Alasan Para Anak Kos Semarang Ikut Aksi Demostrasi, Kebutuhan Pokok Mahin Mahal
muslimah August 25, 2026 12:59 PM

Alasan Para Anak Kos Semarang Ikut Aksi Demostrasi, Kebutuhan Pokok Mahin Mahal

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Dari ratusan massa aksi demonstrasi bertajuk "Seruan Aksi Diponegoro Melawan" yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, terdapat para anak kos yang semakin terhimpit ekonominya.

Kondisi itu memantik para mahasiswa untuk ikut turun ke jalan membaur dengan ratusan mahasiswa lainnya di depan Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Senin (24/8/2026).

"Keresahan kami banyak sekali ya, tetapi kalau dari saya pribadi adalah ekonomi dan bahan pangan, saya mahasiswa dan juga anak kos sangat berdampak pada kenaikan harga pangan yang terjadi akhir-akhir ini," ujar Mahasiswi Undip Semarang Kayla Aqilasyani (21) kepada Tribun saat ditanya soal alasan turun aksi.

Baca juga: Temui Mahasiswa Demonstrasi, Anggota DPRD Jateng Ditantang Makzulkan Gubernur hingga Tegur Kopdes

Keresahan soal kondisi ekonomi, lanjut Kayla, ditemukan pula saat dirinya menjalankan Kerja Kuliah Nyata (KKN) belum lama ini.

Menurutnya, masyarakat desa tempatnya menjalani KKN banyak mengeluhkan ekonomi yang semakin sulit.

"Saya sempat KKN,  masyarakat desa banyak tanya, kenapa ekonomi seperti ini, mereka enggak terlalu paham  soal ini," tuturnya.

Selain masalah tersebut, Kayla mengungkap, kemauan turun aksi ke jalan juga didorong oleh masih amburadulnya negara.

"Saya hadir di sini sebagai perwajahan aja  bahwa kami mahasiswa itu masih peduli dan sangat-sangat peduli sama Indonesia ke depannya," tuturnya.

*Geram Soal Isu MBG dan Lambatnya Pengesahan RUU Perampasan Aset*

Mahasiswi Undip lainnya, Karen Citra Yahuni (21) mengatakan, alasan turun aksi demonstrasi karena ingin pemerintah melakukan evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).  

Ia menilai, MBG dalam pelaksanaannya belum tepat sasaran.

"Pengalaman saya  KKN melihat beberapa daerah tidak hanya butuh MBG saja, melainkan infrastruktur demi mobilisasi yang masih susah terhadap fasilitas-fasilitas publik," katanya.

Ia menyebut, seharusnya pemerintah melihat prioritas dari kebijakan terutama program MBG.

Jangan sampai program ini mengabaikan program lainnya di sektor pendidikan dan kesehatan. "Kami berharap pemerintah tidak hanya fokus MBG dan  Kopdes (koperasi desa merah putih) saja tapi permasalahan lainnya yang masih banyak dirasakan oleh masyarakat," bebernya.

Di samping itu, ia juga menyoroti perlu ada langkah mengawal terkait RUU Perampasan Aset.

 ",Jadi banyak sekali keresahan dari masyarakat sipil yang kita bawa dalam aksi ini," katanya.

Koordinator Aksi Demostrasi Undip Fadhil Dzikra mengatakan, para peserta aksi datang dengan keresahan yang sama yakni kondisi saat ini tidak baik-baik saja.

Pertengahan Agustus yang seharusnya menjadi masa memperingati hari kemerdekaan republik ini justru memunculkan fakta bahwa masyarakat semakin susah kehidupannya baik secara ekonomi, pendidikan, dan sosial.

"Kita susah mencari makan, tidak bisa  menikmati hidup yang layak, sudah mendapatkan pendidikan yang pada HUT ke-81 RI, kita semua tidak mendapatkan itu sama sekali," jelasnya.

Aksi demonstrasi yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip Semarang dan Kabinet Dipanegara tersebut menyatakan lima tuntutan meliputi pertama menuntut penguatan desentralisasi dan demokratisasi tata kelola pemerintahan.

Kedua, transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan publik dalam pelaksanaan kebijakan strategis negara. Ketiga, menuntut perlindungan ruang sipil dan perbaikan komunikasi publik pemerintah.

Keempat, menuntut kebijakan pangan yang menjamin keterjangkauan dan ketahanan pangan masyarakat. Dan, kelima,menuntut pemerintah untuk memberikan perlindungan masyarakat pesisir dan tata kelola pembangunan yang berkeadilan.

Selepas menyatakan tuntutannya dalam aksi itu, mahasiswa membubarkan diri pada pukul 18.30 WIB. Mereka menyebut, bakal kembali dengan aksi lebih besar pada pekan terakhir Agustus ini. (Iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.