Jumlah Titik Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Kalimantan, Warga Hirup Udara Tidak Sehat
Ardhi Sanjaya August 21, 2026 10:03 AM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Lewat platform Threads, warganet ramai-ramai menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Pulau Kalimantan.

Berdasarkan pantauan Tribunnews.com, Jumat (21/8/2026) dini hari, sejumlah akun membagikan foto dan video yang memperlihatkan dampak karhutla di sejumlah wilayah.

Salah satunya akun @paltiwest yang mengunggah video anak-anak sekolah terpaksa mengenakan masker akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah mereka.

Selain mengganggu aktivitas warga, kabut asap juga membatasi jarak pandang di jalan raya sehingga para pengendara harus lebih berhati-hati.

“Mana ini Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni?!,” tulis akun tersebut.

Sementara itu, akun @bilaa_ahmad turut membagikan video yang diperolehnya dari keluarga di Kalimantan.

Menurutnya, kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Kementerian Kehutanan lewat akun Instgaram resminya, melaporkan titik kebakaran di Pulau Kalimantan naik hanya dalam hitungan hari.

Pada Rabu (19/8/2026), titik panas terpantau sebanyak 336, dengan rincian Kalimantan Tengah 188 titik, Kalimantan Barat 117 titik, dan Kalimantan Selatan 31 titik.

Sehari kemudian, titip panas naik menjadi 518 titik, dengan rincian Kalimantan Tengah 259 titik, Kalimantan Barat 242 titik, dan Kalimantan Selatan 17 titik.

Titik pas juga terpantau muncul di Papua Selatan, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.

Dengan jumlah total titik panas terdeteksi 627 titik.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memadamkan lokasi-lokasi karhutla.

Pemadaman darat dan udara (waterbombing) terus dilakukan oleh tim gabungan Kemenhut, TNI, POLRI, BNPB dan BPBD di 6 Wilayah Siaga Karhutla. 

Metode Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sedang dilakukan oleh BMKG dan BNPB mulai tanggal 18-20 Agustus di wilayah Riau.

Sedangkan pantauan BMKG soal kualitas udara, mayoritas wilayah Indonesia masih berada di zona Baik (Hijau) dan Sedang (Biru). 

Namun, wilayah Kalimantan Tengah kini mendeteksi titik Merah (Sangat Tidak Sehat) dan Hitam (Berbahaya).

Sementara itu, area sekitarnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan terkepung zona Kuning (Tidak Sehat).

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memastikan pemerintah terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya ancaman akibat fenomena El Nino pada 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (18/8/2026) kemarin.

Menurut Raja Juli, kondisi El Nino tahun ini turut meningkatkan risiko terjadinya karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan El Nino telah memasuki fase sangat kuat.

Indeks anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 tercatat mencapai +2,19. BMKG juga memperkirakan intensitas El Nino dapat mencapai level sangat kuat pada puncaknya.

Raja Juli mengatakan, fenomena El Nino 2026 datang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. 

Kondisi tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan El Nino 2015 yang tercatat sebagai salah satu periode dengan kejadian karhutla terbesar.

Meski demikian, ia optimistis dampak karhutla dapat ditekan melalui kesiapan dan koordinasi lintas sektor.

Raja Juli juga menilai perubahan iklim turut berpengaruh terhadap pola kemunculan El Nino. 

Jika sebelumnya fenomena tersebut diperkirakan kembali terjadi pada 2027 berdasarkan siklus empat tahunan, El Nino dengan intensitas tinggi justru muncul setahun lebih awal.

"Climate change is real, ternyata justru lebih cepat satu tahun," ujar Raja Juli dalam keterangannya.

Berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan sepanjang Januari-Juli 2026, luas karhutla di Indonesia telah mencapai sekitar 202 ribu hektare.

Dari total tersebut, sekitar 57 persen kebakaran terjadi di kawasan hutan, sedangkan 43 persen lainnya berada di luar kawasan hutan atau area penggunaan lain (APL).

Lima provinsi yang mencatat luas karhutla terbesar hingga Juli 2026 yakni Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau.

Raja Juli mengakui luas karhutla pada 2026 meningkat dibandingkan tahun-tahun tanpa El Nino. Namun, pemerintah masih mampu menekan dampaknya agar tidak separah kondisi pada 2015.

Hingga Juli 2026, luas karhutla memang lebih besar dibandingkan periode yang sama pada 2019 dan 2023. Meski demikian, angkanya masih berada jauh di bawah catatan pada 2015.

"Angka ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan kita belum selesai. Pengendalian Karhutla bukan hanya tugas Kementerian Kehutanan, melainkan tugas bersama semua pihak," kata Raja Juli.

Untuk mencegah kebakaran meluas, Kemenhut juga mengandalkan sistem deteksi dini melalui pemantauan titik panas yang menjadi indikator awal potensi karhutla.

Sejumlah langkah telah disiapkan, mulai dari mengeluarkan surat edaran kepada pemerintah daerah, memperkuat koordinasi nasional, menggelar apel kesiapsiagaan, hingga mengaktifkan posko siaga darurat karhutla.

Selain itu, operasi pemadaman terus dilakukan dan kapasitas sumber daya manusia Manggala Agni diperkuat.

Kemenhut turut membentuk Satgas Supervisi Pengendalian Karhutla dan membangun War Room Karhutla untuk memperkuat pemantauan serta respons terhadap kebakaran.

Revitalisasi sarana dan prasarana pengendalian karhutla juga dilakukan. Operasi pemadaman darat diprioritaskan di enam provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Dalam pelaksanaannya, Kemenhut menggandeng TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, serta pemerintah daerah.

Upaya tersebut juga diperkuat melalui koordinasi dengan BMKG dan BNPB, termasuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang menggunakan data iklim dan kondisi lapangan sebagai bahan pertimbangan.

Koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai kementerian serta lembaga terkait pun terus dilakukan guna memperkuat pencegahan dan penanggulangan karhutla.

(Tribunnews.com/Endra)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.