TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Kemarau menjadi waktu yang dimanfaatkan para penambang sirtu di Long Bagun untuk mengambil material pasir dan batu.
Namun, di balik kemudahan aktivitas penambangan saat sungai surut, para pekerja juga menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pengangkutan material menuju lokasi tujuan.
Kemarau tidak hanya mempermudah aktivitas penambangan pasir dan sirtu (campuran pasir dan batu), tetapi juga menghadirkan tantangan berupa tingginya biaya pengangkutan material.
Kusnadi mengatakan material harus diangkut menggunakan kendaraan darat karena kondisi jalur sungai saat air surut cukup berbahaya bagi perahu.
Banyak bagian sungai yang menjadi dangkal dan memiliki jeram sehingga berisiko membuat perahu kandas bahkan karam.
Baca juga: Sempat Panas Terik, Warga Ujoh Bilang Mahulu Ungkapkan Sukacita Usai Diguyur Hujan Deras
Harga sirtu yang diambil dari lokasi penambangan disebut sekitar Rp250 ribu per kubik, namun biaya sampai ke lokasi tujuan dapat meningkat tergantung jarak.
“Kalau sirtu harganya bervariasi, tergantung jauhnya, kadang-kadang Rp550 ribu,” kata Kusnadi, Sabtu (22/8/2026).
Kondisi sungai yang surut membuat jalur transportasi air tidak selalu dapat diandalkan. Situasi tersebut menyebabkan material yang telah diambil dari lokasi penambangan harus menempuh jalur darat, yang turut memengaruhi biaya pengiriman hingga ke tangan pembeli.
Musim Hujan Jadi Tantangan Lain
Kondisi berbeda terjadi ketika musim penghujan tiba karena air sungai yang besar membuat aktivitas pengambilan material sulit dilakukan.
Material yang berada di lokasi penambangan juga dapat tertimbun air sehingga tidak bisa diambil secara maksimal.
Baca juga: Warga Mahulu Kesulitan Dapatkan BBM, Kapolres Pastikan Akibat Pengiriman yang Terhambat
Meski demikian, saat kemarau para penambang memanfaatkan kondisi sungai yang surut untuk memenuhi permintaan material.
Kusnadi menyebut kebutuhan pasir masih menjadi tantangan karena pengambilannya memiliki risiko lebih besar dan membutuhkan akses melalui perahu.
“Kalau air besar tidak bisa lagi kita, karena airnya bahaya,” pungkasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas penambangan material di kawasan Long Bagun sangat dipengaruhi perubahan musim dan kondisi sungai. Saat kemarau, pengambilan material lebih memungkinkan dilakukan, meski biaya transportasi menjadi tantangan tersendiri.
Sebaliknya, ketika debit air meningkat pada musim hujan, keselamatan dan akses menuju lokasi penambangan menjadi perhatian utama para pekerja. (*)