Kebakaran Hutan Way Kambas Padam, Kemenhut Perkuat Proteksi Kesehatan Gajah
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 24, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI bergerak cepat menanggulangi kebakaran hutan yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. 

Baca juga: Gajah Aman, Gubernur Lampung Pastikan Kebakaran di Way Kambas Terkendali

Kebakaran yang meluas di bagian selatan kawasan tersebut kini berhasil dipadamkan sepenuhnya melalui penanganan tim gabungan lintas instansi yang diterjunkan langsung ke lokasi kejadian.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) Kemenhut RI, Ahmad Munawir, menegaskan bahwa penanganan di lapangan dilakukan atas instruksi langsung dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. 

Tim gabungan berkekuatan 250 personel diterjunkan, terdiri dari unsur kementerian, Balai TNWK, TNI, Polri, BPBD Lampung Timur, serta kelompok masyarakat seperti Mitra Polhut dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

"Alhamdulillah dengan kolaborasi yang baik ini berhasil dipadamkan tadi malam kurang lebih jam 7 malam. Dipastikan sampai jam 11 malam tidak ada lagi titik api," ujar Ahmad Munawir, Senin (24/8/2026).

Dia mengungkapkan bahwa Kemenhut kini menggandeng Polres Lampung Timur untuk mendalami penyebab pasti kebakaran tersebut. 

Ia menegaskan tidak akan segan menindak tegas jika ditemukan adanya tindakan tidak bertanggung jawab di tengah cuaca ekstrem. 

"Kita akan usut. Kalau memang ada indikasi ke arah kesengajaan, maka itu pasti ada proses hukumnya seperti di Undang-Undang 5 Tahun 1990, itu ada ancaman pidananya," kata Munawir menegaskan.

Berdasarkan pengukuran, total luasan lahan yang terbakar mencapai 673,4 hektar dari total 125.000 hektar luas kawasan TNWK. 

Meski area yang terbakar cukup luas, pihak kementerian memastikan kelompok gajah liar yang mendiami kawasan tersebut berada dalam kondisi aman. 

Berdasarkan pemantauan kalung GPS (GPS collar) selama 24 jam, pergerakan gajah liar terdeteksi berada jauh di bagian utara kawasan. 

Munawir mengimbau penuh masyarakat agar menjaga kawasan hutan dari potensi bahaya pemantik api, seperti kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di musim kemarau ekstrem Super El Nino saat ini.

Selain menyelesaikan penanganan kebakaran, Kemenhut RI juga mengambil langkah strategis dalam memperkuat proteksi kesehatan satwa liar dengan menggandeng Vantara, lembaga konservasi terkemuka asal India. 

Kerja sama ini ditujukan untuk pemberian vaksinasi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV)—virus mematikan yang menjadi ancaman serius bagi anak gajah berusia di bawah 10 tahun, terutama balita di bawah 5 tahun.

"Penyakit yang paling berbahaya adalah EEHV itu tadi, karena kena sore, pagi bisa mati saking cepatnya penyebaran atau reaksi virus ini," tutur Ahmad Munawir menjelaskan keganasan virus tersebut.

Kegiatan di Way Kambas ini merupakan kedatangan kedua tim Vantara ke Indonesia setelah sebelumnya sukses memfasilitasi vaksinasi gajah di Riau. 

Pada tahap awal di TNWK, sebanyak dua ekor gajah binaan disuntik vaksin dan dijadwalkan menerima dosis penguat (booster) dalam kurun 3 minggu. 

Dosis vaksin disimpan secara ketat di fasilitas cold storage Karantina Soekarno-Hatta guna memastikan kualitasnya tetap terjaga.

Program imunisasi ini dipastikan terus berlanjut ke berbagai wilayah lain di Sumatra seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jambi, hingga Bengkulu. 

"Selain vaksinasi, Vantara berkomitmen memberikan dukungan 10 unit ambulans khusus gajah (mobile ambulance), merenovasi rumah sakit gajah TNWK berstandar internasional, memfasilitasi transfer of knowledge bagi dokter hewan lokal, serta merencanakan pembangunan fasilitas kesehatan serupa di Riau demi menekan risiko infeksi zoonosis antara manusia dan gajah," ujarnya. (Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.