TRIBUNBENGKULU.COM - Perjuangan Asma Wafa Ahdina untuk menjadi calon kadet putri Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahanan (Unhan) RI berakhir pilu.
Setelah mengikuti rangkaian seleksi selama berbulan-bulan dan dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat, Wafa justru memilih mundur.
Keputusan tersebut diambil Wafa setelah mengaku mengetahui adanya arahan untuk melepas jilbab selama menjalani pendidikan di Unhan.
Cerita itu kemudian ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya, @wafaahdina, Selasa (18/8/2026).
Dalam unggahannya, Wafa menceritakan kembali pengalamannya mengikuti proses seleksi Program S-1 Kedokteran Unhan yang berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026.
Bagi Wafa, proses tersebut bukan perjalanan singkat.
Ia telah melewati berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat.
Namun, di tengah perjalanan itu, Wafa mengaku mulai mendengar informasi mengenai kewajiban melepas jilbab.
Informasi tersebut, menurut Wafa, disampaikan secara lisan saat wawancara akademik pada 7 Juni 2026.
Salah satu pengalaman yang paling disoroti Wafa terjadi saat tes kesehatan umum di Aula Merah Putih pada 8 Juni 2026.
Wafa mengaku seorang pengawas nonmuslim dari Cakadet Kelompok 2 sempat membahas adanya calon kadet yang mengundurkan diri karena belum siap melepas jilbab.
Menurut Wafa, pengawas tersebut bahkan menyampaikan bahwa calon kadet seharusnya sudah mengetahui aturan tersebut sejak awal.
“Hari ini ada tuh, 'kan, temen kelompok kalian? mengundurkan diri gara-gara ga siap lepas jilbab. Emangnya kalian ga tau? Harusnya udah tahu dari awal kan? Nanti, kalau udah diterima, ga boleh pakai jilbab. Jadi, kl udah di sini harus siap lepas jilbab. Sayang, udah nyampe sini. Tapi kalau memang belum siap, mending mengundurkan diri dari sekarang,” ujar pengawas tersebut, seperti dikutip Wafa dalam unggahannya, Kamis (20/8/2026).
Wafa kemudian menuliskan bahwa pada hari tersebut memang ada seorang calon kadet putri berjilbab dari jurusan Kedokteran yang mengundurkan diri karena alasan tersebut.
Kemudian aturan mengenai lepas jilbab kembali muncul pada 24 Juni 2026.
Saat apel pagi di Lapangan Mess Srikandi, Wafa mengaku seorang pengawas berjilbab dari Kadet Putri Cohort 7 menyampaikan bahwa kadet putri yang mengenakan jilbab akan diminta melepasnya karena rambut mereka akan dipotong.
“Untuk yang berjilbab, berarti mulai sore nanti kalian sudah tidak memakai jilbab lagi karena rambut kalian akan dipotong. Nggak apa-apa ya, insyaAllah, Allah Maha Tahu niat kita di sini untuk belajar,” ujar pengawas tersebut, menurut Wafa.
Pada hari yang sama, Wafa kembali mengaku mendengar penjelasan mengenai jilbab saat pengarahan kegiatan di Aula Merah Putih.
Ia menyebut Ketua Pengawas PMB yang disebutnya pria nonmuslim mengatakan bahwa beberapa kadet putri sudah memilih melepas jilbab dan memotong rambut.
“Semalam, beberapa kadet putri sudah ada yang memilih melepas jilbabnya dan langsung memotong rambutnya. Ya, itu pilihan mereka ya,” ujar Ketua Pengawas PMB tersebut, seperti ditulis Wafa.
Momen lain yang diceritakan Wafa terjadi ketika penandatanganan kontrak di Aula Merah Putih.
Saat itu, Wafa mengaku berusaha memastikan apakah aturan mengenai kewajiban melepas jilbab memang tercantum dalam surat perjanjian.
“Mengenai aturan lepas jilbab, apakah ada aturan tertulisnya? Karena saya lihat di surat perjanjian tidak ada poin spesifik yang menyebutkan,” tanya Wafa.
Menurut Wafa, seorang perempuan yang ia sebut dengan inisial Ibu D menjawab bahwa aturan tersebut memang tidak tercantum.
“Iya, nggak ada,” jawab Ibu D, menurut Wafa.
Wafa kemudian mempertanyakan alasan di balik aturan tersebut.
“Lantas, kalau boleh tau, kenapa harus lepas jilbab ya, Bu?” tanyanya.
Menurut Wafa, Ibu D menjawab bahwa hal tersebut merupakan arahan seseorang yang pernah menjabat sebagai menteri pertahanan.
“Itu arahan xxx saat jadi menteri pertahanan,” jawab Ibu D, menurut Wafa.
Belum berhenti di situ, Wafa kemudian bertanya apa yang akan terjadi jika dirinya memilih tetap mengenakan jilbab.
“Tapi, kalau saya tetap pakai jilbab, bagaimana?” tanya Wafa.
Menurut Wafa, jawaban yang diterimanya tegas.
