TRIBUNPAPUABARAT.COM, BINTUNI - Perjuangan tenaga kesehatan (nakes) di wilayah pesisir kembali menghadirkan kisah yang menyentuh hati.
Seorang bidan bernama Titi Junianti harus menempuh perjalanan laut selama hampir 10 jam dengan perahu kecil demi menyelamatkan pasien menuju tempat rujukan di Teluk Bintuni.
Kisah penuh pengabdian itu dituliskan Titi dalam catatan berjudul “Sepucuk Surat Cinta dari Bidan Pesisir”.
Ia menggambarkan perjalanan yang penuh ketegangan, ketika harus membawa pasien bersama anak-anak dan seorang bayi yang baru lahir melintasi laut yang kemudian berubah ganas.
“Bukan badai yang kutakuti, melainkan keselamatan pasien dan anak-anakku yang saat itu kugenggam,” tulisnya dalam surat yang diterima TribunPapuaBarat.com, Sabtu (22/8/2026).
Baca juga: Menjangkau Kampung Yakati: Langkah Putra Asli Wamesa Dekatkan Akses Kesehatan
Perjalanan yang semula diperkirakan hanya empat hingga lima jam berubah menjadi sepuluh jam penuh perjuangan.
Ombak dan angin terus menghantam perahu, komunikasi terputus, dan pakaian mereka basah oleh air laut.
Tangisan anak-anak yang ketakutan semakin menambah beban psikologis di tengah gelapnya malam.
Meski demikian, Titi tetap tegar. Ia menyerahkan seluruh perjalanan kepada Tuhan, berdoa agar pertolongan segera datang.
Harapan itu akhirnya terjawab ketika cahaya senter dari tim penjemput terlihat mendekat sekitar pukul 23.30 WIT.
Tangis haru pun pecah, menandai akhir dari perjalanan penuh kecemasan.
Baca juga: Dinkes Teluk Bintuni Luncurkan 20 Posyandu ILP: Tekan Angka Kematian
Sekitar pukul 00.20 WIT, Titi bersama pasien dan rombongan akhirnya tiba dengan selamat di Teluk Bintuni.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Kepala Puskesmas Kalitami, rekan-rekan bidan, Polair Bintuni, Dinas Kesehatan, serta keluarga yang terus mendoakan keselamatan mereka.
“Wahai pejuang di ujung gelombang, langkahmu suci di jalan terang. Biar laut meradang dan membentur, jiwa patriotisme pada sesama takkan luntur,” tulis Titi menutup kisahnya.
Perjalanan ini menjadi bukti nyata bahwa pengabdian seorang tenaga kesehatan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa.
Di tengah keterbatasan akses transportasi dan risiko besar, keberanian dan ketulusan seorang bidan pesisir menjelma menjadi inspirasi bagi banyak orang.