Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade pada Sabtu malam (22/8/2026) mengakibatkan sedikitnya 89 rumah adat ludes terbakar.
Kejadian tersebut menjadi pukulan bagi sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB), mengingat puluhan rumah yang terbakar merupakan warisan budaya masyarakat Sasak yang menjadi daya tarik wisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Upaya perbaikan menyeluruh saat ini tengah dimatangkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Rambitan, Lalu Mirata menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik rencana tersebut. Meski demikian, ia berharap ada keterlibatan aktif masyarakat desa ke depannya.
"Kalau pemerintah daerah mau menata tempat ini, kami selaku masyarakat akan menerima, selama diskusi kami dengan pemerintah berjalan sesuai dengan harapan masyarakat tentunya," ucap Lalu Mirata saat ditemui TribunLombok.com, Selasa (24/8/2026).
Ditegaskannya, dengan kerusakan 100 persen terhadap rumah peninggalan asli suku Sasak ini, perbaikan mutlak harus dilakukan. Keberadaan Desa Sade dinilai sangat vital bagi keberlangsungan pariwisata di Lombok Tengah dan Indonesia pada umumnya.
Akan tetapi, ia juga meminta pemerintah agar perbaikan ke depan dilakukan tanpa menghilangkan struktur keaslian rumah adat tersebut.
"Penataan itu mutlak harus dilakukan, tetapi tanpa harus menghilangkan struktur dari rumah adat yang merupakan peninggalan leluhur kami di sini," tegasnya.
Terkait wacana penyediaan jarak untuk jalur evakuasi, Lalu Mirata merasa hal itu perlu pertimbangan yang matang. Ia mengkhawatirkan kebijakan tersebut justru akan mengorbankan rumah masyarakat dan memicu protes di kemudian hari.
"Kalau (jarak) rumah, saya rasa masih bisa dilalui kendaraan yang lebih besar (untuk saat ini)," ungkapnya.
"Ke depan, kalau ini dibangun kembali, perlu ada akses keselamatan yang lebih memadai. Dalam artian, mungkin dalam desain yang dimunculkan pemerintah daerah nanti ada fasilitas seperti hidran atau saluran air yang bisa diakses masyarakat saat keadaan darurat seperti sekarang," lanjutnya.
Ia kembali menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat secara aktif dalam skenario perbaikan.
"Masyarakat harus dilibatkan. Kita tidak menutup mata akan perubahan, tetapi perubahan yang merubah tatanan kehidupan juga akan menjadi hal yang kurang baik menurut saya," pungkasnya.
Sebelumnya, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, saat ditemui usai memantau kondisi pasca-kebakaran, mengungkapkan betapa rentannya material tradisional terhadap si jago merah.
Atap ilalang telah menjadi simbol tak terpisahkan dari keaslian Desa Adat Sade selama puluhan tahun. Namun, di sisi lain, material ini pulalah yang membuat sekitar 320 warga kehilangan tempat tinggal dalam sekejap. Kondisi permukiman yang sangat padat dan berdempetan menjadi tantangan besar dalam upaya mitigasi bencana.
Bupati mengakui bahwa kondisi ini harus menjadi momentum evaluasi total terhadap tata ruang desa adat.
Baca juga: Pasca kebakaran Sade, Bantuan Terkumpul Capai Rp2,4 Miliar, WNA Ikut Beri Donasi