judul: Permata Biru yang Menghiasi Jantung Kota Jambi
Pada pertengahan bulan Juli, aku dan kedua sahabatku melangkah beriringan menuju tepian Danau Sipin, danau cantik yang menjadi permata sekaligus penyejuk udara di tengah Kota Jambi. Perjalanan ini kami lakukan bukan sekadar untuk melepas penat, melainkan untuk menikmati keindahan air yang tenang dan jernih bagai cermin bening yang memantulkan keagungan langit biru dan pepohonan hijau di sekelilingnya.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota dengan biaya perjalanan sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, pemandangan kota yang asri dan tertata rapi bagai susunan manik-manik yang indah terus menyapa pandangan mata kami dengan penuh keramahan.
Sesampainya di tepian danau, hamparan air yang luas dan berwarna biru jernih tampak bagai cermin raksasa yang memantulkan bayangan langit dan pepohonan tanpa cela sedikit pun. Angin berhembus lembut menyapu permukaan air yang beriak tipis bagai kain sutra halus yang digerakkan tangan penuh kelembutan, menciptakan pemandangan yang bagai lukisan alam yang tak tertandingi keindahannya.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak di tepian danau yang tertata rapi dan asri bagai taman yang dibangun dengan penuh kasih sayang. Pepohonan rindang dan bunga-bunga yang bermekaran di tepian air bagai hiasan indah yang melengkapi keindahan permata biru ini, membuat siapa saja yang berkunjung merasa tenang dan bahagia bagai berada di tempat yang penuh berkah dan kedamaian.
Kami juga menaiki perahu kecil yang bergerak perlahan membelah air yang tenang bagai pisau yang membelah kain sutra halus. Dari tengah danau, pemandangan tepian yang hijau dan asri tampak semakin indah bagai pelukan hangat yang melindungi ketenangan danau dari gangguan dunia luar yang sibuk dan bising. Hati terasa damai dan bahagia bagai anak kecil yang bermain riang di pelukan kasih sayang orang tuanya.
Menjelang matahari terbenam, langit berwarna jingga memantul di permukaan air yang berkilauan bagai hamparan emas yang tersebar di atas permadani biru yang luas. Kami pulang membawa kenangan indah yang tersimpan rapi di dalam dada bagai harta berharga yang tak akan pudar dimakan waktu dan tak akan hilang dimakan zaman yang terus berjalan.
Danau Sipin sungguh menjadi permata yang menyejukkan jiwa setiap yang memandangnya. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah menjelang sore agar dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang memukau, serta bawalah alas kaki yang nyaman dan air minum agar tetap segar saat berjalan menyusuri tepian danau yang panjang dan asri.
3. Laporan Perjalanan ke Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi
Judul: Menyusuri Hutan Hijau yang Menjadi Paru-Paru Dunia
Pada awal bulan Agustus, aku beserta keluarga besar berkunjung ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang luas di wilayah Jambi. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan alam yang masih asli dan alami, sekaligus menyaksikan langsung kekayaan hayati yang tumbuh subur bagai harta karun yang disimpan Tuhan di dalam hutan hijau yang rimbun dan luas tak bertepi.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju perlahan menanjak menyusuri jalan berkelok bagai ular yang melilit bukit hijau yang rimbun. Perjalanan dari pusat kota memakan waktu sekitar empat jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp30.000 per orang. Semakin mendekati kawasan, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni, menghapus rasa lelah seketika.
Sesampainya di kawasan hutan, hamparan pepohonan raksasa yang tumbuh berjejer rapi bagai prajurit perkasa yang menjaga kekayaan alam di dalamnya. Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan tampak bagai berkas-berkas emas yang menerangi jalan setapak, menciptakan suasana yang megah dan penuh keagungan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi tanaman hijau yang tumbuh subur dan beragam suara burung yang berkicau merdu bagai irama musik alam yang menenangkan jiwa. Di sela-sela pepohonan, aliran sungai yang airnya jernih dan dingin mengalir tenang bagai pita perak yang melilit lembut di tengah hamparan hijau yang luas, membasahi bumi dan menyuburkan kehidupan di dalam hutan yang asri ini.
