Warga Pandansari Lumajang Meriahkan Maulid Nabi dengan Tradisi Rebutan Gunungan
Haorrahman August 25, 2026 07:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Ratusan warga Desa Pandansari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tradisi yang berlangsung meriah, Senin malam (24/8/2026).

Warga yang tinggal di kawasan lereng Gunung Semeru itu berkumpul di Musala Nurul Huda setelah salat Magrib. Mereka membawa beragam makanan, buah-buahan, hingga gunungan hasil bumi untuk memeriahkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Setelah seluruh jemaah berkumpul, acara diawali dengan doa bersama serta lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan berlangsung khidmat sebelum suasana berubah menjadi lebih semarak pada penghujung acara.

Usai doa bersama, warga memperebutkan berbagai hidangan dan isi gunungan hasil bumi yang sebelumnya mereka bawa ke musala. Tradisi tersebut menjadi bagian yang paling ditunggu dalam perayaan Maulid Nabi di Desa Pandansari.

Baca juga: Diikuti 1.500 Peserta Endog-Endogan Kembiritan Banyuwangi, Tradisi Maulid Nabi yang Terus Dirawat

Kemeriahan bertambah ketika takmir musala menggantung sejumlah hadiah di langit-langit bangunan. Warga kemudian berusaha mengambil hadiah tersebut dengan melompat dan berdesak-desakan.

Jemaah dari berbagai usia turut ambil bagian, mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu.

"Ini sangat seru sekali perayaan tahun ini, diikuti semua kalangan, anak kecil sampai ibu-ibu juga ikut rebutan," ujar Yoga Hasbullah, jemaah Musala Nurul Huda Desa Pandansari, Selasa (25/8/2026).

Menurut Yoga, tradisi tersebut bukan hal baru bagi masyarakat Pandansari. Kegiatan serupa telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi salah satu ciri perayaan Maulid Nabi di lingkungan mereka.

Ia menjelaskan, makanan yang dibawa warga ke musala memang sengaja diperebutkan setelah rangkaian doa dan pujian selesai. Hidangan tersebut tidak dibagikan oleh pengurus musala seperti pembagian makanan pada umumnya.

"Jadi, memang direbutkan dan tidak dibagi, sudah dari dulu begitu,” ucap Yoga.

Baca juga: Gus Kautsar Meriahkan Maulid Nabi di Pasuruan, Ribuan Ibu Tukar 4.000 Cobek

Pengurus Musala Nurul Huda, Sholeh Amin, mengatakan tradisi berebut hadiah dan hidangan telah menjadi kegiatan rutin yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi hiburan dalam perayaan Maulid Nabi. Kegiatan itu juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan hubungan sosial antarwarga.

Sholeh menyebut antusiasme masyarakat dalam mengikuti tradisi tersebut terus terjaga setiap tahun. Bahkan, persiapan perayaan Maulid Nabi semakin semarak, terutama dari sisi dekorasi dan hiasan yang disiapkan.

“Tradisi ini memang sudah seperti ini dari dulu, dan setiap tahunnya selalu lebih meriah dan mewah dari segi hiasan yang disediakan,” imbuhnya.

Bagi warga Pandansari, perayaan Maulid Nabi sekaligus menjadi momentum menjaga tradisi lokal. Di tengah doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, warga juga memperkuat semangat guyub rukun melalui kegiatan yang melibatkan berbagai kalangan tersebut.

 

 Lumajang, Maulid Nabi Pandansari, tradisi Maulid Nabi, Desa Pandansari Senduro, tradisi rebutan gunungan, Maulid Nabi 2026, budaya Lumajang

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.