Sasar Lebih dari 1.000 KK Terdampak Gempa di Nagekeo, 12 Truk Bantuan Diberangkatkan ke NTT
Glery Lazuardi August 22, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Sebanyak 12 truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan untuk penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) diberangkatkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jumat (21/8/2026).

Bantuan diprioritaskan untuk Kabupaten Nagekeo karena distribusi bantuan ke wilayah tersebut dinilai masih terbatas.

“Nagekeo menjadi prioritas karena informasi yang kami terima, bantuan yang masuk ke wilayah tersebut masih cukup terbatas. Karena itu, kami berupaya mengirimkan bantuan secara langsung agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) saat pelepasan bantuan.

Baca juga: Bantuan Sembako dan Kebutuhan Bayi Kembali Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa NTT

BHS mengatakan, distribusi bantuan menghadapi tantangan akibat kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak gempa, termasuk jalan dan jembatan.

“Kami berharap proses pengiriman dan distribusi dapat berjalan lancar. Memang kondisi infrastruktur di beberapa titik terdampak cukup berat, ada jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan. Namun, kami akan berupaya agar bantuan ini tetap bisa sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Bantuan tersebut berasal dari BHS Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus Penasihat Utama PT Dharma Lautan Utama Holding, serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Dharma Lautan Utama Holding dan asosiasi Gapasdap.

Pihaknya juga menyediakan kapal untuk mendukung pengiriman bantuan ke wilayah NTT.

Sebelum pengiriman dilakukan, pihak pengirim berkoordinasi dengan posko bencana dan masyarakat setempat untuk mengetahui kebutuhan yang paling mendesak.

“Kami tidak ingin bantuan yang dikirim justru tidak sesuai kebutuhan. Karena itu, sebelumnya kami berkoordinasi dengan posko bencana dan masyarakat di lokasi untuk mengetahui barang apa saja yang paling dibutuhkan para penyintas,” jelasnya.

Bantuan yang dikirim antara lain susu, obat-obatan, perlengkapan ibu dan anak, selimut, generator set (genset), kabel, serta kebutuhan logistik lainnya. Bantuan tersebut ditujukan untuk lebih dari 1.000 kepala keluarga terdampak gempa.

Selain kebutuhan pokok, BHS menilai penanganan pascabencana perlu mencakup pemulihan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak. Menurutnya, pendampingan psikososial diperlukan untuk membantu penyintas menghadapi dampak bencana.

“Trauma healing harus menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Anak-anak yang mengalami atau menyaksikan bencana tentu membutuhkan pendampingan agar trauma mereka tidak berlarut-larut,” tuturnya.

BHS bersama PT Dharma Lautan Utama dan Gapasdap mendorong pemerintah daerah, kepolisian, rumah sakit, serta relawan memperkuat layanan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Sejumlah mainan edukatif juga disertakan dalam pengiriman bantuan untuk anak-anak di pengungsian. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bermain sekaligus membantu mengurangi tekanan psikologis yang dialami anak-anak akibat bencana.

“Kami juga menyertakan mainan edukatif untuk anak-anak. Ini memang sederhana, tetapi kami berharap bisa membantu mereka kembali ceria dan memberikan ruang untuk bermain di tengah situasi sulit yang mereka alami,” ungkap BHS.

Di bidang pendidikan, BHS meminta pemerintah mempercepat pendataan dan pemulihan fasilitas sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa.

“Jangan sampai anak-anak terlalu lama kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah yang rusak harus segera didata dan dilakukan percepatan pembangunan atau perbaikan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal,” tegasnya.

 

BHS juga mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang mengerahkan sejumlah menteri untuk mempercepat penanganan bencana di NTT.

Ia berharap koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, dan masyarakat terus diperkuat agar penanganan tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat.

“Yang paling penting sekarang adalah memastikan masyarakat tidak merasa sendirian menghadapi bencana. Semua pihak harus bergerak bersama, baik dalam memenuhi kebutuhan dasar, memberikan pendampingan psikologis maupun mempercepat pemulihan infrastruktur dan pendidikan,” pungkasnya.

Gempa besar di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan magnitudo 7,7.

Episenter berada di Laut Flores, sekitar 30 km timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 km.

Kronologi

Waktu: 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA.

Lokasi: Laut Flores, dekat Nagekeo.

Mekanisme: Sesar naik Flores Back-Arc Thrust.

Tsunami: BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini, gelombang kecil (0,2–1,6 m) terdeteksi di beberapa titik pesisir, status dicabut pukul 07.30 WIB.

Korban & Dampak di Nagekeo

Korban jiwa: 8 orang meninggal di Nagekeo.

Korban luka: Puluhan orang dirawat di RSUD Bajawa dan fasilitas kesehatan lokal.

Kerusakan: Rumah warga, sekolah, dan fasilitas umum rusak berat.

Pengungsian: Ratusan warga mengungsi ke dataran tinggi di sekitar Mbay

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.