Taipei (ANTARA) - Dana Kerja Sama dan Pembangunan Internasional (International Cooperation and Development Fund/ICDF) Taiwan mendorong penguatan kerja sama teknologi dengan Indonesia, terutama dalam pengembangan sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.
Sekretaris Jenderal ICDF Taiwan Yu-Lin Huang mengatakan Indonesia memiliki kondisi yang baik untuk mengembangkan teknologi tinggi, seiring berkembangnya pusat data AI dan investasi perusahaan Taiwan.
"Untuk kerja sama teknologi, ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk memperkuatnya. Kita perlu meningkatkan hubungan kita dengan kerja sama teknologi," kata Huang.
Pernyataan itu disampaikan Huang dalam pertemuan dengan delegasi media dalam kerangka Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New Southbound Policy/NSP) Taiwan di Kantor ICDF, Taipei, Sabtu.
“Untuk AI dan semikonduktor, saya tahu ada banyak pusat data AI di Indonesia. Anda juga sudah memiliki beberapa pusat data AI di Indonesia,” ujarnya.
Huang menuturkan sejumlah perusahaan Taiwan telah berinvestasi di Indonesia, dan berharap hubungan Taiwan dan Indonesia dapat diperkuat untuk memfasilitasi kerja sama teknologi pada masa mendatang.
"Indonesia secara umum berada dalam kondisi yang sangat baik untuk mengembangkan teknologi tinggi lebih lanjut. Dan saya berharap hubungan kita (Taiwan dan Indonesia) dapat diperkuat sedemikian rupa untuk memfasilitasi kerja sama teknologi kita di masa depan," tuturnya.
Di bidang ketahanan pangan, Huang mengatakan ICDF bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan dalam pengembangan varietas jagung baru.
Kerja sama tersebut dilakukan melalui proyek pengembangan industri benih jagung pakan yang berlangsung hingga Desember 2028. Proyek itu bertujuan membangun model produksi benih jagung hibrida komersial dan rantai pasok benih hibrida domestik, dengan target penggunaan benih jagung F1 jenis flint produksi dalam negeri mencapai 22,5 persen di Sulawesi Selatan.
“Dari pertanian ke pasar, itu juga sangat penting. Anda dapat melihat produksi para petani berkualitas tinggi diterima oleh toko-toko rantai kelas atas. Jadi, lebih menguntungkan bagi petani untuk menjual produk mereka langsung ke pasar,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga diterapkan melalui proyek inkubasi dan pemasaran agribisnis di Jawa Barat yang membantu petani meningkatkan teknologi produksi, pengelolaan rantai pasok, serta akses ke pasar pangan olahan.
Proyek yang berlangsung hingga Desember 2028 itu menargetkan peningkatan nilai penjualan usaha agribisnis peserta sebesar 75 persen melalui peningkatan daya saing dan nilai tambah produk. Proyek tersebut juga membuka peluang transfer teknologi dan pencocokan bisnis bagi usaha kecil dan menengah Taiwan di sektor agribisnis Indonesia.
Menurut Huang, keterhubungan antara produksi pertanian dan pasar penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.





