TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Projo, Freddy Alex Damanik, memberikan klarifikasi terkait beredarnya potongan video viral Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, di samping Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Freddy menegaskan bahwa video yang ramai diperbincangkan publik itu bukanlah video utuh. Ia menyebut bahwa pernyataan dalam video tersebut merupakan pemaparan mengenai berbagai kemungkinan politik.
"Saya Ingin memberikan penjelasan untuk menanggapi beredarnya potongan video di media sosial yang menggambarkan pandangan budiari Setiadi ketua umum Projo tentang situasi politik saat ini yang pertama video tersebut bukan merupakan video utuh tetapi sebenarnya sedang memaparkan berbagai kemungkinan," ujar Freddy kepada wartawan, Selasa (25/8/2026).
Lebih lanjut, Freddy membeberkan latar belakang di balik pertemuan tersebut. Acara itu murni merupakan ajang pertemuan antara Jokowi dan para relawan pendukungnya.
"Yang kedua forum tersebut diadakan sebagai acara silaturahmi dalam rangka bulan kemerdekaan Republik Indonesia antara Bapak Joko bapak Jokowi dengan para relawannya," tambahnya.
Dalam pertemuan itu, terdapat perbincangan tertutup yang membahas dinamika negara.
Para peserta turut memberikan masukan untuk mencari solusi atas persoalan bangsa saat ini.
"Yang ketiga dalam kesempatan tersebut ada diskusi internal singkat yang memotret situasi kebangsaan saat ini yang keempat berbagai masukan untuk menyikapi situasi saat ini dibahas oleh para peserta untuk bisa memetakan persoalan dan solusi perbaikannya," kata Freddy.
Menurut Freddy, masukan dari para relawan sengaja disampaikan kepada Jokowi agar dapat diteruskan kepada Presiden Prabowo Subianto. Hal ini didasari oleh kedekatan komunikasi antara kedua tokoh tersebut.
"Yang kelima hal ini disampaikan oleh para relawan kepada Pak Jokowi dengan harapan beliau berkenan menyampaikan kepada presiden Prabowo untuk perbaiki perbaikan bangsa kedepannya karena relawan meyakini bahwa hubungan dan komunikasi Pak Jokowi dengan presiden Prabowo terjalin erat dan akrab," tuturnya.
Di sisi lain, Jokowi juga merespons langsung kekhawatiran para relawan. Jokowi meminta agar seluruh pihak tidak panik dan memastikan bahwa kondisi negara tetap stabil.
"Yang keenam Pak Jokowi mendengarkan seluruh pandangan relawan terhadap situasi yang berkembang saat ini sebelum akhirnya pak Jokowi menyampaikan agar semua Tetap tenang situasi baik-baik saja ekonomi masih tumbuh baik inflasi terkendali jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan," pungkasnya.
Sebelumnya, sebuah potongan video yang memperlihatkan Budi Arie Setiadi tengah berbicara di hadapan Presiden ke-7 RI Joko Widodo mendadak viral dan memicu gelombang spekulasi politik.
Dalam video tersebut, Budi Arie mengajak audiensnya untuk tidak terpaku pada skenario politik konvensional menuju Pemilu 2029.
Dengan nada serius, ia menyinggung soal insting politiknya mengenai kemungkinan adanya percepatan.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ucap BudiArie yang langsung dijawab seruan "Siap!" dari audiens.
Lebih jauh, Budi Arie mendeskripsikan kondisi masyarakat saat ini sebagai sebuah anomali.
Ia membandingkan dinamika sosial dan ekonomi saat ini dengan patahan sejarah pada masa transisi Orde Baru ke Reformasi tahun 1997-1999.
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy," ucap Budi Arie.
Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, menuding Ketua Umum (Ketum) Projo, Budi Arie Setiadi, berupaya mengadu domba antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Hal ini disampaikan merespons beredarnya potongan video viral yang memperlihatkan Budi Arie tengah berbicara di hadapan Jokowi mengenai potensi percepatan konstelasi politik sebelum Pemilu 2029.
"Kami melihat ada kepentingan terselubung dari BudiArie, terkait narasi sepotong yang disampaikan dari cuplikan itu," kata Bestari kepada Tribunnews.com, Selasa (25/8/2026).
Bestari menyoroti rekam jejak politik Budi Ariebelakangan ini.
Ia menyebut bahwa mantan Menteri Koperasi itu sempat ditolak oleh Partai Gerindra.
Bahkan, Bestari menegaskan bahwa partainya juga menolak keras jika Budi Arie berniat bergabung dengan PSI.
"Kita kan tahu sama-sama bahwa Budi Arie ini orang yang ditolak pada waktu masuk ke Gerindra. Bahkan ketika ada isu bahwa akan ke PSI, saya pun sudah ber-statement tidak akan menerima Budi Arie," tegasnya.
Terkait kehadiran Jokowi dalam video tersebut, Bestari meyakini 1.000 persen bahwa mantan Wali Kota Solo itu tidak mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Budi Arie.
Menurut Bestari, gestur Jokowi dalam video tersebut terlihat sangat tidak nyaman saat Budi Arie menarasikan hal-hal yang berpotensi merusak hubungan antara Jokowi dan Prabowo.
"Kalau dia bicara Projo menyatakan siap, silakan aja dia bergerak dengan dirinya sendiri dan perangkatnya. Kenapa harus menunggu ada Pak Jokowi baru ngomong begitu?" ujar Bestari.
"Jadi ini orang yang ingin mengadu domba antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo. Dari gestur, sangat tidak nyaman Pak Jokowi berada di tempat itu," sambungnya.
Lebih lanjut, Bestari mengingatkan bahwa pendukung sejati Jokowi seharusnya tegak lurus mengawal pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, bukan melontarkan pernyataan yang memicu kegaduhan.
Ia juga menyindir manuver Budi Arie ini tak lebih dari sekadar upaya mencari posisi tawar politik yang terbilang receh.
Baca juga: Pengamat Pertanyakan Diamnya Jokowi saat Budi Arie Singgung Potensi Pemerintahan Prabowo Jatuh
"Untuk bargaining-bargaining kecil mungkin ya. Kalau bargaining besar kan enggak mungkin, orang udah pernah dipecat jadi menteri apa segala macam enggak mungkin lagi bisa membuat bargaining besar. Ada apa? Anda siapa? Kan begitu," imbuh Bestari.