Dorong Perekonomian Keluarga, Dekranasda Malinau Buka Fasilitas Batik Berbasis Upah Komponen
Cornel Dimas Satrio August 24, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) bersama TP-PKK Kabupaten Malinau menghadirkan terobosan baru dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program pelatihan membatik.

Program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga diarahkan agar para peserta dapat memperoleh penghasilan dari keterampilan yang telah mereka pelajari.

Penutupan pelatihan membatik dilaksanakan di Rumah Produksi Batik Dekranasda Malinau, Senin (24/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Dekranasda memperkenalkan skema keberlanjutan bagi peserta agar setelah mengikuti pelatihan mereka tetap memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menghasilkan produk batik.

Sebanyak 32 peserta mengikuti program tersebut. Mereka terdiri dari 22 perwakilan dari 11 lembaga adat etnis serta 10 peserta dari kelompok milenial.

Baca juga: Dekranasda Malinau Galang Partisipasi Ibu Rumah Tangga, Bentuk Perempuan Wiraswasta Hingga ke Desa

Komposisi peserta ini diharapkan dapat mempertemukan unsur masyarakat adat dengan generasi muda dalam upaya mengembangkan kerajinan batik yang memiliki karakter lokal Malinau.

Ketua Dekranasda Malinau Maylenty mengatakan, fasilitas Rumah Produksi Batik tersebut terbuka bagi masyarakat yang ingin terus belajar dan terlibat dalam proses produksi.

Peserta tidak hanya diarahkan untuk belajar secara mandiri, tetapi juga dapat memperoleh upah berdasarkan pekerjaan yang mereka selesaikan.

"Di tempat ini kita buka juga untuk yang mau belajar sambil kalau dibilang bergaji. Karena setiap lembaran ngecap itu sudah ada harganya, mewarnai sudah ada harganya, mengunci batik sudah ada harganya," ungkap Maylenty.

Skema tersebut menggunakan sistem pengupahan berdasarkan komponen dalam setiap tahapan produksi.

Mulai dari proses pengecapan, pewarnaan hingga penguncian warna memiliki nilai pekerjaan masing-masing. Dengan pola tersebut, para perajin pemula dapat memperoleh penghasilan berdasarkan kontribusi mereka dalam menghasilkan setiap lembar kain batik.

Menurut Maylenty, pola ini menjadi salah satu upaya agar pelatihan yang diberikan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan.

Setelah memahami teknik dasar membatik, peserta tetap memiliki kesempatan untuk mempraktikkan kemampuannya di Rumah Produksi Batik sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari hasil pekerjaannya.

Keberadaan fasilitas produksi tersebut juga diharapkan dapat menjadi ruang tumbuh bagi perajin lokal.

Para peserta dapat terus mengasah keterampilan, meningkatkan kualitas hasil produksi, serta mengenal proses produksi secara lebih luas sebelum nantinya mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga.

Produk yang dihasilkan para peserta nantinya tidak hanya menjadi hasil pelatihan atau pajangan, tetapi diupayakan masuk dalam rantai produksi dan pemasaran kerajinan daerah sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pengembangan batik lokal juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor UMKM di Kabupaten Malinau.

Dengan melibatkan lembaga adat dan kelompok milenial, Dekranasda berharap muncul lebih banyak perajin yang mampu menghasilkan produk dengan identitas lokal sekaligus memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Maylenty menegaskan, penguatan kapasitas perajin lokal menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan UMKM Malinau.

Melalui fasilitas produksi dan skema upah berbasis komponen tersebut, program pelatihan diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan resmi ditutup, tetapi berlanjut menjadi aktivitas produktif yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

(*)

Penulis: Mohammad Supri

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.