TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Duo indie pop asal Yogyakarta, DOMAPINE, kembali memperkenalkan karya terbaru mereka melalui single kelima bertajuk 'Unchanged'. Lagu yang dirilis pada 30 Juli 2026 ini menjadi lead single dari mini album 'Fantasy Parade' yang dijadwalkan rilis pada September mendatang.
DOMAPINE beranggotakan Erika Kawengian dan Ruth Daniela. Keduanya dipertemukan oleh kecintaan terhadap melodi sederhana dan kemudian mengembangkan musik yang banyak dipengaruhi indie pop.
Dalam karya mereka, Erika dan Ruth memadukan lapisan warna alternative dan indie power pop dengan harmoni vokal yang menjadi salah satu karakter musik DOMAPINE.
Di tengah kesibukan masing-masing, keduanya membawa warna yang segar dan berani dalam skena musik Yogyakarta.
'Unchanged' menjadi kelanjutan dari gagasan yang sebelumnya muncul dalam single 'Some Time'.
Erika menjelaskan, ada sebuah pertanyaan yang beberapa kali muncul dalam karya tersebut, yakni “why would I change?”.
Pertanyaan itu kemudian menjadi salah satu titik berangkat bagi 'Unchanged'.
Lagu ini memperlihatkan kontras antara sesuatu yang dipahami secara rasional dengan apa yang masih dirasakan secara emosional.
Hal tersebut tergambar dalam penggalan lirik, “What's past is past, reproaches can't last. I'm still bitter, still unsure, still incapable, insecure!”
Kalimat “What's past is past” menyampaikan gagasan bahwa masa lalu tidak dapat diubah dan seharusnya ditinggalkan.
Namun, bagian berikutnya justru membawa pendengar masuk ke dalam kondisi emosional yang masih tersisa.
Baca juga: Benarkah Selingkuh Itu Keturunan? Sekali Selingkuh, Pasti Mengulanginya?
Meskipun DOMAPINE memahami bahwa mereka seharusnya melanjutkan hidup, proses untuk benar-benar pulih ternyata tidak selalu berjalan beriringan.
Dampak emosional dari masa lalu masih dapat membekas, seperti rasa pahit, keraguan terhadap diri sendiri maupun masa depan, hingga perasaan tidak cukup mampu atau tidak cukup baik, terlepas dari apakah anggapan tersebut benar secara objektif. Ada pula rasa kurang percaya diri yang masih bertahan.
Perasaan-perasaan tersebut menjadi sesuatu yang lumrah dialami mereka yang berada di usia 20-an, sebuah fase transisi dari remaja menuju dewasa.
Pada titik ini, seseorang tidak lagi cukup kekanak-kanakan untuk mengabaikan logika, tetapi juga belum cukup dewasa untuk sepenuhnya memahami dan menerima kompleksitas emosinya sendiri.
“Secara keseluruhan, kutipan ini menggambarkan ketegangan antara menerima bahwa masa lalu telah berlalu secara logis dan tetap membawa konsekuensi emosionalnya,” ujar Erika.
Menurutnya, makna lagu tersebut bukan semata-mata tentang menolak untuk melepaskan masa lalu.
'Unchanged' juga berbicara tentang kesadaran bahwa proses penyembuhan tidak terjadi hanya karena seseorang memutuskan bahwa semuanya telah berakhir.
Pengulangan kata “still” atau “masih” semakin menegaskan perasaan tersebut. Meskipun DOMAPINE memahami bahwa masa lalu telah usai, emosi yang ditinggalkannya tetap bertahan.
“Dengan cara yang singkat namun kuat, kutipan ini mengungkapkan bahwa pemahaman dan pemulihan seringkali berjalan tidak selalu dalam waktu yang bersamaan,” imbuh Ruth.
Gagasan mengenai pergulatan di usia 20-an tersebut kemudian berlanjut dalam mini album 'Fantasy Parade' yang dijadwalkan rilis pada September 2026.
Berisi lima lagu, mini album ini mengangkat fase kehidupan ketika seseorang mulai merasa waktu terus berjalan, sementara berbagai impian yang dimiliki belum sepenuhnya hilang.
DOMAPINE menggambarkan usia 24 hingga 29 tahun sebagai masa yang terasa aneh. Pada fase tersebut, mimpi belum mati, tetapi mulai harus bernegosiasi dengan kenyataan. Ada berbagai kemungkinan tentang kehidupan yang mungkin dijalani, yang terkadang muncul ketika seseorang sedang menjalani rutinitas sehari-hari, seperti terjebak di tengah kemacetan, menjawab email, atau sekadar menatap diri sendiri di depan cermin dan bertanya apakah dirinya sudah tertinggal.
Judul 'Fantasy Parade' menggambarkan parade berbagai pikiran, kecemasan, fantasi, dan identitas yang terus berjalan di dalam pikiran.
Parade tersebut terasa ramai, penuh warna, dan terkadang berlebihan, tetapi pada saat yang sama juga menyimpan kesepian.
Kelima lagu di dalam mini album tersebut akan membawa berbagai fantasi yang berantakan, emosional, dan sering kali saling bertentangan.
Cerita itu menjadi gambaran kehidupan batin seseorang yang sedang berusaha memahami keberadaannya di tengah rutinitas sehari-hari.
Dalam proses penggarapannya, DOMAPINE menggandeng Goldan Tambayong dari Biru Baru sebagai co-producer.
Kolaborasi tersebut turut membantu menerjemahkan keresahan dan kebingungan yang menjadi benang merah 'Fantasy Parade' ke dalam musik.
Bagi DOMAPINE, kebingungan menghadapi masa depan dan perasaan seperti tertinggal mungkin bukan pengalaman yang hanya dirasakan oleh satu orang.
Ada kemungkinan bahwa perasaan tersebut menjadi kondisi yang juga dialami banyak orang ketika berada dalam fase kehidupan yang sama.
'Fantasy Parade' kemudian menjadi ruang bagi DOMAPINE untuk membicarakan fase tersebut melalui lima lagu.
Sebuah fase ketika seseorang mungkin belum menemukan semua jawabannya, tetapi perlahan belajar memahami berbagai pikiran dan perasaan yang muncul di dalam dirinya.(nto).