Kami juga berhenti sejenak menikmati pemandangan bukit-bukit hijau yang berjejer rapi bagai ombak yang membeku menjadi hijau di kejauhan. Kabut tipis sesekali melayang di antara puncak bukit bagai kain sutra putih yang menutupi separuh wajah keindahan yang tampak semakin mempesona dan penuh dengan rahasia alam yang agung dan maha dahsyat.
Menjelang sore, kabut mulai turun menyelimuti kawasan hutan bagai selimut lembut yang menidurkan alam dalam damai. Kami berpamitan pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke dalam tulang bagai air yang meresap ke dalam tanah menyuburkan kehidupan, serta tekad untuk menjaga hutan ini tetap hijau bagai menjaga nyawa yang memberi kehidupan.
Taman Nasional Kerinci Seblat adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya bagi kita semua. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya kenakan pakaian tertutup dan alas kaki yang kuat serta anti selip, bawa air minum yang cukup dan jangan pernah meninggalkan sampah agar keindahan hutan ini tetap terjaga bagai permata yang bersih dan berharga sepanjang masa.
4. Laporan Perjalanan ke Masjid Agung Al-Falah, Jambi
Judul: Cahaya Iman yang Bersinar di Tepi Batanghari
Pada hari Jumat pertengahan bulan Agustus, aku bersama ayah berkunjung ke Masjid Agung Al-Falah yang berdiri megah dan indah di tepi Sungai Batanghari, Jambi. Perjalanan ini kami lakukan untuk melaksanakan ibadah sekaligus menyaksikan keindahan masjid yang menjadi lambang keimanan dan kemakmuran masyarakat Jambi yang hidup rukun dan bersatu bagai dahan-dahan pohon yang saling berpeluk menaungi ribuan makhluk hidup.
Kami menempuh perjalanan menggunakan taksi yang melaju tenang menyusuri jalan kota yang mulus bagai permadani yang terhampar rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp20.000. Di sepanjang jalan, suasana kota yang asri dan penuh kedamaian bagai menyambut kedatangan kami dengan keramahan yang hangat dan menyejukkan hati setiap yang melintas di jalannya.
Sesampainya di depan masjid, bangunan megah berwarna putih bersih tampak menjulang bagai awan yang bersinar terang di siang hari. Kubah-kubahnya yang melengkung indah bagai pelangi yang membentang di angkasa, memancarkan keagungan dan kemuliaan tempat ibadah yang menjadi rumah bagi setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kami melangkah masuk ke halaman masjid dengan hati yang tenang dan penuh rasa hormat bagai memasuki rumah Tuhan yang disucikan oleh berkah dan kasih sayang. Halaman yang luas dan bersih bagai lembaran putih yang terbentang luas, menyambut setiap langkah kaki yang datang membawa harapan dan doa yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam dan suci.
Di dalam ruang utama masjid, suasana yang sejuk dan damai langsung menyelimuti hati bagai berada di bawah naungan pohon rindang yang meneduhkan jiwa dan raga. Cahaya matahari yang menembus celah jendela tampak bagai berkas-berkas cahaya iman yang menerangi jalan kehidupan di tengah malam yang gelap gulita, membuat hati yang gelisah menjadi tenang dan damai bagai air danau yang tenang tanpa riak sedikit pun.
Setelah selesai beribadah dan berdoa sejenak, kami berpamitan meninggalkan masjid dengan hati yang penuh kedamaian bagai hati anak yang mendapat pelukan kasih sayang dari ibunya yang tulus. Cahaya iman yang terpancar dari masjid ini seakan ikut kami bawa pulang bagai lentera yang menyala terang menerangi jalan kehidupan yang kami tempuh setiap hari.
Masjid Agung Al-Falah adalah perpaduan sempurna antara keindahan seni dan kemuliaan iman yang menyejukkan jiwa. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah dengan hati yang tenang dan pakaian yang sopan sebagai tanda penghormatan terhadap rumah Tuhan yang mulia, serta bawalah air minum agar tetap segar dan nyaman sepanjang waktu beribadah dan berkeliling menikmati pemandangan sungai yang indah dari halaman masjid.
5. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Riam Mengkuda, Jambi
Judul: Tirai Perak yang Jatuh dari Pelukan Bukit Hijau
Pada awal bulan September, aku beserta teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Air Terjun Riam Mengkuda yang tersembunyi indah di kawasan hutan Jambi. Perjalanan ini kami lakukan sebagai bagian dari pembelajaran alam, untuk menyaksikan langsung keajaiban air terjun yang jatuh dari ketinggian bagai tirai perak yang turun dari langit menyapa bumi dengan penuh kelembutan dan kekuatan yang seimbang.
Kami menaiki bus sekolah yang melaju perlahan menanjak menyusuri jalan berkelok bagai unta yang berjalan tekun menuju tujuannya. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dari kota dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Semakin mendekati lokasi, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni, menghapus rasa lelah seketika.
Sesampainya di lokasi, suara gemuruh air terdengar semakin jelas memanggil-manggil kedatangan kami bagai irama musik alam yang merdu dan menenangkan jiwa. Saat air terjun itu tampak jelas di hadapan mata, aliran air yang jatuh berkelanjutan dari ketinggian bukit tampak bagai tirai putih yang berkilauan diterpa cahaya matahari, menciptakan pemandangan yang sungguh memukau dan penuh keagungan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Butiran air yang memercik jatuh ke kolam di bawahnya bagai butiran berlian yang bertebaran indah memantulkan cahaya. Kabut tipis sesekali menyelimuti kawasan air terjun bagai kain sutra putih yang menutupi separuh wajah keindahan yang tampak semakin mempesona dan penuh dengan rahasia alam yang agung dan maha dahsyat.
Kami berdiri terpaku memandang keagungan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa, menyadari betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran dan kemuliaan Yang Maha Pencipta yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna. Air yang mengalir jernih dan dingin bagai pelukan kasih sayang yang menyejukkan jiwa dan raga, membuat segala lelah perjalanan perlahan hilang seketika.
Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan air terjun yang masih tampak megah meski kabut mulai menutupi keindahannya. Kami pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke dalam tulang bagai air yang meresap ke dalam tanah menyuburkan kehidupan yang tumbuh subur di atas bumi yang diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Air Terjun Riam Mengkuda adalah keajaiban alam yang sungguh luar biasa dan mengajarkan kami kekuatan serta keindahan yang lahir dari kesabaran. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah jaket tebal karena udara di kawasan ini terasa dingin dan sejuk, serta kenakan alas kaki yang tidak licin dan berhati-hatilah saat berjalan di tepian kolam yang basah dan berbatu tajam.
6. Laporan Perjalanan ke Taman Kota Jambi
Judul: Oase Hijau yang Menyejukkan Hati di Tengah Kota
Pada hari libur pertengahan bulan September, aku bersama adik dan sepupu-sepupu berangkat menuju Taman Kota Jambi yang menjadi tempat rekreasi dan penyejuk udara di tengah hiruk pikuk kota. Perjalanan ini kami lakukan untuk melepas penat setelah sibuk dengan kegiatan sehari-hari, sekaligus menikmati kesegaran alam yang bagai ramuan penyembuh bagi jiwa yang lelah dan pikiran yang penat.
Kami menempuh perjalanan menggunakan sepeda yang kami kayuh bersama bagai langkah seribu yang berjalan beriringan menuju kebahagiaan. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari rumah tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, kami menikmati pemandangan kota yang asri dan penduduk yang ramah menyapa satu sama lain bagai keluarga besar yang hidup rukun di bawah naungan kasih sayang Tuhan.
Sesampainya di dalam taman, hamparan rumput hijau yang lembut dan bunga-bunga yang bermekaran berwarna-warni bagai permata berwarna-warni yang tersebar di atas permadani hijau yang luas. Udara yang segar dan bersih bagai napas baru yang menyegarkan paru-paru, langsung menyambut kami seketika menghapus rasa lelah yang menyelimuti tubuh selama perjalanan tadi.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang dan kolam air yang jernih bagai kaca bening tanpa cela. Di kolam, ikan-ikan berenang riang bagai anak-anak yang bermain tanpa beban di tengah halaman rumah yang luas dan indah. Angin berhembus lembut membelai dedaunan yang berbisik lemah bagai orang tua yang menceritakan kisah-kisah indah tentang kehidupan yang sederhana namun penuh makna.
