Kronologi Meninggalnya Ahmad Zaki Relawan Gempa di Flores, Minta Bukakan Jaket dan Helm yang Dipakai
Rusaidah August 22, 2026 05:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Sosok inspiratif, relawan Komunitas Gerak Bareng, Ahmad Zaki (42), meninggal dunia saat tengah melakukan aksi kemanusiaan di Flores Nusa Tenggara Tumur (NTT).

Ahmad Zaki meninggal dunia pada Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 16.40 WITA di wilayah Satar Padut, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Belum diketahui penyebab meninggalnya Ahmad Zaki meski dugaan mengarah kepada kelelahan dalam bertugas.

Sebelumnya, Ahmad Zaki sempat mengunggah video keberangkatannya membantu korban gempa NTT dengan sejumlah relawan pada Minggu, 16 Agustus 2026.

"Bismillah, berharap keridhaan Allah, semoga hadirnya kita memberi manfaat kepada masyarakat," tulis Zaki pada unggahan Instagram, 16 Agustus 2026.

Kini jenazah Ahmad Zaki telah dipulangkan pada Sabtu (22/8/2026) pagi dari Manggarai menuju Labuan Bajo sebelum diterbangkan ke ibu kota.

Baca juga: Rekam Jejak Raja Juli, Menteri Kehutanan Dinilai Gagal Kendalikan Karhutla, Dulu Didesak Mundur

Sebelum diberangkatkan, jenazah sempat dibawa ke Masjid Nurul Huda Reo pada Jumat sekitar pukul 17.20 WITA untuk menjalani proses pemandian, pengafanan, dan pelaksanaan salat jenazah.

Kronologi Meninggalnya Ahmad Zaki

Ahmad Zaki meninggal dunia pada Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 16.40 WITA di wilayah Satar Padut, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Korban bersama tiga rekannya diketahui telah berada di Manggarai sejak hari Minggu untuk mendistribusikan logistik bencana.

“Korban bersama tiga rekannya berangkat dari Posko Relawan Gerak Bareng di halaman Masjid Nurul Huda Reo menuju Satar Padut untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa,” ujar Levi.

Dalam perjalanan sekitar pukul 14.00 WITA, Ahmad Zaki yang mengemudikan Toyota Fortuner bernomor polisi EB 1305 GC tiba-tiba menghentikan kendaraan dan meminta bantuan rekannya untuk melepas helm serta jaket yang ia kenakan.

Tak lama berselang, ia kehilangan kesadaran.

Rekan-rekan korban sempat melarikannya ke Posko Medis Damer, namun dokter menyatakan korban telah meninggal dunia.

Berdasarkan informasi awal, korban diduga mengalami kelelahan akibat aktivitas kemanusiaan yang intens.

Atas peristiwa duka tersebut, jajaran kepolisian menyampaikan apresiasi sekaligus belasungkawa mendalam atas dedikasi almarhum.

“Kami turut berduka cita atas meninggalnya Saudara Ahmad Zaki. Beliau datang ke Manggarai dengan niat kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak gempa. Semoga amal dan kebaikannya diterima Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan,” ungkap Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah

Sebelum meninggal dunia, pria yang akrab disapa Bang Jek itu sempat membagikan kabar terbaru aktivitasnya di NTT melalui akun Instagram pribadinya, @ahmadzaki_ali, pada Jumat.

Ia mengungkapkan hari ini adalah hari keenamnya di lokasi bencana.

"Alhamdulillah, sekarang Jumat tanggal 21 Agustus 2026, saya sudah enam hari berada di NTT, dan alhamdulillah sebagian besar amanah kawan-kawan baik telah tersampaikan, tersalurkan ke ratusan keluarga yang terdampak gempa," ucapnya.

"Kondisi saat ini masih mengkhawatirkan, ditambah gempa susulan yang terjadi," lanjutnya.

Pada keterangan atau caption unggahan video tersebut, ia menyebut logistik mulai menipis.