“Ya, nggak boleh. Nggak bisa. Dari cohort 1 sampai sekarang nggak ada kadet putri yang pakai jilbab,” jawab Ibu D, menurut Wafa.
Wafa juga mengaku mempertanyakan adanya perbedaan perlakuan dengan kadet dari Palestina.
“Tapi, kenapa kadet dari Palestina boleh memakai jilbab?” tanya Wafa.
Menurut Wafa, ia mendapat jawaban bahwa kadet Palestina merupakan pengecualian karena tidak terikat dengan aturan negara Indonesia.
“Mereka pengecualian. Ga terikat dengan aturan negara kita,” jawab Ibu D, menurut Wafa.
Pengalaman tersebut kemudian membuat Wafa mempertanyakan aturan yang ia dengar selama proses seleksi.
Ia mengaitkannya dengan sila pertama Pancasila, Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, serta Peraturan Panglima TNI Nomor 11 Tahun 2019 tentang Seragam Dinas Tentara Nasional Indonesia.
“Kenapa ya, UNHAN?” tulis Wafa.
Ia kemudian menyampaikan pertanyaan yang menjadi inti unggahannya.
“Di saat sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, di saat Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945 berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu, serta di saat aturan mengenai penggunaan jilbab bagi praurit wanita sudah diatur dalam Peraturan Panglima TNI (Perpang) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Seragam Dinas Tentara Nasional Indonesia, ‘Kenapa mahasiswanya justru dilarang mengenakan jilbab?’” tulis Wafa.
Pada akhirnya, Wafa memilih mundur dari proses tersebut pada 24 Juni 2026.
Keputusan itu diambil setelah ia mengetahui adanya arahan yang menurutnya mengharuskan calon kadet putri melepas jilbab selama pendidikan.
Meski telah melewati rangkaian seleksi sejak Maret hingga Juni dan dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat, Wafa memilih mempertahankan prinsip yang diyakininya.
Namun, Wafa menegaskan unggahannya bukan untuk memaksakan pandangan kepada orang lain.
“Perlu digarisbawahi, saya menulis ini sebagai seseorang yang cukup strict dengan jilbab. Tidak ada paksaan bagi teman-teman yang berbeda pandangan dengan saya,” tulisnya.
Ia justru menyebut unggahan tersebut ditujukan kepada calon pendaftar Unhan yang memiliki pandangan serupa dengannya.
“Akan tetapi, untuk teman-teman yang memiliki pandangan sama terkait jilbab dan tertarik mendaftar ke UNHAN, begitulah kenyataannya saat ini. Sekali lagi, ini hanya preferensi, keputusan tetap ada di tangan masing-masing,” ujarnya.
Wafa juga menegaskan dirinya tidak bermaksud mencampuri apalagi mengubah aturan yang telah berlaku di Unhan.
Menurutnya, yang ingin disampaikan adalah perlunya kejelasan mengenai aturan tersebut.
“Sementara itu, saya menulis ini bukan ingin mencampuri apalagi mengubah aturan yang telah ada di UNHAN, melainkan ingin memberi saran supaya aturan keharusan melepas jilbab selama masa pendidikan ini dapat diperjelas oleh pihak terkait,” tulis Wafa.
Ia berharap informasi tersebut tidak hanya disampaikan secara lisan setelah calon peserta menjalani berbagai tahapan seleksi.
Dengan begitu, calon kadet berikutnya dapat mengetahui aturan tersebut sejak awal dan mempertimbangkannya sebelum mengikuti rangkaian seleksi.
“Supaya para calon kadet berikutnya yang memiliki prinsip setipe dengan saya dapat mengetahui informasi tersebut secara resmi—bukan dari omongan orang dan tidak merasa usahanya sia-sia,” tulis Wafa.
Asma Wafa Ahdina diketahui berasal dari Kota Depok, Jawa Barat.
Ia merupakan lulusan homeschooling Kelas 12 Paket C dari PKBM Generasi Juara di Kota Depok.
Pendidikan di PKBM tersebut berfokus pada pendidikan karakter berbasis agama, dengan pembentukan akhlak yang disebut mirip dengan pendidikan di pesantren.
Kini, meski tidak melanjutkan pendidikan di Unhan, Wafa mengaku tetap membawa banyak pelajaran dari pengalaman tersebut.
“Mengingat momen-momen kecil ini, jujur saja aku rindu dengan teman-temanku. Aku bangga dengan mereka yang sudah berjuang, juga dengan mereka yang akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan. I miss them and so proud of them,” tulis Wafa.
“Selain banyaknya perasaan yang kurasakan saat itu, banyak juga pelajaran yang dapat kuambil dari pengalaman ini. Aku percaya, skenario inilah yang terbaik menurut-Nya,” tulisnya.
Wafa pun meminta doa agar perjalanan pendidikan kedokterannya tetap berjalan lancar meski kini akan ditempuh di kampus lain.
“Mohon doanya untuk kelancaran studi kedokteranku di kampus yang nggak kalah keren ya, semua,” tulis Wafa.