Indonesia Marak Ditimpa Bencana, Ini Pesan Anies Baswedan ke Pemerintah
Desy Selviany August 20, 2026 08:32 PM

WARTAKOTALIVE.COM-Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai sederet bencana yang menimpa Indonesia bukan hanya sekedar cobaan dari Tuhan. 

Anies menilai bencana kebakaran hutan hingga gempabumi yang merusak adalah kegagalan pemerintah mencegah sejumlah bencana tersebut hingga meminimalisir korban jiwa. 

Kritik itu disampaikan Anies di akun X miliknya pada Kamis (20/8/2026). 

Anies menyinggung kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masif terjadi di Kalimantan sebulan ini. 

Kebakaran tersebut hingga mengancam anak-anak, Lansia, hingga pekerja lapangan. 

Bahkan kebakaran hutan dan lahan ini mengancam pendidikan anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena tebalnya kabut asap.

Anies kemudian menyinggung soal bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Anies menilai hingga saat ini warga NTT masih harus menghadapi kecemasan akan gempa susulan yang terus terjadi.

Hal ini membuat mereka membutuhkan kepastian bantuan dan perlindungan dari pemerintah. 

“Teman-teman, hari-hari ini Indonesia sedang menghadapi dua ujian besar. Di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan terus meluas. Asap mengganggu pernapasan, menghambat aktivitas warga, mengancam anak-anak, lansia, para pekerja lapangan, juga mengganggu sekolah dan transportasi,”

“Nah, di Nusa Tenggara Timur, saudara-saudara kita masih terus menghadapi gempa susulan. Banyak keluarga hidup dalam kecemasan. Mereka membutuhkan kepastian, perlindungan, tempat yang aman, layanan kesehatan, logistik, dan juga pendampingan,” kata Anies. 

Dari dua bencana ini kata Anies, warga tidak boleh melihat penderitaan rakyat saja. 

Pasalnya gempa dan kekeringan selain gejala alam namun masih bisa dicegah dengan koordinasi pemerintah yang rapi.

Seharusnya kata Anies, warga tidak boleh berjalan sendirian dalam menghadapi risiko bencana tersebut. 

“Nah, kita tidak boleh melihat penderitaan ini sebagai biasa saja. Gempa dan kekeringan, ya adalah gejala alam. Tapi gejala alam bisa berubah menjadi bencana besar ketika kesiapan lemah, koordinasi belum rapi, informasi tidak sampai, dan warga dibiarkan menghadapi risiko sendirian,” paparnya.

Baca juga: NTT Kembali Diguncang Gempa Besar 6,0 MW, Ini Kata Pakar

Terlebih untuk kebakaran, kasus tersebut seharusnya bisa lebih bisa dimitigasi oleh pemerintah lantaran kerap terjadi di musim kemarau panjang.

Sehingga pemerintah harusnya sudah waspada jauh hari saat prediksi Super El Nino diumumkan para peneliti.

“Kebakaran pun demikian. Api yang sering berulang setiap musim kemarau tidak boleh dianggap sebagai rutinitas. Kita sudah tahu kawasan rawan, arah angin, risiko asap, kerentanan gambut, dan dampaknya bagi kesehatan warga. Nah, kita sudah tahu juga sebelumnya bahwa akan ada Super El Niño yang bisa memperbesar risiko kebakaran,” paparnya.

Mantan rival Presiden RI Prabowo Subianto di Pilpres 2024 itu juga meminta pemerintah harus lebih cepat dalam menangani bencana. 

Khususnya untuk mencegah asap-asap Karhutla masuk ke rumah-rumah warga.

Pemerintah Pusat harus bisa koordinasi dengan pemerintah daerah, perawat, dan tenaga kesehatan hingga media.

Semua lini tersebut kata Anies harus bekerja dalam satu irama.

“Karena itu, respons harus cepat. Pencegahan harus dilakukan sebelum asap memasuki rumah-rumah warga. Nah, yang diperlukan saat ini adalah penanganan yang lebih intensif dan terkoordinasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, tenaga kesehatan, relawan, dunia usaha, kampus, organisasi kemasyarakatan, media, semua harus bekerja dalam satu irama,” pesannya.

Pemerintah juga harus bisa terbuka soal data dan informasi kelanjutan dari penanganan bencana. 

Di NTT misalnya, koordinasi juga harus diperkuat. Gempa susulan yang masih terjadi harus bisa membuat pemerintah bekerja cepat dalam mengevakuasi warga keluar rumah dan membangun Posko pengungsian yang layak selama beberapa pekan.

“Datanya harus terbuka, bantuannya harus sampai, informasi risiko harus jelas, dan prioritas harus diberikan kepada warga yang paling terdampak,”

“Nah, untuk NTT, koordinasi penanganan perlu segera diperkuat. Gempa susulan itu berarti rasa aman warga belum pulih. Jangan biarkan keluarga yang mengungsi harus mencari informasi sendiri, layanan kesehatan, air bersih, pangan, dan tempat berlindung, semuanya serba sendiri,” kata Anies.

Kemudian untuk Kalimantan, kata Anies, pemadaman harus dipercepat. 

Perlindungan kesehatan harus diperluas, dan penyebab kebakaran harus ditangani dengan tegas serta adil. 

Anies mengingatkan bahwa hutan, gambut, dan udara bersih adalah milik seluruh rakyat Indonesia. 

Warga sekitar hutan tidak boleh terus-menerus menanggung beban dari kerusakan ini.

“Kepada media, mari kita beri perhatian yang sepadan dengan besarnya krisis ini. Kepada masyarakat, yuk mari kita bantu dengan kemampuan kita masing-masing. Sebarkan informasi yang benar, dukung lembaga kemanusiaan yang bekerja di lapangan, dan jaga kepedulian antar saudara-saudara kita di Kalimantan dan NTT supaya mereka tidak merasa berjuang sendirian,” pesan Anies. 

Anies berharap warga yang ditimpa bencana tidak berpikir mereka sendirian di negara ini maka semua lini harus hadir untuk para korban.

“Mari hadir, mari bergerak, mari pastikan tidak ada warga yang dibiarkan menghadapi bencananya sendirian,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.