TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Memasuki tahap akhir persiapan muktamar, peta persaingan bursa calon Ketua Umum PBNU kian memanas.
Para tokoh PBNU kini mengalihkan gerilya politiknya secara masif ke Kota Makassar.
Safari silaturahmi ini bertujuan mencari dukungan warga NU se-Sulawesi Selatan menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Muktamar ke-35 NU bakal digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 26–30 Agustus 2026.
Pergerakan para tokoh PBNU di Makassar berlangsung dinamis dengan menyasar jajaran pengurus PWNU hingga PCNU se-Sulsel pada waktu yang berbeda.
Pertama, KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, ini memulai safari silaturahmi awal pada Jumat, 5 Juni 2026.
Selanjutnya, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya).
Ketua Umum PBNU bersama Wakil Ketua Umum PBNU hadir menyapa langsung jajaran pengurus dan kiai struktural di Sulsel.
KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dan KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang bersama Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah membangun komunikasi politik dengan jajaran pengurus daerah.
Kemudian KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin.
Ketua PWNU Jawa Timur ini berkunjung ke Hotel Claro Makassar pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Ia bahkan blak-blakan menyatakan kesiapannya bertarung di Muktamar ke-35 NU.
Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar menjadi figur yang paling sering melakukan kunjungan dan konsolidasi kultural di Makassar.
Maraknya gerilya para kandidat mendapat respons dari tokoh senior NU Sulsel, Makmur Idrus Assegaf.
Mantan aktivis Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) itu menilai riak-riak jelang muktamar merupakan hal biasa dalam organisasi.
Ia menegaskan sengitnya atmosfer persaingan kali ini justru menjadi bagian dari dinamika internal NU.
"Inilah Muktamar NU yang paling dinamis karena banyaknya calon," kata Makmur Idrus saat ditemui di Warkop Dg Anas, Jalan Faisal, Makassar, Minggu (23/8/2026) siang.
Ia menilai banyaknya figur yang muncul merupakan bagian dari kedewasaan berorganisasi.
“Dinamika menjelang muktamar itu hal wajar, bukan muktamar namanya kalau tidak ada riak-riak, tetapi yang pasti usai perhelatan kita semua kembali bersatu," lanjutnya.
Namun, ia secara khusus mengingatkan agar para calon Ketum PBNU yang datang ke Makassar tidak sekadar berburu angka suara.
Makmur menegaskan komitmen nyata terhadap kemandirian lembaga di daerah sebagai poin utama yang harus dibawa.
"Para calon Ketum PBNU harus memikirkan kemandirian lembaga NU, mulai dari sektor ekonomi, keuangan, pendidikan, hingga penguatan sumber pendapatan seperti koperasi dan rumah sakit di bawah naungan NU demi mengikis budaya transaksional," tegasnya. (*)