Kami juga duduk beristirahat di bawah naungan pohon-pohon besar yang rindang bagai berada di bawah pelukan kasih sayang yang hangat dan meneduhkan. Sambil menikmati bekal makanan yang dibawa dari rumah, kami tertawa dan berbincang dengan gembira bagai kawanan burung yang berkicau riang di dahan pohon yang rindang, melupakan sejenak segala beban dan kesibukan yang menanti.
Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan taman yang masih tampak hijau dan indah bagai lukisan yang tak akan pudar dimakan waktu. Meski tubuh terasa sedikit lelah karena berjalan dan bermain, namun jiwa terasa segar kembali bagai disiram air jernih yang mengalir dari mata air murni yang menyejukkan segenap raga dan menyegarkan pikiran yang penat.
Taman Kota Jambi adalah oase hijau yang menyejukkan jiwa dan raga di tengah hiruk pikuk kehidupan kota yang sibuk. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh dan alas duduk agar dapat beristirahat dengan nyaman, serta jangan lupa membawa air minum dan menjaga kebersihan agar taman ini tetap indah bagai surga kecil yang bersih dan asri.
7. Laporan Perjalanan ke Pasar Tradisional Jambi
Judul: Jejak Kehidupan yang Penuh Warna dan Semangat
Pada awal bulan Oktober, aku bersama Ibu berangkat menuju Pasar Tradisional Jambi yang menjadi pusat kehidupan dan perdagangan masyarakat setempat. Perjalanan ini kami lakukan untuk berbelanja sekaligus menyaksikan langsung semangat dan keramahan masyarakat yang hidup dari hasil sungai dan bumi yang subur bagai berkah Tuhan yang terus mengalir tanpa henti kepada hamba-Nya yang bersyukur.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang ramai bagai aliran sungai yang terus bergerak membawa kehidupan ke segenap penjuru. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh lima menit dengan biaya perjalanan sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, kami menyaksikan kesibukan penduduk yang beraktivitas dengan penuh semangat bagai ombak yang tak pernah berhenti menyapu tepian sepanjang masa.
Sesampainya di pasar, suasana yang ramai dan hangat langsung menyambut kedatangan kami bagai pelukan kerabat lama yang lama tak berjumpa. Aroma ikan segar dari Sungai Batanghari, rempah-rempah, dan buah-buahan yang harum wanginya menyatu menjadi satu aroma khas yang menggambarkan kemakmuran tanah ini bagai berkah yang turun dari langit dan tumbuh subur di bumi yang diberkahi.
Di setiap lorong pasar, beragam jenis ikan segar yang berkilauan bagai perak yang baru saja diambil dari dasar sungai, buah-buahan yang manis dan segar bagai madu yang dicampur air jernih, serta sayuran yang hijau dan sehat bagai permata berwarna-warni yang dipajang dengan penuh keramahan. Penjual yang ramah menyapa pembeli dengan senyum tulus bagai matahari pagi yang bersinar lembut menyapa bumi yang baru saja dibasuh air hujan.
Kami berkeliling memilih barang yang dibutuhkan sambil berbincang dengan para penjual yang murah senyum dan jujur dalam berdagang. Suara tawar-menawar yang terdengar di mana-mana bagai irama kehidupan yang merdu dan penuh semangat, menunjukkan betapa giat dan uletnya masyarakat Jambi dalam mencari nafkah yang halal dan berkah bagi keluarga tercinta.
Menjelang siang, kami pulang membawa bekal belanjaan yang penuh dan hati yang gembira bagai orang yang baru saja pulang dari pesta yang penuh dengan kebahagiaan dan kelimpahan. Langkah kaki terasa ringan meski membawa beban yang cukup berat, karena hati terasa penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur atas keramahan serta kemakmuran yang kami temui di sepanjang perjalanan.
Pasar Tradisional Jambi adalah cermin kehidupan masyarakat yang giat, jujur, dan penuh keramahan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah pagi hari agar mendapatkan ikan dan hasil bumi yang masih segar, serta jaga keselamatan barang bawaan dan dompetmu di tengah keramaian bagai menjaga biji mata agar tetap aman dan bersinar terang di siang hari yang terik.
8. Laporan Perjalanan ke Pulau Berlian, Jambi
Judul: Permata Kecil yang Terhampar di Tengah Batanghari
Pada pertengahan bulan Oktober, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pulau Berlian yang terletak tenang di tengah aliran Sungai Batanghari, Jambi. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati suasana yang tenang dan asri di tengah sungai terpanjang di Sumatera, sekaligus menyaksikan pemandangan tepian sungai yang indah bagai lukisan yang tergambar di atas permadani biru yang bergerak lembut sepanjang masa.
Kami menaiki perahu kecil yang bergerak membelah air sungai yang mengalir tenang bagai pita perak yang melilit lembut membelah daratan. Penyeberangan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari tepian dengan biaya sewa perahu sebesar Rp20.000 per orang. Di sepanjang perairan, angin berhembus sejuk membawa aroma tanah dan air sungai yang segar, menyapa wajah bagai sapuan kasih sayang yang lembut dan menyejukkan hati.
Sesampainya di pulau, suasana yang asri dan tenang langsung menyambut kami bagai pelukan hangat kerabat yang lama dirindukan. Pepohonan hijau yang tumbuh rimbun di sekeliling pulau bagai payung besar yang meneduhkan jiwa dan raga dari terik matahari, menciptakan suasana yang sejuk dan damai bagai berada di dalam taman surga yang kecil namun penuh keindahan.
Kami berjalan menyusuri tepian pulau yang dikelilingi air sungai yang jernih dan mengalir tenang bagai aliran kehidupan yang terus berjalan tanpa henti. Dari tepian pulau, pemandangan kedua sisi daratan yang berhadapan tampak indah bagai dua lembar kain hijau yang saling berpeluk dipisahkan oleh pita biru yang mengalir di tengahnya, menciptakan pemandangan yang menenangkan jiwa dan menyegarkan pikiran.
Kami juga duduk bersantai menikmati aliran sungai yang berdebur lembut bagai irama musik alam yang menenangkan hati. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus lembut, kami berbincang dan tertawa dengan gembira sambil memandang perahu-perahu yang melintas tenang di permukaan air bagai anak-anak yang berjalan pulang ke rumah dengan penuh damai.
Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam dan cahayanya memantul di permukaan air yang berkilauan bagai butiran berlian yang bertebaran di atas kain biru, kami menaiki perahu kembali menyeberang. Pulau kecil itu perlahan menjauh di belakang bagai permata yang dikembalikan ke peti harta karun sungai, membawa kenangan indah yang tak akan pudar dimakan waktu.
Pulau Berlian sungguh menjadi permata yang menyejukkan hati setiap yang berkunjung ke sana. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah menjelang sore agar dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang memantul di permukaan sungai dengan indah, serta berhati-hatilah saat menaiki dan menurunkan perahu karena tepian sungai terkadang licin dan berbahaya.
9. Laporan Perjalanan ke Benteng Kerajaan Jambi
Judul: Saksi Bisu yang Berdiri Tegak Menjaga Sungai Batanghari
Pada awal bulan November, aku bersama paman dan sepupu berangkat menuju situs Benteng Kerajaan Jambi yang berdiri kokoh di tepi Sungai Batanghari. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung sisa-sisa kejayaan kerajaan yang pernah bertahta di tanah ini, yang berdiri tegak bagai raksasa batu yang tak pernah goyah meski diterjang ombak dan waktu ratusan tahun lamanya.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian sungai yang berkelok indah bagai pita perak yang melilit lembut di tepi perairan. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari pusat kota dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, angin berhembus sejuk membawa aroma air sungai dan kisah-kisah lama yang terbawa angin dari kejauhan.
Sesampainya di lokasi, reruntuhan tembok dan fondasi bangunan tampak berdiri kokoh bagai saksi bisu yang tak pernah lelah bercerita tentang masa lampau yang penuh kejayaan. Setiap batu yang tersusun rapi seakan bercerita tentang keteguhan dan keberanian leluhur yang membangun benteng ini bagai membangun pertahanan yang tak akan pernah runtuh oleh waktu dan musuh.
Kami berjalan di atas fondasi tembok yang luas memandang ke arah sungai yang mengalir tenang bagai aliran sejarah yang terus berjalan tanpa henti. Dari atas bekas benteng, aliran Sungai Batanghari yang lebar dan indah tampak bagai pita perak yang membelah daratan menjadi dua, menyadarkan kami betapa pentingnya sungai ini bagi kehidupan dan kejayaan tanah Jambi sejak masa lampau.
