TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi dijadwalkan mengunjungi Teheran pada Selasa (25/8/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran mengenai Selat Hormuz dan perkembangan kawasan lainnya.
Rencana kunjungan itu dikonfirmasi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin (24/8/2026).
“Sayyid Badr Albusaidi akan mengunjungi Teheran pada hari Selasa untuk melanjutkan pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz,” kata Baghaei, dikutip dari Reuters.
Iran dan Oman sebelumnya telah membahas kemungkinan rute pelayaran baru melalui jalur strategis tersebut.
Kedua negara sama-sama memiliki garis pantai di sepanjang Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).
Jalur tersebut sangat penting bagi lalu lintas energi dari kawasan Teluk.
CNN melaporkan, Iran dan AS selama beberapa bulan terakhir sama-sama mengklaim memiliki keunggulan di sekitar Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Perketat Pengawasan di Selat Hormuz, Kapal Pelanggar Terancam Ditahan dan Disita
Presiden AS Donald Trump juga berulang kali mengancam Oman, meski Muscat merupakan sekutu Washington dan selama ini terlibat dalam upaya mediasi dengan Teheran.
Dalam kondisi itu, kunjungan Albusaidi ke Teheran berlangsung ketika pembicaraan mengenai jalur pelayaran masih terus dilakukan.
Peran Oman dalam persoalan Hormuz tidak terlepas dari posisinya sebagai penghubung komunikasi antara Iran dan AS.
Jalur tersebut sebelumnya juga digunakan Oman untuk membicarakan kemungkinan pembukaan kembali pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pembicaraan terbaru antara Oman dan Iran berlangsung ketika hubungan Teheran dan Washington masih belum menemukan penyelesaian.
Pakistan juga ikut terlibat dalam jalur komunikasi tersebut.
Baghaei sehari sebelumnya mengatakan kepala angkatan darat Pakistan akan mengunjungi Teheran pada Senin (24/8/2026).
Pakistan diketahui menjadi salah satu mediator dalam konflik Iran dan AS.
Posisi Iran dalam persoalan Selat Hormuz sebelumnya telah dibahas dalam wawancara Sapa Indonesia Pagi yang tayang di YouTube Kompas TV pada Senin (10/8/2026).
Pakar hubungan internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah saat itu menilai Iran menggunakan persoalan Hormuz untuk menekan Washington.
Tia menilai tuntutan Iran tidak sepenuhnya baru, tetapi beberapa poin dibuat lebih mendesak.
“Kalau melihat syarat-syarat itu, tidak ada yang baru ya dari 14 poin. Hanya saja mungkin ada beberapa poin yang lebih harus cepat dilakukan,” kata Tia.
Menurutnya, Iran justru mencoba memaksa AS melalui pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Ini terlihatnya adalah Iran sedang memaksa Amerika Serikat,” ujarnya.
Baca juga: Aturan Baru Iran Bikin Kapal Asing Ketar-ketir! Pelanggar Selat Hormuz Terancam Disita
Tia menyebut sejumlah tuntutan Iran berkaitan dengan kompensasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian campur tangan terhadap posisi Iran di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Menurut Tia, Oman menjadi jalur yang memungkinkan untuk membawa tuntutan tersebut ke meja komunikasi dengan Washington.
“Saya melihat untuk kali ini nanti itu hanya melalui mediator, dalam hal ini adalah Oman, jadi hanya melalui Oman saja itu kesepakatan akan terjadi dan perang akan dihentikan,” katanya.
Pandangan tersebut juga muncul dalam wawancara yang sama dengan peneliti Asia Middle Ice Centre Pizaro Gozali.
Pizaro menilai aktivitas militer Iran saat itu menunjukkan Teheran masih menyiapkan diri jika konflik kembali meningkat.
“Siapa bilang perang Iran ini segera berakhir? Ini belum berakhir,” kata Pizaro.
Ia juga menyebut Iran meningkatkan produksi drone hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Pizaro mengatakan kesepakatan dengan Oman tidak otomatis membuat Selat Hormuz dibuka kembali.
Menurut dia, Iran masih menempatkan syarat tambahan kepada AS, termasuk tuntutan kompensasi perang sebesar 300 miliar dolar AS.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)