TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok berlangsung semarak dan kental dengan nuansa budaya Nusantara.
Salah satu momen yang mencuri perhatian hadir dari sosok Muhamad Nour, pria asal Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), yang tampil elegan mengenakan baju adat Tidung.
Kehadiran baju adat Tidung lengkap dengan warna hitam pekan dan sulaman benang keemasan, menjadi ajang promosi kebudayaan Kaltara di panggung diplomatik internasional.
Muhamad Nour, yang memboyong keluarga kecilnya menetap di Bangkok sejak akhir 2024, sengaja mengenakan pakaian adat tersebut sebagai bentuk kebanggaan atas identitas Tarakan, Kaltara, daerah asalnya.
Kehadirannya di KBRI Bangkok hari itu sekaligus untuk mendampingi sang putra, Asterix Nour, yang mendapat kepercayaan menjadi petugas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2026.
Bagi Muhamad Nour, momen pengibaran bendera di perantauan yang dipadukan dengan busana adat daerah merupakan wujud kecintaan pada Indonesia tanpa batas geografis.
"Tentu saja senang dan bangga, terlebih ini penugasan pertama si anak jadi Paskibra dan jauh dari Tanah Air. Momen ini kami anggap sebagai mencintai Indonesia tanpa batas," ungkap Muhamad Nour kepada TribunKaltara.com, Minggu (23/8/2026).
Baca juga: Putra Tarakan jadi Paskibraka KBRI Bangkok, Asterix Nour Kibarkan Merah Putih di Thailand
Kebanggaan Muhamad Nour kian lengkap melihat kegigihan putranya, Asterix Nour. Siswa kelas 10 SMA Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) tersebut harus melewati proses seleksi ketat dan latihan fisik berat dari pelatih profesional matra TNI yang didatangkan khusus dari Jakarta.
"Sebagai orang tua kami diskusi dengan anak mengenai konsekuensi dan tanggung jawab sebagai Paskibra, di mana anak harus bertanggung jawab, siap lelah jiwa raga, karena selain kewajiban belajar mereka juga harus latihan keras di luar jam sekolah," katanya.
Menurutya, perjuangan menjadi Paskibraka di KBRI Bangkok bukanlah hal yang mudah, sehingga harus benar-benar diemban dengan penuh tanggungjawab.
"Mereka merupakan siswa pilihan dari SIB sebagai Paskibra yang dilatih oleh pelatih profesional dari berbagai matra TNI yang khusus datang dari Jakarta," jelasnya.
Meski harus membagi waktu antara pelajaran sekolah dan porsi latihan yang menyita waktu, Asterix dinilai mampu menuntaskan seluruh proses dengan dedikasi tinggi.
"Ada beragam parameter yang diminta oleh pelatih, khususnya memenuhi kualifikasi seperti kesiapan fisik dan mental, sanggup mengikuti latihan berat yang menyita waktu. Tapi si anak bisa menjalani dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh," terangnya.
Sementara itu, bagi Asterix, kesempatan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Thailand memberikan pemaknaan mendalam mengenai arti nasionalisme bagi generasi muda di luar negeri.
"Bagi saya, nasionalisme bukan hanya tentang menghapal sejarah, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengibarkan Merah Putih. Sebagai pelajar yang tinggal di Thailand, setiap 17 Agustus menjadi momen untuk menunjukkan bahwa rasa cinta kepada Indonesia tetap ada, meskipun kami jauh dari tanah air," ujar remaja yang bercita-cita menjadi dokter ini.
Selain memperkenalkan budaya Kaltara lewat busana adat dan mendukung tugas Paskibraka sang anak, Muhamad Nour sendiri merupakan wujud nyata putra daerah yang mampu bersaing di panggung global.
Saat ini ia bekerja di SEAFDEC Secretariat (Southeast Asian Fisheries Development Center), sebuah lembaga internasional yang berfokus pada pengembangan perikanan di Asia Tenggara.
"Saya menjabat sebagai Manajer Proyek yang mengembangkan peningkatan ekonomi melalui budidaya rumput laut di Asia Tenggara. Saya sudah bekerja di Thailand dari tahun 2024 akhir," paparnya.
Keterlibatannya dalam lembaga internasional dijiwai oleh semangat untuk membawa nama baik daerah kelahirannya di panggung dunia.
"Tentu ini pengalaman yang tak banyak orang di Tarakan mengalami hal seperti ini, menjalankan tugas sebagai Paskibra di luar negeri, di Bangkok, Thailand. Si anak belajar bahwa mencintai Indonesia, tidak melupakan nilai-nilai ke-Indonesia-an dan budaya luhur sebagai orang Indonesia," ungkap Muhamad Nour.
"Tentu saya ingin mengembangkan karier di dunia internasional dan membuktikan orang Tarakan pun bisa bersaing bekerja di luar negeri. Terus terang hanya ada beberapa orang Kaltara yang bekerja di Bangkok," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah