Pompa Air Bantuan Pemerintah Belum Berfungsi, Petani Muara Enim Terancam Gagal Panen Imbas Kemarau
Shinta Dwi Anggraini August 25, 2026 11:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARA ENIM -- Musim kemarau panjang menimbulkan banyak kekhawatiran bagi para petani di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. 

Kekhawatiran itu muncul karena tanaman padi banyak yang tidak berisi atau gabah hampa (ampe) akibat kekurangan pasokan air.

Kondisi tersebut membuat para petani terancam gagal panen. Seperti yang terjadi di Ataran Karang Agung, Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim.

Berdasarkan penelusuran Sripoku.com, sumur bor JIAT  (Jaringan Irigasi Air Tanah)  yang berada di Ataran Karang Agung, Desa Karang Raja tersebut ada di dua titik lokasi. 

Sumur yang merupakan bantuan Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Sumatra VIII Sumur JIAT Desa Karang Raja Muara Enim tampak berdiri, namun pada tahun 2026 ini sepertinya belum difungsikan dan dinikmati oleh para petani sawah tadah hujan di Ataran Karang Agung, Desa Karang Raja tersebut.

Jamilah (62), petani asal Desa Karang Raja, mengatakan bahwa musim kemarau panjang saat ini menimbulkan kekhawatiran bagi para petani sawah tadah hujan disebabkan sawah miliknya kekeringan tidak ada air.

Akibatnya, hasil panen padi khususnya miliknya cukup drastis merosot tajam.

"Musim kemarau panjang ini, kami sangat khawatir sekali, karena mayoritas kami di sini adalah petani sawah tadah hujan. Ya, bisa dilihat hasil panen padi kami merosot sangat tajam sekali, kemudian bagaimana kami bisa tanam padi kembali kalau kering tidak ada air," tuturnya, Selasa (25/8/2026).

Baca juga: Ribuan Warga di Palembang Gelar Salat Istisqa, Ikhtiar Mohon Hujan di Tengah Ancaman Karhutla

Jamilah menjelaskan, biasanya lahan sawah tadah hujan miliknya dapat menghasilkan gabah padi sekitar 50 sampai 60 karung gabah setiap panen padi apabila kebutuhan air di sawahnya tercukupi.

Namun kali ini, akibat musim kemarau panjang, hasil panennya merosot sangat tajam hampir 60 persen.

"Untung-untung dapat 20 karung gabah padi Pak musim kemarau ini, karena banyak padi kami ampe (tidak berisi) akibat kekurangan air, belum lagi dimakan oleh hama burung. Makanya kami percepat panennya daripada tidak dapat sama sekali," jelasnya.

Ia menerangkan, untuk saat ini telah ada mesin pompa air bantuan dari pemerintah, namun mengapa hingga sampai saat ini alat tersebut belum kunjung dapat difungsikan.

Padahal di sini semuanya sawah tadah hujan yang sangat tergantung dengan pasokan air hujan.

Jika alat tersebut dapat segera difungsikan untuk mengaliri sawah tadah hujan bagi para petani, mungkin bisa mengurangi risiko gagal panen pada musim tanam ke depan.

"Kami sudah tanya, kenapa pompa tersebut belum bisa mengaliri ke sawah kami, dan dijawab karena belum diresmikan oleh pemerintah sehingga belum dapat difungsikan. Kami berharap Pemerintah Muara Enim dapat segera mengfungsikan pompa air dan membantu pupuk dan bibit untuk ke depannya," terangnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian Muara Enim, Budi Jhonson, membenarkan jika di lokasi tersebut sudah dibangunkan dua Sumur Bor Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Sumatra VIII.

Namun, pihaknya belum tahu bagaimana sistem pengoperasiannya.

"Sumur tersebut baru, dan pihaknya sudah berkomunikasi untuk segera mengoperasikannya jika sudah bisa, minimal untuk musim tanam ke depan," harapnya.

Lanjut Budi, ke depan, pihaknya akan menurunkan tim untuk menelusuri dan mengecek serta mencari tahu langsung akan keberadaan mesin pompa air tersebut supaya bisa berfungsi dan dinikmati oleh petani.

 

 

Ikuti dan Bergabung di Saluran WhatsApp TribunSumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.