Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Maluku telah memasuki usia ke-81 tahun, terhitung sejak Wilayah Maluku resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai salah satu dari 8 provinsi pertama sejak 19 Agustus 1945.
Di tengah berbagai persoalan yang masih harus dibenahi, Pemerintah Provinsi Maluku mencatat sejumlah indikator pembangunan bergerak ke arah positif.
Baca juga: Kabidkum Polda Maluku: Polri Tak Bela Debitur atau Leasing, Fokus Amankan Eksekusi Fidusia
Baca juga: PSDKU Universitas Pattimura di MBD Edukasi Remaja Kaiwatu Hadapi Kekerasan Verbal di Ruang Siber
Hal itu disampaikan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dalam Sidang Paripurna DPRD Maluku dalam rangka HUT ke-81 Provinsi Maluku di Ambon, Rabu (19/8/2026).
Hendrik menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku pada semester I 2026 mencapai 5,24 persen, naik dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di angka 4,22 persen.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga meningkat.
Pada 2025, IPM Maluku mencapai 74,09 poin, dari sebelumnya 73,40 poin pada 2024.
Perbaikan juga terlihat pada angka kemiskinan.
Hendrik Lewerissa membeberkan angka kemiskinan Maluku turun dari 15,25 persen pada September 2025 menjadi 14,91 persen pada Maret 2026.
Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 6,11 persen pada November 2025 menjadi 5,75 persen pada Mei 2026.
Hendrik mengingatkan, angka-angka tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai statistik.
“Angka-angka ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi sebuah keluarga, penurunan kemiskinan berarti sebuah pintu harapan mulai terbuka. Bagi seorang anak muda, turunnya pengangguran berarti ada kesempatan untuk bekerja dan membangun masa depan,” kata Hendrik.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus dilihat dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena itu, Pemprov Maluku terus mendorong program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari pangan, rumah layak, pendidikan, kesehatan hingga ekonomi kerakyatan.
Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, telah menjangkau 254.872 penerima manfaat di 11 kabupaten/kota melalui 125 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Di sektor perumahan, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya meningkat dari 81 unit pada 2025 menjadi 6.880 unit pada 2026, dengan anggaran Rp137,6 miliar dan sasaran 34.400 jiwa.
Sementara di bidang ekonomi, telah terbentuk 1.235 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan 51 gerai telah dibangun.
Di sektor pendidikan, Program Sekolah Rakyat telah beroperasi di Kota Tual, Kota Ambon dan Maluku Tengah, serta direncanakan berkembang menjadi 14 titik di 11 kabupaten/kota.
Hendrik mengatakan berbagai capaian tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang Maluku.
“Menapaki 81 tahun adalah sebuah pencapaian usia yang luar biasa, perjalanan panjang tentang pengabdian, keteguhan, pengorbanan, dan harapan yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Namun, ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Karena itu, HUT ke-81 Maluku menurutnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia daerah, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen membangun Maluku ke depan.
Hendrik juga meminta seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan dan persaudaraan sebagai modal utama pembangunan.
Sebab, menurutnya, pembangunan Maluku tidak mungkin hanya dikerjakan pemerintah.
“Tidak henti-hentinya saya mengajak basudara samua untuk terus merawat kerukunan dan persaudaraan yang sudah kita capai,” katanya.
Ia menegaskan, keberagaman Maluku harus menjadi kekuatan untuk bergerak bersama.
“Kita boleh saja berbeda agama, suku, sub suku, bahasa ataupun warna kulit, tetapi sejatinya kita adalah ‘orang basudara’ yang hidup di atas tanah yang sama, hidup di negeri warisan leluhur, dan yang sama-sama mewarisi semangat Siwalima,” tegasnya. (*)