TRIBUNNEWS.COM - Suasana lebih tenang terasa di halaman rumah yang kini menjadi tempat Warung Makan Gentha Rasa di kawasan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.
Lokasinya dapat diakses melalui Gang Ledre Laweyan.
Tidak seperti tempat makan yang berada di jalan utama dengan lalu-lalang kendaraan, warung ini berada di dalam gang permukiman warga dengan suasana yang membuat pengunjung betah berlama-lama.
Di tempat inilah perjalanan kuliner keluarga yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade terus berlanjut dengan cita rasa masakan yang diwariskan dan dipertahankan secara turun-temurun.
Warung Makan (WM) Gentha Rasa memiliki perjalanan panjang sejak dirintis sebagai usaha kaki lima pada 1991.
Salah satu pemilik sekaligus generasi kedua WM Gentha Rasa, Rudy Hardjanto (56), mengatakan usaha tersebut awalnya dijalankan oleh kedua orang tuanya menggunakan gerobak dan tenda.
Menu yang dijual kala itu hanya ayam bakar, soto ayam, dan asem-asem.
“Dulu sebenarnya yang dijual tidak seperti yang sekarang. Waktu itu cuma ayam bakar, terus soto ayam sama yang namanya asem-asem,” kata Rudy saat diwawancarai Tribunnews, dikonfirmasi Minggu (23/8/2026).
Usaha tersebut perlahan berkembang. Pada 1998, WM Gentha Rasa mulai pindah ke sebuah kios di sekitar Jalan Dr. Radjiman.
Setelah berjalan selama puluhan tahun, WM Gentha Rasa akhirnya pindah ke rumah keluarga di kawasan Laweyan pada 2025.
Lokasi tersebut memanfaatkan halaman rumah dengan suasana yang sejuk dan tenang.
Salah satu menu yang banyak dicari pengunjung adalah garang asem, olahan ayam berkuah segar dengan cita rasa asam, gurih, dan pedas.
Kuliner ini menggunakan bahan utama berupa potongan ayam. WM Gentha Rasa menggunakan ayam potong, ayam kampung, atau ati ampela.
Bahan utama tersebut dicampur dengan bahan-bahan lainnya, seperti bumbu, santan, telur, potongan tomat, dan cabai utuh.
Setelah tercampur, racikan tersebut diletakkan secukupnya di atas daun pisang untuk kemudian dibungkus dan dikukus menggunakan dandang langseng.
Seluruh proses tersebut ditangani oleh Rudy.
“Itu dari nol. Saya yang bumbu, saya yang racik, saya yang bungkus,” tuturnya.
Garang asem dimasak sekaligus pada pagi hari. Jika habis, menu tersebut tidak dibuat lagi pada hari yang sama.
Resep tersebut berasal dari nenek Rudy, kemudian diturunkan kepada ibunya dan dikembangkan.
Bahan garang asem yang dahulu menggunakan belimbing wuluh kini disesuaikan dengan tomat muda atau tomat hijau karena lebih mudah didapat. Penyesuaian tersebut dilakukan agar rasa yang ditawarkan tetap konsisten.
“Kalau dulu pakai belimbing wuluh. Kalau sekarang pakai tomat karena di samping sulit dicari... ‘Kan kalau hari ini pakai belimbing wuluh, besok tidak, itu nanti resepnya berubah, rasanya juga nggak bisa paten,” jelas Rudy.
Cabai juga dibiarkan utuh karena mempertimbangkan toleransi kepedasan pelanggan.
Selain garang asem, WM Gentha Rasa juga menyediakan kuliner lainnya, seperti rawon, timlo, selat, sup, gudeg, dan sayur tumpang.
Uniknya, warung makan ini juga menyediakan menu masakan harian sebagai menu tambahan. Menu tersebut berganti setiap hari.
“Ada masakan harian, jadi tiap hari kita ada menu ganti. Jadi seperti menu tambahan,” kata Rudy.
Rudy mengatakan pengunjung WM Gentha Rasa tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar Laweyan.
Ia menyebut ada pelanggan dari luar kota dan wisatawan asing yang pernah datang ke rumah makan tersebut.
Pelanggan pun beragam, mulai dari anak-anak hingga lansia.
“Jadi kalau orang-orang yang makan di sini sekarang dari usia balita sampai usia lansia. Anak muda banyak sekali,” ucap Rudy.
Anak muda menjadi salah satu kelompok yang banyak datang karena penasaran setelah melihat informasi mengenai WM Gentha Rasa di media sosial.
WM Gentha Rasa buka Senin–Sabtu mulai pukul 09.00 hingga sekitar 15.30. Sementara itu, pada Minggu, warung makan ini tutup.
Harga menunya berkisar Rp10.000–Rp24.000 per porsi.
Garang asem ayam kampung dibanderol Rp19.000 per porsi tanpa nasi dan Rp22.000 dengan nasi.
Sementara itu, garang asem ayam potong dan ati ampela masing-masing dibanderol Rp18.000 per porsi tanpa nasi dan Rp21.000 dengan nasi.
Di tengah semakin banyaknya usaha kuliner, Rudy menyebut WM Gentha Rasa tetap berusaha mempertahankan cita rasa yang sudah dikenal pelanggan.
Garang asem tetap dibuat dengan cara tradisional dan dibungkus menggunakan daun pisang.
Menurut Rudy, perubahan terlalu jauh justru dapat menghilangkan karakter masakan WM Gentha Rasa.
“Pakemnya, nanti kalau pakai yang lain-lain, Gentha Rasanya hilang,” ujarnya.
Dari gerobak kaki lima pada 1991 hingga menjadi warung makan di kawasan permukiman Laweyan, WM Gentha Rasa terus bertahan dengan cara menjaga resep, proses, dan cita rasa.
Lokasinya yang tersembunyi justru menjadi bagian dari pengalaman menemukan kuliner yang telah bertahan lebih dari tiga dekade.
(mg/Dhesti Qorita Ayun)
(Penulis adalah peserta magang dari Universitas Sebelas Maret.)