TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK – Bupati Landak dr Karolin Margret Natasa secara resmi membuka kegiatan Forum Konsultasi Publik yang digelar di Aula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Landak pada Kamis 20 Agustus 2026.
Agenda tahunan yang strategis ini diselenggarakan guna membangun sinergi komprehensif antara manajemen rumah sakit, pemerintah daerah, serta masyarakat luas.
Langkah kolaboratif tersebut ditempuh sebagai bentuk komitmen nyata dalam upaya meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan di Kabupaten Landak.
Dalam arahannya di hadapan para jajaran dan tamu undangan, Karolin menegaskan bahwa penyelenggaraan pelayanan di RSUD pada dasarnya merupakan bentuk kewajiban pelayanan publik (public service obligation) dari pemerintah daerah.
Oleh karena itu, prinsip pengelolaannya murni berfokus pada kemanusiaan dan tidak berorientasi pada pencarian keuntungan finansial semata.
"Jadi kita ndak cari untung di rumah sakit ini, tetapi ini merupakan kewajiban dari pemerintah daerah. Sehingga setiap tahunnya selalu disubsidi dari anggaran APBD Pemerintah Daerah Kabupaten Landak," ujar Karolin.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan tantangan fiskal yang kini tengah dihadapi oleh sektor kesehatan daerah.
Menurutnya, kebijakan efisiensi anggaran serta penyesuaian skema Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat memberikan tantangan tersendiri bagi operasional rumah sakit daerah agar tetap berjalan optimal.
Situasi tersebut kian menantang lantaran beban biaya operasional medis terbilang sangat tinggi.
Kondisi ini dipicu oleh tingginya harga obat-obatan impor serta ketergantungan pada pemakaian barang medis sekali pakai (disposable) demi menjaga standar higienitas dan keselamatan pasien.
Baca juga: Tarif Visite dan Konsultasi Dokter Rawat Inap RSUD Landak
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran yang relatif ketat, Karolin menekankan pentingnya optimalisasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki RSUD Landak sebagai pilar utama penggerak pelayanan.
"Dari sisi anggaran mungkin kita enggak punya uang, tetapi saya punya manusia di sini yang punya otak dan punya otot. Bisa mikir dan bisa kerja," tegasnya.
Berdasarkan data organisasi internal, ia mencatat ada sekitar 467 personel petugas kesehatan dan pendukung yang saat ini bertugas aktif di RSUD Landak.
Karolin menaruh harapan besar agar seluruh personel tersebut terus tergerak melakukan inovasi, adaptif terhadap perubahan, dan sigap menindaklanjuti setiap aspirasi masyarakat yang masuk menjadi standar pelayanan yang jauh lebih baik.
Pada kesempatan yang sama, Direktur RSUD Landak Albertus Geovani menjelaskan bahwa pemenuhan standar pelayanan publik yang prima membutuhkan keterbukaan dari manajemen.
Forum Konsultasi Publik ini dihadiri oleh berbagai elemen lintas sektor, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, anggota DPRD, Dinas Kesehatan, hingga perwakilan BPJS Kesehatan.
"Maksud pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk menyediakan ruang komunikasi dan partisipasi antara rumah sakit dengan masyarakat serta para pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelayanan kesehatan," papar Albertus.
Guna menjaring aspirasi secara maksimal, forum tersebut dilaksanakan melalui metode pemaparan, diskusi interaktif, hingga sesi tanya jawab secara terbuka.
Seluruh masukan, saran konstruktif, maupun kritik tajam yang terserap dari para peserta dipastikan akan didokumentasikan secara rinci dan dianalisis sebagai bahan penyusunan rencana tindak lanjut perbaikan layanan secara konkret.
"Kami berkomitmen untuk menjadikan setiap masukan masyarakat sebagai bahan evaluasi dan perbaikan dalam mewujudkan pelayanan rumah sakit yang profesional, transparan, responsif, humanis, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan serta kepuasan masyarakat," pungkas Albertus. (*)