Mewujudkan Generasi Pecinta B.I.R
Abdul Azis Alimuddin August 21, 2026 10:06 PM

Oleh: Dr. Nasrullah, M.I.P
Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Mungkin kita salah fokus dengan judul di atas karena adanya kata “B.I.R”.

Bagi sebagian orang, kata tersebut mungkin langsung dikaitkan dengan minuman beralkohol. 

Namun, B.I.R yang dimaksud dalam tulisan ini sama sekali tidak berkaitan dengan minuman keras.

B.I.R adalah singkatan dari Baca, Iqra, dan Read. Tiga kata sederhana yang sesungguhnya memiliki satu pesan besar: mengajak generasi muda untuk mencintai aktivitas membaca.

Di tengah derasnya arus informasi, membangun generasi yang gemar membaca bukan perkara sederhana.

Anak-anak dan remaja hari ini hidup dalam lingkungan yang dipenuhi gawai, media sosial, video pendek, permainan digital, dan berbagai bentuk hiburan instan. Informasi begitu mudah diperoleh, tetapi belum tentu diikuti dengan kebiasaan membaca secara mendalam.

Akibatnya, generasi muda bisa saja sangat cepat memperoleh informasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan informasi dengan baik.

Karena itu, gerakan B.I.R dapat menjadi sebuah gagasan sederhana untuk membangun kembali budaya membaca. Baca berarti membiasakan diri membaca berbagai sumber pengetahuan.

Iqra mengingatkan kita pada perintah pertama dalam wahyu Islam, yaitu membaca sebagai pintu masuk menuju pengetahuan dan peradaban.

Sementara Read menjadi simbol bahwa membaca tidak mengenal batas bahasa, ruang, dan zaman.

B.I.R bukan sekadar permainan kata. Di dalamnya terdapat semangat untuk memperluas makna membaca.

Membaca bukan hanya aktivitas membuka buku, tetapi juga membaca realitas, membaca lingkungan, membaca perubahan zaman, dan membaca berbagai informasi secara kritis.

Generasi yang gemar membaca akan memiliki bekal lebih kuat dalam menghadapi perubahan. 

Mereka tidak mudah menerima setiap informasi sebagai kebenaran.

Mereka terbiasa mencari sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, dan mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan.

Kemampuan semacam ini sangat penting di tengah maraknya informasi palsu, judul provokatif, dan konten yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian.

Namun, persoalannya adalah bagaimana membuat anak-anak dan generasi muda mencintai B.I.R? Jawabannya tidak cukup dengan menyuruh mereka membaca.

Kebiasaan membaca tidak lahir dari perintah semata, tetapi dari lingkungan yang memberikan contoh dan pengalaman menyenangkan.

Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan, masjid, dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya.

Orang tua, misalnya, dapat memperkenalkan buku sejak anak masih kecil. Tidak harus selalu buku pelajaran.

Buku cerita, komik edukatif, biografi tokoh, ensiklopedia, hingga bacaan keagamaan dapat menjadi pilihan.

Yang terpenting adalah menghadirkan buku sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak, bukan sebagai hukuman ketika mereka melakukan kesalahan.

Sekolah juga perlu menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar kegiatan tambahan. 

Lima belas atau dua puluh menit membaca sebelum pembelajaran dapat menjadi kebiasaan yang sederhana tetapi bermakna.

Perpustakaan sekolah harus hadir sebagai ruang yang menarik, nyaman, dan relevan dengan kebutuhan siswa.

Demikian pula masjid. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi dapat berkembang sebagai pusat literasi masyarakat.

Koleksi keislaman, buku anak, literatur keluarga, sejarah, pendidikan, dan pengetahuan umum dapat disediakan agar masyarakat memiliki ruang untuk membaca dan belajar.

Di sinilah makna “Iqra” memperoleh ruang yang lebih luas dalam kehidupan umat.

Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga tradisi membaca di kalangan mahasiswa.

Mahasiswa tidak cukup hanya membaca materi yang diberikan dosen. Mereka perlu membangun kebiasaan membaca buku, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber terpercaya.

Sebab, kualitas pendidikan tinggi sangat berkaitan dengan kualitas budaya literasi yang dibangun di dalamnya.

B.I.R juga tidak harus berhadapan dengan teknologi. Justru teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat budaya membaca.

Buku elektronik, perpustakaan digital, jurnal daring, dan berbagai sumber pengetahuan dapat menjadi alternatif bagi generasi yang lebih akrab dengan perangkat digital.

Tantangannya adalah mengubah gawai dari sekadar alat hiburan menjadi perangkat pembelajaran.

Pada akhirnya, membangun generasi pecinta B.I.R bukanlah pekerjaan satu lembaga. Ini merupakan gerakan bersama.

Anak-anak perlu diperkenalkan dengan buku, remaja perlu diberikan ruang untuk membaca, dan orang dewasa perlu menjadi teladan.

Mari menjadikan B.I.R (Baca, Iqra, dan Read) sebagai sebuah gerakan sederhana untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga mampu memahami, menilai, dan menggunakannya secara bijak.

Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang banyak menghasilkan informasi, tetapi bangsa yang memiliki generasi yang gemar membaca dan mampu mengubah pengetahuan menjadi kehidupan yang lebih baik.

B.I.R mungkin hanya tiga kata, tetapi dari tiga kata itu dapat tumbuh sebuah generasi yang cinta ilmu, cinta pengetahuan, dan cinta membaca.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.