10 Contoh Laporan Perjalanan ke Banten-Serang, Narasi Menggunakan Kalimat Efektif dan Majas Metafora
Nolpitos Hendri August 20, 2026 11:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Banten - Serang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

Baca juga: 10 Contoh Laporan Perjalanan ke Tempat Wisata di Lampung Menggunakan Kalimat Efektif, Majas Metafora

Bab 6 Satu Titik

Soal : 

Bahas Bahasa

Majas Metafora

Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.

Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “AnakAnak Merapi”.

1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan

2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih

3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat

4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar

5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih

Menulis

Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana

Laporan Perjalanan

Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.

Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi atau karangan. Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi atau karangan. Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.

Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.

Judul : 

Awal (1 paragraf)

Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).

Tengah (2—3 paragraf)

Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.

Akhir (1 paragraf)

Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”

Kunci jawaban : 

Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Banten - Serang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora : 

1. Laporan Perjalanan ke Masjid Agung Banten, Serang
Judul: Masjid Megah yang Menjadi Pelita Sejarah di Tanah Ujung Barat

Pada awal bulan Juni, saat matahari menyingsing lembut menyapa tanah ujung barat Pulau Jawa, aku bersama kedua orang tuaku berangkat menuju Masjid Agung Banten, saksi kejayaan Kesultanan Banten yang masih berdiri gagah memancarkan cahaya keimanan dan sejarah. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi libur sekolah sekaligus menyaksikan langsung bangunan yang bagai pelita abadi yang tak pernah padam menerangi jalan sejarah dan keagamaan masyarakat Banten sejak ratusan tahun silam.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Serang yang melaju tenang menyusuri jalan yang rapi dan asri. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, suasana terasa tenang dan damai, seakan setiap langkah yang kami ambil semakin mendekatkan diri pada keagungan dan keteduhan yang menanti di dalam kawasan masjid itu.

Sesampainya di lokasi, bangunan masjid yang luas dan megah tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat leluhur yang penuh kasih sayang. Kubah-kubah yang menjulang indah dan tiang-tiang kokoh yang menopang bangunan seakan menjadi pilar iman yang tegak tak tergoyahkan, menyimbolkan keteguhan hati dan kekuatan iman yang senantiasa menjaga kedamaian dan persatuan umat sepanjang masa.

Kami berjalan menyusuri halaman yang luas dan bersih sambil memandang arsitektur yang memadukan keindahan dan kesederhanaan yang menyejukkan hati. Di sisi masjid berdiri menara kembar yang tinggi menjulang bagai jendela langit yang senantiasa mengingatkan manusia untuk senantiasa mendongak menatap kebesaran Tuhan dan menundukkan kepala dalam kerendahan hati serta rasa syukur yang tulus.

Kami juga memasuki ruang utama masjid yang luas, sejuk, dan tenang. Dinding-dindingnya yang sederhana namun kokoh seakan bercerita tentang ketakwaan dan kesederhanaan para leluhur yang membangunnya dengan penuh keikhlasan dan ketekunan. Suasana damai di dalamnya bagai samudera tenang yang menenangkan jiwa, membuat hati merasa tenang, tenteram, dan penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menjelang sore, saat cahaya matahari mulai miring dan menyinari dinding masjid dengan warna keemasan yang lembut, kami berpamitan meninggalkan kawasan masjid dengan hati yang penuh dan pikiran yang tenang. Sang masjid tetap berdiri tegak bagai tak ingin beranjak, seakan mengantar kepergian kami dengan pesan agar senantiasa menjaga iman dan kesederhanaan hati bagai para leluhur yang membangun tempat ini dengan penuh kasih sayang.

Masjid Agung Banten adalah pelita sejarah yang mengajarkan kita arti keteguhan iman dan kesederhanaan hati. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berpakaian sopan dan menutup aurat sebagai tanda penghormatan, serta bicaralah dengan suara pelan agar tidak mengganggu ketenangan orang yang sedang beribadah maupun menikmati suasana bersejarah yang penuh berkah ini.

