TRIBUN-SULBAR.COM - Dosen PGPAUD Universitas Terbuka Dr. St. Maria Ulfah mengatakan, pelatihan pembuatan alat musik dari bahan daur ulang di Desa Bonde, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat memiliki relevansi strategis dalam beberapa aspek.
Pertama, penguatan kapasitas pendidik, yakni dengan memberikan keterampilan nyata kepada guru untuk menciptakan media pembelajaran secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada produk komersial, dan mendorong inovasi yang berkelanjutan.
Baca juga: Papan Peringatan Dipasang di Sungai Budong-budong Mateng Usai Siswa SMP Diterkam Buaya
Baca juga: Langkah Nyata UT Majene Lestarikan Budaya Pesisir Rawat Identitas Maritim Desa Bonde
Kedua, pendidikan lingkungan yang konkret, dengan memberikan pengalaman langsung kepada anak melalui proses kreatif yang menyenangkan, sehingga nilai-nilai lingkungan lebih mudah dipahami dan diinternalisasi.
"Ketiga, menghubungkan kreativitas seni, khususnya musik, dengan nilai-nilai kelestarian lingkungan dan kearifan lokal tentang pemanfaatan sumber daya secara bijak," ujar Maria Ulfah.
Selain itu, program ini berhasil mengubah pola pikir masyarakat yang sebelumnya menganggap barang bekas sebagai sesuatu yang kotor dan tidak bernilai, menjadi lebih melihat potensi edukatif dan ekonomis dari sampah anorganik.
Maria Ulfah menuturkan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dalam mengajar serta menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini.
Para peserta belajar membuat berbagai alat musik, seperti shaker, kastanyet, suling, dan drum, dengan memanfaatkan botol plastik, sendok, sedotan, serta kaleng biskuit bekas.
Program ini juga membagikan buku panduan agar manfaat kegiatan dapat berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap alat peraga komersial yang harganya relatif mahal.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Nasional yang diimplementasikan melalui pendekatan participatory action research. (*)