Baca juga: Sosok Letjen Purn Kiki Syahnakri, Eks Wakasad Sebut Pencalonan Gibran sebagai Wapres Acak-acak Hukum

"Logistik kita menipis, semoga Jumat ini bisa bertambah lagi. Agar makin banyak dan luas jangkauan bantuan yang bisa kita salurkan."

"Di Fase Tanggap darurat kita akan Fokus pada Kebutuhan dasar, oleh karenanya kita butuh support orang orang baik," tulisnya.

Sosok Ahmad Zaki

Ahmad Zaki Ali bukan sekadar nama dalam gerakan sosial. 

Berusia 41 tahun, almarhum merupakan founder Yayasan Gerak Bareng, sebuah lembaga kemanusiaan yang berfokus pada program pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui unggahan di akun Instagram resmi @ayogerakbareng, almarhum dikenang tidak hanya sebagai pendiri, melainkan juga sebagai guru, ustaz, sahabat, dan sosok abang yang konsisten membagikan ilmu, keteladanan, serta pengabdian bagi sesama.

Jejak pengabdian almarhum terentang luas, baik di tingkat internasional maupun pelosok dalam negeri. 

Pada tahun 2025, almarhum memimpin penyaluran bantuan untuk pengungsi Palestina di Camp Suknah (Provinsi Zarqoh) dan Mahatoh (Provinsi Amman), Jordania. 

RELAWAN GUGUR - Sosok relawan kemanusiaan sekaligus Founder Yayasan Gerak Bareng, Ahmad Zaki Ali, (Dok istimewa)

Bantuan tersebut meliputi sembako, 200 paket makanan siap santap, selimut, pakaian hangat, layanan psikososial, serta pasokan air bersih.

Di dalam negeri, almarhum aktif menjangkau wilayah pedalaman Indonesia Timur. 

Pada akhir Ramadan 2025, ia menyalurkan zakat dan infak untuk para dai, mualaf, dan warga di daerah terpencil, salah satunya di Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Selain itu, almarhum turun langsung menangani dampak bencana tanah longsor di Sukabumi pada 2025 dengan menginisiasi pembuatan jalur pipanisasi darurat sepanjang 3,5 kilometer di Desa Sukajadi, Kecamatan Cimanggu, guna mengalirkan air bersih bagi warga setempat.

Pengabdian di Garis Depan Gempa NTT

Saat gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026, almarhum bergerak cepat. 

Bersama tim relawan, ia berangkat menuju lokasi bencana pada Minggu, 16 Agustus 2026 hanya sehari setelah guncangan pertama terjadi.

Kesadaran akan panggilannya ia tuliskan dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya, @ahmadzaki_ali.

"Bismillah, berharap keridhaan Allah, semoga hadirnya kita memberi manfaat kepada masyarakat," tulis Zaki pada unggahan Instagram, 16 Agustus 2026.

Hingga hari terakhirnya, almarhum terus melaporkan perkembangan penyaluran bantuan di lapangan. 

Melalui unggahan video pada Jumat (21/8/2026), ia menyampaikan kondisi terkini yang dihadapi para pengungsi.

"Alhamdulillah, sekarang Jumat tanggal 21 Agustus 2026, saya sudah enam hari berada di NTT, dan alhamdulillah sebagian besar amanah kawan-kawan baik telah tersampaikan, tersalurkan ke ratusan keluarga yang terdampak gempa," ucapnya di akun Instagramnya, pada Jumat (21/8/2026).

"Kondisi saat ini masih mengkhawatirkan, ditambah gempa susulan yang terjadi," lanjutnya.

Dalam keterangan tertulis pada unggahan tersebut, almarhum menyuarakan kebutuhan logistik warga pengungsian yang terus memuncak di masa tanggap darurat.

"Logistik kita menipis, semoga Jumat ini bisa bertambah lagi. Agar makin banyak dan luas jangkauan bantuan yang bisa kita salurkan."

"Di Fase Tanggap darurat kita akan Fokus pada Kebutuhan dasar, oleh karenanya kita butuh support orang orang baik," tulisnya.

(Bangkapos/com/TribunSumse.com/Tribunnews.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.