2. Laporan Perjalanan ke Benteng Speelwijk, Banten
Judul: Sang Benteng Batu yang Berdiri Tegak Menjaga Pantai dan Sejarah

Pada pertengahan bulan Juli, aku dan kedua sahabatku melangkah beriringan menuju Benteng Speelwijk, bangunan bersejarah yang berdiri kokoh di tepi pantai Anyer. Perjalanan ini kami lakukan bukan sekadar untuk berwisata, melainkan untuk menelusuri jejak masa lalu yang membuktikan bahwa keteguhan hati dan semangat mempertahankan tanah air bagai benteng batu yang tak mudah runtuh diterpa angin maupun ombak zaman.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum dari pusat kota Serang yang melaju tenang menyusuri jalan tepi pantai yang indah dan sejuk. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Di sepanjang jalan, angin laut berhembus segar menyapa wajah seakan mengundang kami untuk segera menyaksikan saksi bisu masa lalu yang berdiri gagah di tepi samudera.

Sesampainya di lokasi, benteng yang terbuat dari batu kokoh tampak menjulang tegak bagai pahlawan tua yang berdiri siaga menjaga perairan sejak ratusan tahun silam. Bentuknya yang kokoh dan dikelilingi tembok tebal seakan memeluk tanah dan air dengan erat, menyimbolkan kekuatan persatuan dan keteguhan hati yang tak mudah goyah diterpa segala macam cobaan dan tantangan zaman.

Kami berjalan menyusuri lorong-lorong tua dan dinding tebal yang masih tampak kuat dan terawat. Setiap sudut dan susunan batu yang rapi seakan menyimpan kisah masa lalu, mengajarkan kami bahwa kemerdekaan dan kedamaian yang kita nikmati hari ini lahir dari keteguhan hati, pengorbanan, dan persatuan yang dibangun dengan penuh kesabaran dan ketekunan bagai susunan batu benteng yang kokoh dan kuat.

Dari atas tembok benteng, hamparan samudera biru tampak terbentang luas tak bertepi bagai permadani biru yang dikepakan angin. Ombak yang datang bergulung lembut menyapu pantai terdengar berirama bagai nyanyian kenangan yang menenangkan jiwa, seakan menceritakan bahwa masa lalu telah berlalu dan kini kedamaianlah yang abadi menyelimuti tanah Banten yang diberkahi ini.

Menjelang sore, saat cahaya matahari mulai miring dan menyinari dinding batu dengan warna keemasan yang hangat, kami berpamitan meninggalkan benteng dengan hati yang penuh dan pikiran yang tenang. Sang benteng tetap berdiri tegak bagai tak ingin beranjak, seakan mengantar kepergian kami dengan pesan agar senantiasa bersatu dan teguh mempertahankan kebenaran bagai dirinya yang tak pernah runtuh diterpa zaman.

Benteng Speelwijk adalah saksi bisu masa lalu yang mengajarkan kita arti persatuan dan keteguhan hati. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berhati-hatilah saat berjalan di atas tembok yang agak tinggi dan sempit, serta jangan mengukir atau merusak bagian bangunan agar peninggalan bersejarah ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

3. Laporan Perjalanan ke Pulau Sangiang, Selat Sunda
Judul: Pulau Hijau yang Menyimpan Kedamaian dan Jejak Sejarah di Tengah Selat

Pada awal bulan Agustus, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pulau Sangiang, pulau kecil yang masih asri dan terletak di tengah perairan Selat Sunda. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan alam yang masih murni dan tenang, bagai permata hijau yang diletakkan di tengah kain biru yang luas, serta menyaksikan langsung tempat yang menyimpan kisah dan jejak masa lalu yang tak terlupakan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga dari Serang menuju pelabuhan, lalu melanjutkan menaiki perahu nelayan yang membelah air laut biru jernih. Perjalanan darat memakan waktu sekitar satu jam dan perjalanan laut sekitar tiga puluh menit dengan biaya sewa perahu sebesar Rp150.000 untuk rombongan. Di sepanjang perairan, angin berhembus sejuk menyapa wajah sambil memandang air laut yang jernih dan berkilauan diterpa sinar matahari.

Sesampainya di pulau, suasana yang asri, teduh, dan tenang langsung menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat kerabat yang lama dirindukan. Pepohonan hijau yang tumbuh rimbun dan pantai berpasir putih yang bersih tampak menyatu harmonis bagai lukisan alam yang belum tersentuh tangan manusia, menciptakan kedamaian yang sungguh menenangkan jiwa dan menyegarkan raga.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan yang rimbun sambil menuju peninggalan bersejarah dan pantai yang indah. Di sepanjang jalan, suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan terdengar berirama merdu bagai musik alam yang menenangkan hati, seakan mengajarkan kita bahwa kedamaian sejati lahir dari kesederhanaan dan keselarasan hidup bersama alam semesta.

Di tepian pantai pulau, air yang jernih dan tenang tampak memeluk tepian pasir putih dengan lembut. Dari tepian pulau, terlihat jelas kapal-kapal yang melintas tenang di perairan Selat Sunda bagai burung yang berlayar di atas permadani biru, menciptakan pemandangan damai yang membuat hati merasa tenang dan bahagia seakan waktu berhenti sejenak membiarkan kami menikmati keindahan dan kedamaian ini.

Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam dan menyinari seluruh permukaan samudera dengan cahaya keemasan yang memukau, kami menaiki perahu kembali meninggalkan pulau yang perlahan menjauh di tengah perairan. Pulau Sangiang tetap tampak bagai permata hijau yang tenang dan damai, seakan mengantar kepergian kami dengan pesan agar senantiasa menjaga kesucian dan keaslian alam bagai dirinya yang tetap utuh dan indah.

Pulau Sangiang menyimpan keindahan alam yang asri dan menenangkan hati setiap yang berkunjung ke sana. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bawa persediaan air minum dan bekal yang cukup karena fasilitas di pulau terbatas, serta jangan membuang sampah dan menjaga kebersihan agar keaslian dan keindahan pulau ini tetap terjaga untuk selamanya.

4. Laporan Perjalanan ke Pantai Anyer, Serang
Judul: Pantai Panjang yang Memeluk Selat Sunda dengan Lembut dan Ramah

Pada hari Sabtu pertengahan bulan Agustus, aku bersama ayah dan ibu berkunjung ke Pantai Anyer yang membentang panjang di sepanjang tepian Kabupaten Serang. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati suasana pantai yang asri dan menenangkan, bagai datang berkunjung ke rumah kerabat yang selalu menyambut dengan senyum hangat dan hati yang lapang, serta melepas lelah setelah beraktivitas sehari-hari.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Serang yang melaju tenang menyusuri jalan tepi pantai yang indah dan sejuk. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, pemandangan laut yang biru dan angin segar yang berhembus lembut menyapa wajah membuat perjalanan terasa singkat dan menyenangkan.

Sesampainya di pantai, hamparan pasir putih yang halus dan bersih langsung menyambut langkah kaki bagai kain sutra putih yang terhampar lembut di tepi air. Air laut yang jernih berwarna biru muda tampak tenang beriak lembut bagai senyum kerabat yang menyambut kedatangan kami dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian hati yang tulus.

Kami berjalan menyusuri garis pantai yang panjang sambil membiarkan ombak lembut menyapu kaki yang terasa segar dan menenangkan. Di kejauhan, menara suar yang berdiri tegak di tepi air tampak bagai penunjuk jalan yang setia bersinar sepanjang masa, seakan mengingatkan kita untuk senantiasa menjadi cahaya dan petunjuk bagi sesama di manapun kita berada.

Kami juga duduk bersantai di tepian pasir sambil menikmati segarnya kelapa muda dan pemandangan matahari yang mulai turun perlahan. Cahaya matahari yang menyinari permukaan air berkilauan bagai ribuan butiran berlian yang bertebaran indah di atas kain biru yang bergerak lembut ditiup angin, menciptakan pemandangan yang sungguh menakjubkan dan tak terlupakan seumur hidup.

Menjelang sore, saat matahari perlahan tenggelam menyentuh cakrawala dan menyisakan warna jingga yang indah di langit, kami berpamitan pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan. Pantai Anyer tetap terbentang tenang bagai tak ingin beranjak, menyambut siapa saja yang datang mencari kedamaian dan kesegaran di tepi airnya yang menenangkan jiwa.

Pantai Anyer adalah tempat yang menyejukkan jiwa dan menyegarkan raga setiap yang berkunjung ke sana. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya datanglah sore hari agar udara terasa sejuk dan dapat menikmati keindahan matahari terbenam yang luar biasa indah, serta berhati-hatilah saat berenang dan jangan terlalu jauh dari tepian agar tetap aman menikmati keindahan laut yang menenangkan ini.

5. Laporan Perjalanan ke Cagar Alam Pulau Dua, Serang
Judul: Pulau Kecil yang Menjadi Rumah Bagi Ribuan Burung dan Keindahan Alam

Pada awal bulan September, aku beserta teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Cagar Alam Pulau Dua yang terletak tak jauh dari kawasan Banten Lama. Perjalanan ini kami lakukan sebagai bagian dari pembelajaran alam dan lingkungan, untuk menyaksikan pulau yang bagai taman surga kecil yang menjadi rumah damai bagi ribuan burung dan kekayaan alam yang dijaga dengan penuh kasih sayang.

Kami menempuh perjalanan menggunakan bus sekolah dari pusat kota Serang menuju pelabuhan, lalu melanjutkan menaiki perahu kecil yang menyeberang sebentar menuju pulau. Perjalanan darat memakan waktu sekitar tiga puluh menit dan penyeberangan sekitar sepuluh menit dengan biaya tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, udara terasa segar dan hati merasa gembira tak sabar segera tiba di pulau yang penuh kehidupan itu.

Sesampainya di pulau, suasana teduh dan rimbun langsung menyambut kedatangan kami bagai pelukan sejuk yang menenangkan hati. Pepohonan hijau yang tumbuh rimbun dan rapat tampak bagai payung besar yang menaungi kehidupan ribuan burung yang hidup di sana, menciptakan suasana damai yang membuat setiap napas terasa segar dan menyehatkan segenap jiwa dan raga.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak sambil memandang ribuan burung yang terbang berputar di langit dan hinggap di dahan pohon dengan riang gembira. Kicauan burung yang terdengar merdu berpadu satu sama lain bagai nyanyian alam yang penuh syukur dan kebahagiaan, seakan mengajarkan kita bahwa hidup bersatu dan saling melindungi akan menciptakan kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa indah.

Dari tepian pulau, terlihat hamparan air laut yang jernih dan tenang memeluk pulau hijau itu dengan lembut. Pulau kecil yang penuh kehidupan ini seakan menjadi contoh bahwa kesederhanaan dan keselarasan hidup bersama alam akan melahirkan keindahan dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya, bagai permata kecil yang berkilauan indah karena kemurnian isinya.

Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan pulau yang masih tampak penuh kehidupan dan kedamaian. Kami pulang membawa kesadaran bahwa alam ini adalah rumah bersama yang wajib kita jaga dan lindungi agar tetap lestari dan penuh kehidupan bagi kita dan generasi mendatang, bagai Pulau Dua yang tetap asri dan damai sepanjang masa.

Cagar Alam Pulau Dua mengajarkan kita arti kasih sayang dan perlindungan terhadap sesama makhluk hidup serta lingkungan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya bicaralah dengan suara pelan dan jangan membuat kegaduhan agar burung-burung tidak merasa takut, serta jangan merusak tumbuhan atau membuang sampah agar keindahan dan kelestarian pulau ini tetap terjaga selamanya.

6. Laporan Perjalanan ke Situs Banten Lama, Serang
Judul: Jejak Kejayaan Kesultanan yang Tersimpan di Balik Dinding-Dinding Tua

Pada hari libur pertengahan bulan September, aku bersama adik dan sepupu-sepupu berkunjung ke kawasan Situs Banten Lama, tempat yang menyimpan jejak kejayaan dan kemegahan Kesultanan Banten di masa lampau. Perjalanan ini kami lakukan untuk menelusuri jejak masa lalu yang bagai lembaran sejarah yang terbentang luas, mengajarkan kita tentang kejayaan, kebijaksanaan, dan kemajuan yang lahir dari persatuan serta keteguhan hati para leluhur kita.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Serang yang melaju tenang menyusuri jalan yang sejuk dan penuh kenangan. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan biaya tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Di sepanjang jalan, suasana terasa tenang dan sejuk, seakan setiap jengkal tanah di kawasan ini menyimpan kisah dan pesan luhur dari masa lalu yang patut kita simak dan teladani.

Sesampainya di kawasan situs, reruntuhan bangunan tua dan susunan batu yang masih tampak kokoh seakan bercerita tentang kemegahan masa lalu yang tak pernah pudar dimakan waktu. Setiap sisa bangunan dan saluran air yang tertata rapi bagai saksi bisu kemajuan dan kebijaksanaan leluhur yang membangunnya dengan penuh perhitungan dan ketekunan, mengajarkan kita bahwa kemajuan lahir dari ketekunan, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan yang tulus.

Kami berjalan menyusuri sisa-sisa bangunan dan saluran air yang dulunya menjadi tata kota yang maju dan teratur rapi. Setiap lorong dan ruangan yang masih tampak bentuknya seakan menyimpan pesan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya dilihat dari bangunan yang megah, melainkan dari tata kelola yang baik, keadilan, dan kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya dengan penuh rasa syukur dan kasih sayang.

Di tengah kawasan situs, suasana tenang dan damai menyelimuti hati seakan kami sedang berbicara dengan masa lalu. Angin berhembus lembut menyapu sisa-sisa bangunan tua seakan berbisik menceritakan bahwa kejayaan itu sifatnya sementara namun kebijaksanaan dan kebaikan yang kita tanam akan tetap abadi dan menjadi warisan luhur yang bermanfaat bagi generasi-generasi mendatang.

Menjelang sore, saat cahaya matahari mulai miring dan menyinari sisa-sisa bangunan dengan warna keemasan yang lembut, kami berpamitan meninggalkan kawasan situs dengan hati yang penuh renungan dan tekad baru. Kami pulang membawa pesan luhur bahwa kejayaan sejati tercipta dari persatuan, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan yang tulus, bagai jejak masa lalu yang tetap terjaga dan menjadi pelita bagi langkah kita di masa depan.

Situs Banten Lama adalah lembaran sejarah yang mengajarkan kita arti kemajuan, kebijaksanaan, dan persatuan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berjalanlah dengan hati yang hormat dan jangan merusak atau mengambil bagian dari situs peninggalan tersebut agar warisan leluhur ini tetap utuh dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

7. Laporan Perjalanan ke Pantai Karang Bolong, Serang
Judul: Pantai Unik yang Dihiasi Bukit Berlubang Bagai Pintu Gerbang Alam

Pada awal bulan Oktober, aku bersama paman dan sepupu berkunjung ke Pantai Karang Bolong yang terkenal dengan bukit batu besar yang berlubang di tepi pantai. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan keajaiban alam yang sungguh unik dan menakjubkan, bagai pintu gerbang raksasa yang terbuka lebar menyambut setiap orang yang datang menikmati keindahan pantai yang asri dan menenangkan jiwa.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga dari pusat kota Serang yang melaju menyusuri jalan tepi pantai yang berkelok namun indah. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, pemandangan laut yang biru dan angin segar yang berhembus lembut menyapa wajah membuat hati merasa gembira dan tak sabar segera tiba di lokasi.

Sesampainya di pantai, bukit batu besar yang berlubang di tengahnya tampak bagai pintu gerbang raksasa yang diciptakan alam dengan penuh seni dan keajaiban. Melalui lubang batu itu, terlihat jelas hamparan laut biru dan langit yang menyatu harmonis bagai lukisan indah yang terlihat melalui jendela alam yang megah dan menakjubkan.

Kami berjalan menyusuri tepian pantai yang berpasir putih halus sambil memandang keindahan lubang batu yang ikonik itu. Ombak yang datang bergulung lembut menyapu tepian batu dan pasir terdengar berirama bagai nyanyian alam yang menenangkan jiwa, seakan menceritakan bahwa ketekunan air yang terus menerpa batu keras akhirnya menciptakan keindahan yang luar biasa dan menakjubkan ini.

Kami juga berjalan melewati lubang batu itu dan menikmati pemandangan laut yang tampak berbeda dari sisi seberangnya. Dari balik lubang batu, pemandangan samudera yang luas dan biru tampak sungguh memukau, seakan mengajarkan kita bahwa melihat dari sisi yang berbeda akan melahirkan pemahaman dan keindahan yang berbeda pula bagai pemandangan yang kami lihat dari balik lubang batu itu.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan dan menyinari bukit batu dan lubangnya dengan cahaya keemasan yang indah, kami berpamitan pulang dengan hati yang penuh rasa kagum. Pantai Karang Bolong tetap tampak indah dan menakjubkan bagai pintu gerbang alam yang senantiasa terbuka lebar menyambut siapa saja yang datang dengan hati yang tulus dan penuh rasa syukur.

Pantai Karang Bolong mengajarkan kita arti kesabaran dan keindahan yang lahir dari ketekunan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berhati-hatilah saat berjalan di sekitar bukit batu karena permukaannya cukup licin dan terjal, serta jangan memanjat bagian batu yang berbahaya demi keselamatan diri dan agar keindahan alam yang unik ini tetap terjaga dengan baik.

8. Laporan Perjalanan ke Vihara Avalokitesvara, Banten Lama
Judul: Tempat Ibadah yang Menjadi Simbol Kerukunan dan Kedamaian

Pada pertengahan bulan Oktober, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Vihara Avalokitesvara yang terletak di kawasan Banten Lama, tempat ibadah yang menjadi saksi kerukunan hidup antarumat beragama sejak masa Kesultanan Banten. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan tempat yang bagai pelita kedamaian yang mengajarkan kita tentang kasih sayang, toleransi, dan kerukunan yang menjadi kekuatan utama dalam membangun peradaban yang maju dan sejahtera.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Serang yang melaju tenang menyusuri jalan yang bersejarah dan sejuk. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang jalan, suasana terasa tenang dan damai, seakan mengantar kami menuju tempat yang penuh kedamaian dan berkah itu.

Sesampainya di lokasi, bangunan vihara yang indah dan tertata rapi tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat yang penuh kasih sayang. Arsitekturnya yang indah dan penuh makna seakan menjadi simbol keindahan hati dan kesucian pikiran, mengajarkan kita bahwa keindahan sejati lahir dari kesucian hati, kasih sayang, dan kerukunan yang terjalin erat antar sesama makhluk hidup.

Kami memasuki kawasan vihara dengan hati yang hormat dan tenang. Di dalamnya, suasana damai dan tenteram menyelimuti hati seakan segala beban dan kegelisahan perlahan hilang digantikan ketenangan jiwa yang mendalam. Patung dan ornamen yang ada di dalamnya seakan menyampaikan pesan kasih sayang, pengampunan, dan kedamaian yang abadi bagi siapa saja yang datang dengan hati yang tulus dan bersih.

Kami juga berkeliling menikmati suasana yang asri dan tertata rapi di halaman vihara. Kedekatan tempat ini dengan masjid dan tempat ibadah lainnya seakan menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk perpecahan, melainkan kekayaan yang memperindah kehidupan bagai warna-warni bunga yang tumbuh berdampingan di taman yang indah dan menyejukkan hati.

Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan vihara dengan hati yang penuh kedamaian dan tekad baru untuk senantiasa menjaga kerukunan dan kasih sayang antar sesama. Vihara Avalokitesvara tetap berdiri tenang dan damai bagai pelita kedamaian yang senantiasa bersinar mengingatkan kita bahwa kasih sayang dan kerukunan adalah kunci kedamaian dan kemajuan yang sejati.

Vihara Avalokitesvara adalah simbol kerukunan dan kedamaian yang patut kita lestarikan bersama. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya berpakaian sopan, bersikap hormat, dan menjaga kesunyian agar tidak mengganggu ketenangan orang yang sedang beribadah maupun menikmati suasana damai yang penuh berkah di tempat ini.

9. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Cibogo, Serang
Judul: Tirai Air Perak yang Turun Lembut Membawa Kesegaran dari Puncak Bukit

Pada awal bulan November, aku bersama teman-teman sekelas dan guru pembimbing berkunjung ke Air Terjun Cibogo yang tersembunyi di kawasan perbukitan hijau tak jauh dari pusat kota Serang. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan keajaiban alam yang airnya turun lembut bagai tirai perak yang diturunkan dari puncak bukit membawa kesegaran dan kehidupan bagi segenap makhluk yang hidup di sekitarnya.

Kami menempuh perjalanan menggunakan bus sekolah yang melaju perlahan menuju kawasan perbukitan, lalu melanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang hijau dan rimbun. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kota dengan biaya tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Semakin mendekati lokasi, suara gemuruh air terdengar semakin jelas memanggil-manggil kedatangan kami bagai irama musik alam yang merdu dan menenangkan jiwa.

Sesampainya di lokasi, air terjun yang turun dari ketinggian bukit tampak bagai tirai putih berkilauan yang jatuh menyentuh bebatuan dengan lembut namun terus mengalir tanpa henti. Butiran air yang memercik terasa sejuk menyapa wajah, menciptakan kabut tipis yang melayang-layang di sekitar air terjun bagai kain sutra putih yang menambah keindahan dan keagungan tempat ini.

Kami mendekat ke kolam alami di bawah air terjun yang airnya jernih dan dingin. Air yang jatuh dari ketinggian membasahi tubuh yang terasa segar dan menyehatkan segenap raga, seakan menyadarkan kami bahwa perjuangan menempuh perjalanan yang sedikit melelahkan ini sebanding dengan kesegaran dan keindahan yang kami temukan di tempat yang indah dan menenangkan jiwa ini.

Kami juga duduk bersantai di tepian kolam sambil mendengarkan suara gemuruh air yang berirama merdu menyatu dengan suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan. Hati terasa damai dan bahagia, seakan segala beban dan lelah perlahan hilang tersapu kesegaran air yang mengalir jernih dan dingin itu, mengajarkan kita bahwa kesabaran dan ketekunan senantiasa membawa kita ke tempat yang indah dan penuh berkah.

Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan air terjun yang terus mengalir turun tanpa henti bagai semangat kehidupan yang tak pernah berhenti. Kami pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke dalam tulang dan pesan luhur bahwa kesabaran serta ketekunan dalam menjalani kehidupan akan senantiasa membuahkan keindahan dan kebahagiaan yang abadi.

Air Terjun Cibogo mengajarkan kita arti kesabaran dan ketekunan dalam menjalani kehidupan. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya kenakan alas kaki yang kuat dan anti selip karena jalannya berbatu dan licin, serta berhati-hatilah saat mendekat ke kolam agar tidak terpeleset dan tetap aman menikmati keindahan alam yang luar biasa menyejukkan ini.

10. Laporan Perjalanan ke Taman Wisata Pulau Biawak, Serang
Judul: Pulau Kecil yang Menjadi Rumah Biawak dan Menyimpan Keindahan Alam yang Asri

Pada hari libur akhir bulan November, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pulau Biawak yang terletak di perairan Selat Sunda, tempat yang menjadi rumah alami bagi biawak dan kekayaan alam yang masih terjaga dengan baik. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan alam yang masih asri sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan hewan yang hidup berdampingan dengan alam di pulau yang bagai permata hijau yang terjaga keasriannya dengan penuh kasih sayang.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga dari Serang menuju pelabuhan, lalu melanjutkan menaiki perahu cepat yang membelah air laut biru jernih. Perjalanan darat memakan waktu sekitar satu jam dan perjalanan laut sekitar satu jam dengan biaya sewa perahu sebesar Rp250.000 untuk rombongan. Di sepanjang perairan, angin berhembus sejuk menyapa wajah sambil memandang hamparan laut yang luas dan biru jernih bagai kain sutra yang terbentang luas tak bertepi.

Sesampainya di pulau, suasana yang asri, teduh, dan sejuk langsung menyambut kedatangan kami bagai pelukan sejuk yang menenangkan hati. Pepohonan hijau yang tumbuh rimbun dan pantai berpasir putih yang bersih tampak menyatu harmonis bagai lukisan alam yang belum tersentuh kerusakan, menciptakan kedamaian yang sungguh menenangkan jiwa dan menyegarkan raga setiap yang memasukinya.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak di tepian pantai sambil melihat biawak yang bergerak tenang di antara pepohonan dan tepian air. Hewan-hewan itu tampak hidup damai dan tenang di rumah alaminya, seakan mengajarkan kita bahwa kedamaian sejati lahir dari sikap saling menghormati dan menjaga keseimbangan hidup bersama alam dan sesama makhluk hidup tanpa saling mengganggu.

Dari tepian pantai pulau, terlihat hamparan samudera biru yang luas dan berkilauan diterpa sinar matahari. Angin berhembus sejuk menyapu wajah sambil memandang keindahan alam yang luar biasa ini, menyadarkan kami betapa besarnya kasih sayang Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna untuk dijaga, dilestarikan, dan dinikmati dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.

Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam dan menyinari pulau dengan cahaya keemasan yang indah, kami menaiki perahu kembali meninggalkan pulau yang perlahan menjauh di tengah perairan. Kami pulang membawa kenangan indah dan kesadaran bahwa kekayaan alam dan kehidupan hewan ini adalah titipan Tuhan yang wajib kita jaga agar tetap utuh dan lestari bagi anak cucu kita kelak.

Pulau Biawak menyimpan keindahan alam dan kehidupan yang patut kita jaga bersama. Jika kamu berkunjung ke sini, sebaiknya jangan memberi makanan sembarangan atau mengganggu biawak agar mereka tetap hidup damai di alamnya, serta jangan membuang sampah agar keaslian dan keindahan pulau ini tetap terjaga untuk selamanya.

Demikian 10 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata atau ke tempat bersejarah di Banten - Serang dalam bentuk narasi atau karangan menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.