Di sekeliling situs, pepohonan hijau yang tumbuh rimbun bagai pelukan kasih sayang yang menaungi peninggalan leluhur agar tetap terjaga dan lestari. Setiap sudut tempat ini seakan menyimpan kenangan masa lalu yang mendalam bagai dasar sungai yang luas dan dalam, mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga warisan leluhur bagai menjaga biji mata agar tetap bersinar terang menerangi jalan masa depan.
Menjelang matahari terbenam, bayangan reruntuhan tembok memanjang menjangkau kejauhan bagai tangan leluhur yang melambai memberi semangat kepada anak cucunya. Kami pulang membawa semangat baru dan rasa bangga yang mendalam bagai bendera yang berkibar gagah di tiang tinggi, berjanji akan meneruskan perjuangan menjaga tanah air dan warisan leluhur bagai benteng ini menjaga sungai dari dulu hingga kini.
Benteng Kerajaan Jambi adalah lambang kejayaan dan keteguhan leluhur yang patut kita teladani. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berhati-hatilah saat berjalan di atas reruntuhan tembok yang terkadang terjal dan licin, serta bawalah topi dan air minum karena area terbuka ini cukup hangat di siang hari dan tidak banyak tempat berteduh.
10. Laporan Perjalanan ke Kebun Raya Jambi
Judul: Hutan Pendidikan yang Menyimpan Ribuan Kekayaan Alam
Pada hari libur akhir bulan November, aku beserta teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Kebun Raya Jambi yang menjadi tempat pelestarian dan pembelajaran kekayaan tumbuhan alam Jambi. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat beragam jenis tanaman yang tumbuh subur di tanah ini bagai harta karun yang dititipkan Tuhan kepada kita untuk dijaga dan dimanfaatkan dengan penuh rasa syukur.
Kami menempuh perjalanan menggunakan bus sekolah yang melaju tenang menyusuri jalan yang asri dan hijau bagai berjalan di dalam hamparan permadani hijau yang luas. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit dari sekolah dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara semakin sejuk dan segar bagai air yang baru saja diambil dari mata air pegunungan yang jernih dan murni, menghapus rasa lelah seketika.
Sesampainya di dalam kawasan Kebun Raya, beragam jenis tanaman dari yang tinggi menjulang hingga yang menjalar di tanah tampak tumbuh subur dan tertata rapi bagai hiasan indah yang disusun dengan penuh kasih sayang. Setiap jenis tanaman memiliki keunikan dan keindahannya masing-masing bagai setiap anak yang memiliki bakat dan kelebihan yang berbeda-beda namun tetap berharga di mata Tuhan.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi tanaman hijau yang rimbun dan bunga-bunga yang bermekaran indah bagai berjalan di dalam taman surga yang penuh keindahan. Di sepanjang jalan, papan informasi yang tertulis rapi dan jelas bagai guru yang sabar mengajarkan kami tentang nama, sifat, dan manfaat setiap tanaman yang kami temui di sepanjang perjalanan.
Kami juga berhenti sejenak menikmati udara segar dan suasana tenang di tengah hamparan hijau yang luas. Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin dan kicauan burung yang berkicau merdu menyatu menjadi irama musik alam yang menenangkan jiwa, membuat hati yang gelisah menjadi tenang dan damai bagai air danau yang tenang tanpa riak sedikit pun.
Menjelang sore, kami berpamitan meninggalkan Kebun Raya dengan pikiran yang penuh dan hati yang gembira bagai orang yang baru saja menemukan harta karun berharga peninggalan alam. Kami pulang membawa pengetahuan baru dan tekad untuk senantiasa menjaga kelestarian alam bagai menjaga nyawa sendiri, karena alam adalah sumber kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita semua.
Kebun Raya Jambi adalah jendela kekayaan alam yang mengajarkan kita arti menjaga dan melestarikan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawalah buku catatan dan pulpen untuk mencatat informasi berharga, kenakan alas kaki yang nyaman dan pakaian yang menyerap keringat, serta jangan lupa membawa air minum agar tetap segar dan bertenaga sepanjang menjelajahi kekayaan alam yang luar biasa ini.
Demikian 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Jambi dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )