BATAM, TRIBUNBATAM.id - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Djamari Chaniago menegaskan, Indonesia tidak boleh menjadi jalur transit, tempat penyimpanan, apalagi pasar bagi peredaran narkotika.
Pernyataan tersebut disampaikan Djamari saat konferensi pers terkait pengungkapan kasus penyelundupan narkotika di Dermaga Bea Cukai Batam di Tanjunguncang, Jumat (21/8/2026).
Djamari mengapresiasi keberhasilan tim gabungan yang terdiri dari sejumlah instansi dalam menggagalkan upaya penyelundupan narkotika dalam jumlah besar.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hasil kerja satu instansi maupun satu kelompok saja. Operasi itu merupakan buah dari sinergi dan kerja sama berbagai pihak dalam menjaga wilayah Indonesia dari ancaman narkotika.
"Keberhasilan yang diraih bukan kerja satu instansi atau satu kelompok, tetapi kerja tim. Ini juga merupakan kado istimewa dalam rangka kemerdekaan Republik Indonesia," kata Djamari.
Ia menilai pengungkapan kasus narkotika dalam jumlah besar tersebut menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga masyarakat dari bahaya peredaran barang terlarang.
Djamari mengatakan, upaya pemberantasan narkotika harus terus dilakukan secara bersama-sama.
Terlebih, Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan banyak pintu masuk yang berpotensi dimanfaatkan jaringan narkotika internasional.
"Negeri kita ini banyak pintu. Banyak pintu masuk dari orang luar maupun orang-orang yang keluar dari dalam. Oleh karena itu, kita harus waspada," tegas Djamari.
Djamari juga menyoroti besarnya dampak sosial dan ekonomi yang dapat ditimbulkan apabila narkotika dalam jumlah besar tersebut berhasil beredar di masyarakat.
Menurutnya, selain menyelamatkan masyarakat dari ancaman penyalahgunaan narkotika, pengungkapan tersebut juga mencegah munculnya beban besar yang harus ditanggung negara untuk penanganan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika.
"Kalau kita bicara secara matematis, kita cegah dampak yang sangat besar. Kalau satu orang saja membutuhkan biaya rehabilitasi dalam waktu enam bulan, tentu nilainya tidak kecil," katanya.
Djamari menegaskan, keberhasilan operasi tersebut harus menjadi pemicu bagi seluruh aparat untuk semakin memperkuat pengawasan dan pemberantasan jaringan narkotika.
Ia meminta operasi serupa terus dilakukan dan tidak berhenti hanya karena telah berhasil menggagalkan satu pengiriman narkotika.
"Saya ucapkan terima kasih kepada semua jajaran yang terlibat dalam operasi seperti ini. Dengan harapan, lanjutkan terus operasi yang dilakukan," ujarnya.
Djamari kembali menegaskan pesan pemerintah kepada seluruh jaringan pengedar narkotika bahwa Indonesia bukan tempat yang aman untuk menyimpan maupun memasarkan narkotika.
"Indonesia tidak boleh menjadi tempat penyimpanan. Indonesia tidak boleh menjadi tempat transit, dan Indonesia pun tidak boleh menjadi pasar narkotika," tegasnya.
Djamari berharap sinergi antarinstansi dalam pemberantasan narkotika semakin kuat sehingga peredaran barang ilegal tersebut dapat dicegah sejak dari jalur masuk hingga ke jaringan distribusinya.
"Ini adalah upaya bersama untuk melindungi manusia. Saya berharap kerja sama seperti ini terus dikembangkan, sehingga barang-barang ilegal yang masuk maupun keluar dapat kita cegah bersama-sama," kata Djamari. (Tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang)