WARTAKOTALIVE.COM - Viral sejumlah Ibu-ibu disebut naik haji melalui lewat jalur goa di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dari video yang viral, serombongan Ibu-ibu dipandu oleh seorang pria di dalam goa.
Sambil melantunkan doa-doa, Ibu-ibu tersebut keliling goa seperti layaknya ziarah di Mekkah atau Madinah.
Bahkan pemandu menyebut, air di goa itu setara air zam-zam lantaran pernah disentuh para wali.
Dimuat Sripoku, Goa Safarwadi di Pamijahan Tasikmalaya memang sudah dikenal sebagai tempat ziarah di Jawa Barat.
Bahkan isu yang beredar, Goa tersebut bisa membuat seseorang tembus ke Mekkah.
Goa Safarwadi ini juga kerap dikenal dengan sebutan Goa Pamijahan.
Goa Pamijahan sendiri berada di kaki Gunung Mujarod, nama Gunung Mujarod sendiri diambil dari aktifitas Syekh H Abdul Qadir Djaelani yang berarti tempat penenangan.
Dilansir dari NU Jabar, Goa Safarwadi merupakan tapak tilas Syekh H Abdul Qadir Djaelani yang menerima ijazah ilmu agama dari Imam Sanusi sang guru.
Syekh H Abdul Qadir Djaelani kerap mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allahh SWT.
Sebagian masyarakat juga menyebut gunung tersebut dengan nama Gunung Mujarob atau yang dalam bahasa Arab memiliki arti "gunung tempat mencoba".
Diketahui asal mula ditemukannya goa di kaki gunung tersebut, bermula ketika Syekh H Abdul Qadir Djaelani mencoba melaksanakan petunjuk dan perintah dari gurunya dengan menanam padi sebagai ciri adanya goa.
Syekh H. ‘Abdul Muhyi melakukan beberapa kali percobaan dan berhasil menanam sesuai benih padi yang ditanam di Goa Pamijahan.
Sementara itu, kepercayaan masyarakat sekitar mengenai Goa Pamijahan yang bisa menghubungkan ke tanah suci adalah dengan adanya sebuah peci.
Masyarakat sekitar percaya bahwa peci yang tersimpan di goa ini akan membawa seseorang ke tanah suci jika kepala pengunjung pas dengan peci tersebut.
Baca juga: Dilanda Hujan Salju Sepekan, Begini Kondisi Lanny Jaya Papua Pegunungan
Goa Pamijahan sendiri memiliki sumber mata air yang jernih yang biasa disebut dengagn air zam-zam Pamijahan dan air kekayaan yang kerap dibawa pulang oleh para pengunjung.
Dilansir dari Kompas.com Selasa (11/2/25), Goa Pamijahan memiliki fungsi yang berbeda antara masa Syekh H. Abdul Qadir Zaelani hingga masa Syekh H. ‘Abdul Muhyi Waliyullah.
Selama masa Syekh H. Abdul Qadir Zaelani hingga masa Syekh H. ‘Abdul Muhyi, Gua Pamijahan dipercaya sebagai tempat pertemuan para wali.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya jalan yang menghubungkan lorong goa dengan Banten, Cirebon, Surabaya, hingga Mekkah.
Goa Pamijahan juga dijadikan tempat beribadat para wali, yang dibuktikan dengan adanya “masjid dan menara” di dalam goa
Selain itu, peninggalan Syekh H. Abdul Qadir Zaelani ini juga dijadikan tempat kaderisasi dalam mengembangkan dan menyebarluaskan agama Islam ke seluruh penjuru tanah air, dibuktikan dengan adanya tempat pendidikan berupa perpustakaan di dalam goa.
Terakhir, Goa Pamijahan berfungsi sebagai tempat Tajrid dan Taqarrub (menyirnakan dan mendekatkan diri) kepada Allah, dibuktikan dengan adanya tempat bersemedi di dalamnya.
Usai masa setelah Syekh H. ‘Abdul Muhyi hingga sekarang, Goa Pamijahan memiliki fungsi berbeda dibandingkan masa Syekh H. Abdul Qadir Zaelani.
Goa Pamijahan difungsikan sebagai tempat mengenang kembali perjuangan wali-wali (Auliya) yang dengan tulus menyebarluaskan agama Islam.
Goa ini juga digunakan sebagai salah satu tempat untuk mendekatkan diri pada Allah.
Sampai saat ini, mata air yang di Goa Pamijahan bisa menghasilkan "air zam-zam Pamijahan" dan dibawa pulang oleh para pengunjung.
(Wartakotalive.com/DES/Sripoku)