Trenggiling dan Ular Sering Ditemukan Mati Saat Karhutla di Ketapang
Maudy Asri Gita Utami August 20, 2026 07:28 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tidak hanya menimbulkan ancaman terhadap lingkungan dan kualitas udara, tetapi juga membawa dampak serius bagi keberlangsungan satwa liar yang hidup di sekitar kawasan terdampak.

Salah satu bukti dampak karhutla terhadap satwa liar ditemukan tim Manggala Agni saat melakukan penanganan kebakaran di wilayah Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

Seekor trenggiling ditemukan dalam kondisi sudah mati di sekitar lokasi karhutla yang berada tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, pada Rabu 19 Agustus 2026. 

Trenggiling tersebut ditemukan ketika personel Manggala Agni berada di lapangan untuk melakukan upaya pemadaman dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, membenarkan adanya temuan satwa liar tersebut.

Menurut Efendi, trenggiling itu ditemukan oleh salah satu anggota tim ketika sedang menjalankan tugas di lokasi karhutla.

"Iya betul kejadian tersebut, satwa tersebut ditemukan oleh salah satu tim kami di lokasi karhutla kemarin," kata Efendi saat dikonfirmasi, Kamis 20 Agustus 2026. 

• Antrean SPBU Kapuas Hulu Dipadati Kendaraan Tangki Modifikasi, Polisi Tindak Penggendara

Ular Jadi Satwa yang Sering Ditemukan Mati

Efendi mengungkapkan, trenggiling bukan satu-satunya satwa yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ketapang.

Berdasarkan temuan tim di lapangan, ular justru menjadi salah satu jenis satwa yang paling sering ditemukan dalam kondisi mati di kawasan yang terbakar.

"Sejauh ini hewan atau satwa yang sering ditemukan dalam kondisi mati akibat kebakaran hutan itu ular," ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kobaran api yang meluas di kawasan hutan dan lahan tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga dapat membahayakan satwa yang berada di dalam maupun di sekitar area terdampak.

Satwa yang memiliki habitat di kawasan hutan dan lahan berisiko kehilangan tempat berlindung serta sumber makanan ketika kebakaran terjadi. Tidak semua satwa juga mampu menyelamatkan diri dengan cepat ketika api menjalar dan asap semakin pekat.

Orangutan dan Beruang Belum Ditemukan Jadi Korban

Meski telah menemukan sejumlah satwa terdampak karhutla, Manggala Agni Daops Kalimantan X/Ketapang hingga kini belum menemukan orangutan maupun beruang yang menjadi korban langsung kebakaran.

Efendi menjelaskan, kedua satwa tersebut memiliki kemampuan dan insting yang dinilai lebih kuat dalam merespons ancaman kebakaran.

Menurutnya, orangutan maupun beruang biasanya dapat mendeteksi keberadaan api dari jarak tertentu sehingga memiliki kesempatan untuk bergerak menjauh dari kawasan yang terbakar.

"Kalau untuk orangutan atau beruang sejauh ini kami belum menemukan, karena biasanya hewan tersebut instingnya lebih kuat. Ketika mereka mendengar suara api dari kejauhan, mereka akan cepat menjauh dan pergi," jelas Efendi.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti satwa-satwa tersebut sepenuhnya terbebas dari dampak karhutla. Kebakaran yang berulang dan meluas tetap dapat mengganggu habitat, sumber makanan, serta jalur pergerakan satwa liar.

• Kecelakaan di Pontianak! 3 Pelajar Tewas Dilindas Truk Kontainer, DPRD Minta Polisi dan Dishub Tegas

Trenggiling Ditemukan Dekat Jalan Poros Tanjung Pura

Koordinator Pencegahan dan Inovasi Manggala Agni Daops Kalimantan X/Ketapang, Fitria Sri Handayani, mengatakan lokasi penemuan trenggiling berada tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura.

"Penemuan trenggiling itu kemarin, tidak jauh dari Jalan Poros Tanjung Pura, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan," kata Fitria.

Ia menambahkan, selama melakukan penanganan karhutla di lapangan, tim Manggala Agni tidak hanya menemukan satwa seperti trenggiling dan ular.

Petugas juga beberapa kali menemukan sarang lebah di sekitar kawasan yang terdampak kebakaran.

"Sejauh ini paling trenggiling, ular, sama sarang-sarang lebah saja yang sering ketemu di lapangan," jelasnya.

Temuan trenggiling mati di lokasi karhutla menjadi salah satu gambaran nyata mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap ekosistem. 

Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, mengganggu aktivitas masyarakat, dan menurunkan kualitas udara, tetapi juga dapat mengancam keberadaan satwa liar yang bergantung pada kawasan hutan sebagai habitatnya.

Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan karhutla menjadi penting untuk melindungi lingkungan sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem dan satwa liar di Kabupaten Ketapang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.