TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Maraknya aksi perusakan dan pemangkasan pohon secara liar di Kota Bandung kian mengkhawatirkan.
Tak hanya menyasar pepohonan di sepanjang jalan protokol, aksi penebangan pohon tanpa izin kini merembet hingga ke area dalam permukiman warga di Kompleks Haji Kurdi, Jalan Mohammad Toha, Kota Bandung.
Aksi yang mendadak viral di media sosial tersebut memperlihatkan batang pohon yang dipangkas habis dahan serta rantingnya, bahkan satu pohon di antaranya ditebang habis dari bagian pangkal bawah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, menegaskan bahwa penebangan maupun pemangkasan pohon secara mandiri di area kompleks tetap melanggar aturan dan merusak aset ekologis kota.
Darto mengingatkan masyarakat maupun penghuni kompleks untuk tidak sembarangan menebang atau memangkas pohon tanpa mengajukan izin resmi ke dinas terkait.
"Jangan dilakukan sendiri karena kesannya ada perusakan terhadap aset-aset ekologis Kota Bandung. Kota ini sangat membutuhkan pohon," ujar Darto di Balai Kota Bandung, Jumat (21/8/2026).
Aksi perusakan pohon di kawasan kompleks perumahan tersebut melanggar Perda Kota Bandung Nomor 3 Tahun 2026 tentang Tibumtranlinmas Pasal 17 Ayat 1 huruf J.
Baca juga: Terungkap Pelaku yang Kuliti dan Tebang Pohon di Kota Bandung, Muhammad Farhan: Warga Setempat
Sesuai aturan Perda terbaru tersebut, pelaku penebangan liar dapat dijatuhi sanksi denda Rp10 juta per pohon serta diwajibkan mengganti 100 bibit tanaman.
Petugas DLH telah diterjunkan ke lokasi untuk menelusuri identitas pelaku.
Sebanyak 11 pohon, di antaranya 8 pohon mahoni dan 3 pohon angsana, di Jalan Pahlawan, Kota Bandung, Jawa Barat, kulit batangnya dikupas hingga melingkar kemudian diduga ditempeli kain berisi cairan tertentu, berisiko mengalami kerusakan serius.
Pengelupasan kulit batang pohon mahoni secara melingkar bukan sekadar membuat batang terluka. Jika dilakukan hingga seluruh bagian kulit terputus, tindakan tersebut dapat menghentikan aliran nutrisi dari daun menuju akar dan dalam kondisi tertentu berujung pada kematian pohon.
Dosen Kelompok Keahlian Sains dan Bioteknologi Tumbuhan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Ahmad Faizal, mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan luka kecil pada batang yang masih dapat ditutup kembali melalui mekanisme pertumbuhan alami tanaman.
“Kalau saya lihat, ini kan bentuk mengulitinya rapi, rapi mengeliling, itu namanya girdling, ada namanya teknik cincin. Jadi memang dipotong rapi, yang ini memang agak mematikan,” ujar Ahmad saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kulit batang pohon tidak hanya berfungsi sebagai pelindung bagian dalam batang. Di dalamnya terdapat jaringan penting yang disebut floem.
Floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis dari daun menuju berbagai bagian tanaman, termasuk akar. Hasil fotosintesis tersebut dibutuhkan tanaman sebagai sumber nutrisi.
Ketika batang dikupas hingga mengelilingi seluruh batang, jaringan floem dapat ikut terputus. Akibatnya, aliran nutrisi dari bagian atas pohon menuju bagian bawah terganggu.
“Ketika dikuliti batangnya, jaringan pengangkut itu ikut hilang. Jadi nggak nyambung pengangkutnya antara bagian atas dengan bagian bawahnya,” katanya.
Ahmad menjelaskan, dalam kondisi tersebut, akar yang berada di bawah tidak lagi memperoleh asupan hasil fotosintesis secara memadai. Jika berlangsung terus-menerus, akar dapat mengalami kematian dan kondisi pohon semakin melemah.
Kerusakan juga tidak berhenti pada terputusnya aliran nutrisi. Bagian batang yang terbuka akibat pengelupasan kulit menjadi lebih rentan terhadap serangan patogen.
“Kalau kita punya tangan, dikuliti, bagian dalamnya kelihatan, terekspos. Apa yang terjadi? Penyakit gampang kena. Berbagai macam patogen dan penyakit gampang menyerang,” ujar Ahmad.
Persoalan lain muncul dari cairan yang disebut digunakan untuk membasahi kain sebelum ditempelkan pada batang pohon.
Ahmad menegaskan dirinya tidak dapat memastikan jenis cairan tersebut hanya berdasarkan warna atau tampilan. Dugaan bahwa cairan itu merupakan air aki harus dibuktikan melalui pemeriksaan.
Namun, apabila cairan tersebut benar mengandung bahan asam seperti asam sulfat yang terdapat pada aki, kondisi tersebut berpotensi memperparah kerusakan pada jaringan tanaman.
“Kalau air aki, aki itu kan sifatnya asam dan sifat asam itu, apalagi pH-nya rendah, itu toksik buat tumbuhan, beracun ibaratnya,” katanya.
Ia menggambarkan pengelupasan kulit yang kemudian disertai paparan cairan asam sebagai kerusakan berlapis terhadap tanaman.
“Sudah dikuliti, disakiti, tambahin asam sulfat. Ibaratnya sudah jatuh, luka, dikasih air garam, perih,” ujarnya.
Ahmad menilai pemeriksaan terhadap cairan yang digunakan menjadi penting sebelum menyimpulkan penyebab maupun tingkat kerusakan pohon.
Meski mengalami kerusakan, pohon belum tentu langsung mati. Peluang pemulihan, kata Ahmad, sangat bergantung pada usia pohon dan tingkat kerusakan jaringan.
Pohon yang masih muda memiliki kemampuan regenerasi yang relatif lebih baik dibandingkan pohon yang sudah tua.
Pada tanaman yang masih sangat muda, bagian yang rusak masih memungkinkan menghasilkan tunas baru dalam kondisi tertentu. Namun, kemampuan tersebut jauh lebih terbatas pada pohon yang sudah dewasa atau tua.
“Yang sudah tua itu susah, karena kemampuan regenerasinya sudah sangat jauh berkurang,” ujar Ahmad.
Menurutnya, penanganan juga harus segera dilakukan untuk mencegah luka menjadi pintu masuk jamur maupun bakteri.
Luka pada batang dapat ditangani dengan perlindungan tertentu untuk mengurangi risiko infeksi. Pada tanaman muda, dalam kondisi yang memungkinkan, bagian yang rusak dapat dipotong, kemudian diberikan perlindungan terhadap jamur dan dibungkus untuk mengurangi penguapan.
Sementara itu, pada pohon tua dengan kerusakan berat, salah satu alternatif pemulihan adalah teknik penyambungan.
Pucuk baru dari tanaman lain yang masih satu jenis dapat disambungkan pada bagian pohon yang masih memungkinkan untuk bertahan. Namun, teknik tersebut tidak menjamin pohon akan pulih sepenuhnya.
“Tingkat keberhasilannya pun nggak 100 persen. Kemampuan sejauh mana keparahan dari luka yang ditinggalkan, atau misalnya jaringannya sudah kering cukup lama, kemudian kalau dikasih cairan yang mungkin air aki, bisa jadi tingkat keberhasilannya juga akan turun,” katanya.
Ahmad juga mengingatkan karakter tanaman yang banyak digunakan sebagai pohon peneduh di pinggir jalan. Sebagian tanaman diperbanyak melalui stek sehingga memiliki kelemahan dari sisi sistem perakaran.
Tanaman yang berasal dari biji umumnya memiliki akar tunggang yang dapat tumbuh lebih dalam. Sementara tanaman hasil stek tidak memiliki akar tunggang seperti tanaman yang tumbuh dari biji.
“Ketika aliran hasil fotosintesis menuju akar terputus akibat batang dikuliti, kondisi tersebut dapat semakin melemahkan tanaman. Dia nggak dapat hasil fotosintesis atau nutrisi yang dibutuhkan untuk makanannya. Tambah gampang roboh nantinya,” paparnya.(*)