UFL+ Teknologi Lampu Bawah Air dan Digitalisasi Nelayan Dorong Perikanan di Lasolo Konawe Utara
Aqsa August 23, 2026 01:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KONUT - Upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir terus dilakukan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sesuai dengan kebutuhan nelayan.

Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah, ruang lingkup Pemberdayaan Wilayah.

Dengan judul “Penerapan UFL+ (Underwater Fish Lamp Plus) Terintegrasi Sistem Informasi Kelautan dan Agribisnis Nelayan, Guna Mewujudkan RPJMD Pengembangan Kawasan Perikanan Terintegrasi di Kecamatan Lasolo Konawe Utara” tahun kedua, 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim Universitas Halu Oleo (UHO) bersama mitra pemerintah dan masyarakat di Desa Muara Tinobu, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Program berlangsung pada periode Mei-Desember 2026, dengan salah satu kegiatan utama dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Baca juga: Teknologi UFL+ ver.2 Bantu Nelayan Bagan Sulawesi Tenggara, Dikembangkan Dosen UMK dan UHO Kendari

Tim pelaksana diketuai oleh Kobajashi T Isamu SPi MP dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UHO.

Dengan anggota Prof Dr Ir Ansharullah MSc (Teknologi Hasil Pertanian/ Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UHO).

Hasnia Arami SPi MSi (FPIK UHO), dan Erni Danggi SP MSi (Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara/Unsultra).

UFL+ untuk Meningkatkan Produktivitas Nelayan

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah UFL+ (Underwater Fish Lamp Plus) yang diintegrasikan dengan sistem informasi parameter kelautan secara real time. 

Teknologi ini diarahkan untuk membantu nelayan memperoleh informasi kondisi perairan sekaligus meningkatkan efektivitas kegiatan penangkapan ikan.

Dalam pelatihan, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan UFL+ serta sistem informasi kelautan yang dapat memberikan informasi parameter lingkungan perairan. 

Selain itu, diperkenalkan pula alat ukur hasil tangkapan ikan digital yang membantu nelayan memperoleh data hasil tangkapan secara lebih terukur.

DOSEN DI KONAWE UTARA - Pemateri dan peserta Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Muara Tinobu, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Sultra, Sabtu (18/10/2025). Dalam program ini, sejumlah dosen Universitas Halu Oleo atau UHO Kendari, Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), serta Universitas Muhammadiyah atau UM Kendari memperkenalkan teknologi Underwater Fish Lamp Plus (UFL+) dan Ice Gel untuk membantu para nelayan dan usaha perikanan.
DOSEN DI KONAWE UTARA - Pemateri dan peserta Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Muara Tinobu, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Sultra, Sabtu (18/10/2025). Dalam program ini, sejumlah dosen Universitas Halu Oleo atau UHO Kendari, Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), serta Universitas Muhammadiyah atau UM Kendari memperkenalkan teknologi Underwater Fish Lamp Plus (UFL+) dan Ice Gel untuk membantu para nelayan dan usaha perikanan. (kolase foto handover)

Narasumber kegiatan, Dr Fajriah SPi MSi dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK Universitas Muhammadiyah Kendari.

Dr Fajriah memberikan materi mengenai penerapan UFL+ yang terintegrasi dengan sistem informasi parameter kelautan real time serta penggunaan alat ukur hasil tangkapan ikan digital.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena nelayan tidak hanya membutuhkan teknologi untuk meningkatkan hasil tangkapan, tetapi juga membutuhkan informasi yang dapat membantu proses pengambilan keputusan. 

Dengan demikian, aktivitas penangkapan ikan diharapkan menjadi semakin efektif, efisien, dan berbasis data.

Tidak Berhenti pada Penangkapan Ikan

Pemberdayaan masyarakat dalam program ini tidak hanya berfokus pada sektor penangkapan. 

Tim juga memperkenalkan teknologi pendukung pengolahan hasil perikanan, berupa alat pengering ikan atau para-para/tray serta timbangan produk ikan.

Teknologi sederhana tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan kelompok pengolah ikan. 

Dengan fasilitas pengeringan yang lebih baik, ikan dapat dikeringkan dalam volume yang lebih besar dan proses pengolahan menjadi lebih tertata. 

Timbangan produk juga membantu masyarakat melakukan pengukuran berat produk secara lebih akurat sehingga dapat mendukung pengemasan dan pemasaran.

Menurut kelompok nelayan dan pengolah ikan yang menjadi mitra, penerapan teknologi UFL+ memberikan dampak positif terhadap kegiatan penangkapan. 

“Dengan adanya teknologi UFL+, hasil tangkapan ikan dapat meningkat secara signifikan. Pengadaan para-para/tray juga membantu meningkatkan volume ikan yang dapat dikeringkan,” ungkap mitra kelompok nelayan dan pengolah ikan.

Testimoni tersebut menunjukkan bahwa introduksi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dapat memberikan manfaat langsung, baik pada tahap produksi maupun pengolahan.

Membangun Ekosistem Perikanan Terintegrasi

Program PkM ini diarahkan lebih jauh untuk mendukung RPJMD pengembangan kawasan perikanan terintegrasi di Kecamatan Lasolo. 

Baca juga: Bupati Konut Ikbar Raih Gelar Doktor UHO di Usia 37 Tahun, Kuliah S3 Tingkatkan Kualitas Kebijakan

Konsepnya tidak hanya meningkatkan hasil tangkapan, tetapi membangun keterhubungan antara kegiatan penangkapan, pengolahan, pengukuran hasil, pengeringan, pengemasan, hingga pemasaran produk perikanan.

Karena itu, kegiatan selanjutnya akan diarahkan pada pengolahan kerupuk ikan dan penerapan teknologi pengemasan ikan kering. 

Diversifikasi produk diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil perikanan sehingga masyarakat tidak hanya menjual ikan sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dengan pendekatan tersebut, nelayan dan pengolah ikan diharapkan dapat berkembang dari sekadar pelaku produksi menjadi bagian dari rantai usaha perikanan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Kolaborasi Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat

Keberhasilan program pemberdayaan wilayah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. 

Dalam kegiatan ini, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Konawe Utara menjadi mitra pemerintah, sedangkan kelompok nelayan dan pengolah ikan menjadi mitra sasaran.

Perguruan tinggi berperan dalam menyediakan pengetahuan, teknologi, pendampingan, dan inovasi yang dapat diterapkan sesuai kondisi lokal. 

Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat dukungan kelembagaan dan pembiayaan.

Sementara, masyarakat menjadi pelaku utama yang menjalankan dan mengembangkan teknologi tersebut dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Model kolaboratif ini penting agar program tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai. 

Teknologi yang telah diberikan harus terus digunakan, dirawat, dikembangkan, dan diintegrasikan ke dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Harapan untuk Keberlanjutan

Keberlanjutan menjadi salah satu tujuan utama program PkM tahun kedua ini. 

Tim berharap kelompok nelayan dan pengolah ikan dapat terus menjalankan usaha dengan memanfaatkan IPTEK dan inovasi yang telah diperkenalkan.

Baca juga: Program Bedah Rumah di Konawe Utara, Dinas PKP, Mahasiswa KKN IAIN Kendari, Pemdes Kebut Data RTLH

Dukungan pemerintah daerah juga diharapkan terus diperkuat, khususnya melalui DPMD Konawe Utara, sehingga teknologi dan kegiatan usaha masyarakat dapat dikembangkan secara berkelanjutan. 

Dengan dukungan tersebut, penerapan UFL+, digitalisasi informasi kelautan, pengolahan ikan, pengeringan, dan pengemasan dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi perikanan di Kecamatan Lasolo.

Pada akhirnya, inovasi teknologi bukan sekadar tentang menghadirkan alat baru bagi masyarakat. 

Lebih dari itu, teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata, meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Melalui UFL+ yang dipadukan dengan sistem informasi kelautan dan teknologi pengolahan hasil perikanan, Kecamatan Lasolo diharapkan dapat semakin berkembang sebagai kawasan perikanan yang produktif, terintegrasi, berbasis teknologi, dan berkelanjutan.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, atas dukungan pendanaan.

Sehingga kegiatan pemberdayaan masyarakat ini dapat dilaksanakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat nelayan serta pengolah ikan di Desa Muara Tinobu, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.