Udara Panas Melanda 11 Daerah di Sulsel, BMKG Ingatkan Warga Waspada Dehidrasi
Saldy Irawan August 25, 2026 07:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Udara panas bakal melanda Sulawesi Selatan (Sulsel) selama tiga hari kedepan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengelurkan peringatan dini udara panas.

Peringatan status waspada udara panas di ambang 35 hingga 40 derajat celcius.

Khusus di Rabu (26/8/2026) udara panas terasa di Luwu Timur dan Luwu Utara

Lalu pada Kamis (27/8/2026), udara panas meluas ke 9 daerah.

Meliputi Bone, Enrekang, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Wajo.

Selanjutnya pada Jumat (28/8/2026) udara panas kian meluas.

Terasa di Bone, Bulukumba, Gowa, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Takalar dan Wajo.

"Kan di atmosfer kurang awan. Jadi panas terpancar matahari diterima langsung bumu. Biasanya kan ada awan, tapi karena kurang awan ini jadi panas langsung terserap di bumi," kata Forecaster BMKG Rekun Matandung saat dihubungi Tribun-Timur.com pada Selasa (25/8/2027).

Ia menyampaikan peringatan dini ini dikeluarkan untuk mengimbau masyarakat mempersiapkan diri beraktifitas di luar rumah.

Mengingat dengan udara panas, disebutnya butuh perhatian khusus untuk kesehatan tubuh agar tidak dehidrasi.

"Kami selalu berikan peringatan udara panas berkaitan agar masyarakat lebih waspada. Udara panas ini lebih ditujukan ke kesehatan. Karena bagaimanapun sekarang banyak radang, batuk ya itu diakibatkan udara panas," kata Rakun.

Di tengah musim kemarau ini, sawah petani di berbagai daerah mulai terdampak kekeringan.

Petani di Sidrap hingga Wajo berharap hujan turun agar produksi pertanian tidak mengganggu.

Bahkan Kota Makassar sudah menetapkan status siaga kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel Amson Padolo menyebut pemda harus siaga di musim kemarau ini. 

Ancaman kekeringan hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus dimitigasi.

Pihaknya sendiri sudah siaga membantu pemda mengantisipasi kemarau berkepanjangan.

Amson mengaku opsi modifikasi cuaca selalu terbuka.

"Apabila masih memungkinkan kita kerjasama BNPB operasi modifikasi cuaca. Tapi itu harus melihat kondisi awan. Kalau ada bibit hujan itu bisa dilaksanakan. Kalau tidak ada ya susah juga," kata Amson Padolo kepada Tribun-Timur.com.

Dalam praktik modifikasi cuaca, syarat utamanya ketersediaan awan potensial.

Dibutuhkan awan memenuhi syarat kandungan air untuk disemai. 

Tanpa adanya awan, operasi tidak dapat dilakukan

Kemudian arah angin yang mendukung, serta penggunaan bahan semai yang tepat. Operasi modifikasi cuaca bukan menciptakan awan, melainkan mengoptimalkan awan yang sudah ada di langit.

 

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.