Mengais Sisa Kain Tenun di Desa Adat Sade Lombok, Rumah Warisan Lelulur Luluh Lantak Dilalap Api
Whiesa Daniswara August 24, 2026 04:21 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kebakaran menghanguskan Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (22/8/2026).

Api menghanguskan sedikitnya 150 rumah dan sejumlah bangunan yang menjadi bagian penting dari kawasan pemukiman adat, sekaligus tempat wisata budaya.

Kebakaran tersebut juga mengakibatkan sekira 300 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Sade merupakan satu dari 21 dusun di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut. 

Sebanyak 90 kepala keluarga menempati rumah-rumah tradisional di kawasan tersebut.

Kampung hunian ini telah diwariskan secara turun-temurun hingga 15 generasi. 

Sade juga telah dikunjungi wisatawan asing sejak 1983, sehingga bukan merupakan desa wisata yang dibentuk khusus untuk kepentingan pariwisata.

Sade merupakan permukiman masyarakat Suku Sasak, suku tertua di Pulau Lombok.

Neli (25), warga Desa Adat Sade kehilangan hasil tenun dan jejak pendidikan akibat kebakaran itu.

Pascakebakaran, Neli dan adiknya Mariana (14) menyusuri sisa kebakaran di Desa Adat Sade, Minggu (23/8/2026).

Dengan tangannya, Neli mencokel dan memilah puing yang menghitam.

Baca juga: Ratusan Rumah Adat Sade Lombok Hangus Terbakar, Menbud Fadli Zon Minta Penanganan Darurat

Ia berharap dapat menemukan kembali sejumlah dokumen penting yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, seperti ijazah dan surat tanah.

Namun, harapannya pupus. Di antara abu dan puing bangunan, ia hanya menemukan potongan dokumen berlambang Garuda yang sudah hangus dan tak lagi utuh.

“Saya mencari ijazah saya dan surat rumah, ternyata sudah hangus terbakar semua,” ungkap Neli kepada TribunLombok.com.

Tak hanya mencari dokumen, ia juga berharap masih dapat menemukan sebagian kain tenun yang telah dikerjakannya selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk dijual kepada wisatawan.

Namun, kobaran api tidak menyisakan banyak pilihan. 

Di antara puing-puing, ia hanya menemukan sepotong songket dalam kondisi tidak utuh dan menghitam. 

Motif ragi genep berwarna merah yang menjadi bagian dari kain tersebut turut rusak akibat terbakar.

“Sudah gak ada tersisa, surat-surat habis semua, songket yang kita tenun berbulan lamanya habis,” tuturnya.

Bagi Neli, kehilangan alat tenun bukan sekadar kehilangan peralatan kerja, tetapi juga sumber penghasilan sekaligus bagian dari warisan keluarganya.

Neli meneruskan tradisi menenun yang diwariskan oleh ibu dan neneknya. Selain menghasilkan kain tenun, ia juga membuat gelang berbahan kain untuk dijual sebagai suvenir kepada wisatawan.

Namun, dalam semalam, seluruh alat tenun, kain yang telah selesai dibuat, hingga berbagai bahan untuk bekerja ludes dilalap api.

“Kalau pekerjaan selama ini saya menenun dan buat gelang, dari situ pendapatan kami, tapi sekarang saya gak tau, gak bisa nenun lagi, alat tenun kita habis terbakar,” ungkapnya.

Neli tak sendiri, hal serupa juga dialami Inak Kite (68). Rumah warisan leluhurnya luluh lantak dilalap api.

Ketika api membakar rumahnya, Kite tengah terlelap tidur.

Namun, ia tiba-tiba merasakan panas yang teramat di bagian punggungnya.

“Saya dibangunkan karena merasa panas di bagian punggung, ternyata api, dan dengan cepat membesar,” ungkap Kite kepada TribunLombok.com, Minggu.

Dalam situasi panik, Kite tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya. 

Alat tenun, perabot rumah, hingga uang yang dimilikinya hangus tak tersisa dilalap si jago merah.

KEBAKARAN DESA ADAT SADE - Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana telah menginstruksikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk turun dan terlibat langsung dalam penanganan pasca kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok, Minggu (23/8/2026).
KEBAKARAN DESA ADAT SADE - Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana telah menginstruksikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk turun dan terlibat langsung dalam penanganan pasca kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok, Minggu (23/8/2026). (HO/IST)

“Gak ada yang tersisa, hanya satu selendang tenun yang saya pakai untuk berselimut, tenun saya bawa lari selamatkan diri,” ungkap Kite.

Satu-satunya benda yang berhasil diselamatkannya dari kobaran api adalah selendang tenun tersebut.

Rumah itu bukan hanya sekadar tempat tinggal bagi Kite. Bangunan itu merupakan peninggalan nenek moyangnya.

Di rumah adat itu, Kite tinggal bersama keluarganya, meneruskan kehidupan dari generasi ke generasi hingga memiliki anak dan cucu.

“Sekarang saya tidak tahu mau bangun pakai apa rumah ini lagi, semua habis dilahap api yang ganas,” ujar dia.

Baginya, yang terbakar bukan sekadar bangunan. Rumah itu menyimpan jejak kehidupan keluarganya, tradisi menenun, serta warisan leluhur yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

Penyebab Kebakaran

Masih dari TribunLombok.com, Tokoh Masyarakat Desa Adat Sade, Ginanjar, mengatakan kebakaran tersebut diduga terjadi akibat instalasi listrik yang kurang memadai.

“Kelihatannya api dari listrik. Karena kan kebanyakan masih masyarakat ini pakai kabel masih serabut-serabut itu,” jelasnya.

Ginanjar mengungkapkan, kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi. Namun, kebakaran kali ini menjadi musibah yang paling parah.

Baca juga: Pimpinan DPR Datangi Desa Adat Sade, Salurkan Bantuan dan Dorong Revitalisasi Kawasan

“Sudah tiga kali ini kejadian. Tapi alhamdulillah (yang dulu) bisa diredamkan, sekarang ini yang paling parah,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Gubernur NTB, lalu Muhammad Iqbal.

Iqbal menyebut, ada dugaan Desa Adat Sade terbakar karena aliran listrik.

"Kemungkinan ada yang terkait dengan elektriknya, dengan listrik yang ada... Aliran listrik yang ada di situ. Di beberapa bangunan itu," ujar Iqbal di JCC Senayan, Jakarta, Minggu malam, dilansir Kompas.com.

Namun, Iqbal bersyukur kebakaran itu tidak menimbulkan korban sema sekali.

Saat ini, lanjut Iqbal, pemerintah akan berfokus pada restorasi desa tersebut.

"Setelah menangani korban, menangani apa, menangani masyarakat yang tinggal di situ yang 70 KK, sekarang kita fokus untuk mempersiapkan restorasinya karena kita ini restorasi daerah yang bersejarah begitu," jelasnya. 

"Enggak (menghilangkan budaya), justru itu nanti pasti prosesnya akan sangat mahal karena kita harus memastikan bahwa itu dibangun kembali seperti, namanya juga restorasi, kembali seperti semula gitu," sambung Iqbal.

(Tribunnews.com/Nanda Lusiana, TribunLombok.com/Idham Khalid, Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.