Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM -
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa ingin usia 81 tahun menjadi titik penting bagi Maluku untuk naik kelas.
Bukan lagi sekadar daerah penghasil bahan mentah, tetapi daerah yang mampu mengolah kekayaan sendiri menjadi nilai tambah.
Pesan itu disampaikan Hendrik dalam Sidang Paripurna DPRD Maluku memperingati HUT ke-81 Provinsi Maluku di Ambon, Rabu (19/8/2026).
Baca juga: HUT ke-81 Maluku, Gubernur Lewerissa Paparkan Ekonomi Tumbuh dan Kemiskinan Turun
Baca juga: Kabidkum Polda Maluku: Polri Tak Bela Debitur atau Leasing, Fokus Amankan Eksekusi Fidusia
Hendrik menyoroti sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai dapat mengubah wajah ekonomi Maluku, salah satunya pengembangan Blok Masela.
Groundbreaking pembangunan kilang gas alam Lapangan Abadi Wilayah Kerja Masela oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 16 Juli 2026 disebut menjadi momentum penting setelah proyek raksasa itu tertunda selama puluhan tahun.
Namun, bagi Hendrik, Masela bukan sekadar soal gas.
“Bagi Maluku, Masela bukan hanya tentang gas. Masela adalah tentang masa depan, investasi, lapangan kerja, tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru,” kata Hendrik.
Ia ingin keberadaan investasi besar tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat Maluku.
Bukan hanya nilai investasi yang masuk, tetapi juga pekerjaan, usaha baru dan pertumbuhan pusat-pusat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
Selain Masela, Pemprov Maluku terus mendorong pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub (MILH).
Menurut Hendrik, proyek tersebut mendapat dukungan pemerintah pusat, Bank Dunia dan sejumlah mitra pembangunan.
MILH diharapkan memperkuat konektivitas antarpulau, menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing komoditas serta membuka peluang investasi dan lapangan kerja.
Dari sektor infrastruktur, pembangunan Bendungan Way Apu di Kabupaten Buru juga terus dikebut.
Progres pembangunan bendungan proyek strategis nasional itu disebutkan telah mencapai 87,38 persen.
Bendungan di Pulau Buru itu diharapkan ikut mendukung pemenuhan kebutuhan beras lokal masyarakat Maluku dari Pulau Buru.
Hendrik juga menaruh perhatian pada hilirisasi komoditas unggulan.
Misalnya hilirisasi kelapa dan pala di Maluku Tengah telah memasuki tahap groundbreaking, dengan nilai investasi sekitar Rp500 miliar untuk kelapa dan Rp140 miliar untuk pala.
Sementara pengembangan ayam petelur terintegrasi di Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Buru mencapai Rp544 miliar.
Hendrik menegaskan arah pembangunan yang ingin didorong pemerintah adalah menciptakan nilai tambah di dalam daerah.
“Kita tidak ingin Maluku selamanya hanya menjual bahan mentah. Kita ingin Maluku menjadi daerah yang menghasilkan nilai tambah. Daerah tempat komoditas rakyat diolah, industri tumbuh, investasi berkembang, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan meningkat,” ujarnya.
Bagi Hendrik, proyek-proyek tersebut harus menjadi bagian dari perubahan struktur ekonomi Maluku.
Kekayaan alam dan komoditas rakyat tidak cukup hanya dikirim keluar daerah.
Harus ada industri yang tumbuh, tenaga kerja lokal yang terserap dan masyarakat yang ikut menikmati manfaat ekonominya.
Itulah pekerjaan besar yang ingin didorong pemerintah saat Maluku memasuki usia 81 tahun.
“Penghormatan terbaik kepada para pendiri daerah ini, bukan hanya mengenang jasa mereka, melainkan melanjutkan cita-cita yang mereka wariskan melalui kerja nyata bagi kesejahteraan rakyat,” ujarnya. (*)