TRIBUNJATIM.COM - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Hery Gunardi, meluncurkan aplikasi perbankan digital, BRI Mobile atau BRImo Taiwan di Taipei, Ibu Kota Taiwan, Minggu (23/8/2026).
BRI ingin lebih dekat dan melayani sekitar 400 ribu pekerja migran Indonesia (PMI) dan diaspora yang melakukan transaksi kurang lebih Rp 48 triliun setiap tahun.
Peluncuran fitur perbankan digital ini sekaligus pencanangan bank yang didirikan pada 16 Desember 1895 di Purwokerto itu go international, mengimbangi masifnya bank mancanegara yang masuk ke berbagai daerah di Indonesia.
Ikuti laporan wartawan Tribun Network, Domu D Ambarita, yang bersama-sama dengan Dirut BRI selama dua hari di Taiwan.
***
Dalam rangkaian kunjungan kerja peluncuran (grand launching) aplikasi perbankan digital BRI Mobile (BRImo) Taiwan di Taipei, Ibu Kota Taiwan, Sabtu hingga Minggu (23/8/2026), Dirut BRI Hery Gunardi menyediakan waktu sehari penuh bersama sejumlah pemimpin redaksi media nasional dari Jakarta, termasuk wartawan Tribun Network.
Kegiatan dimulai Sabtu (22/8/2026) pukul 05.30 waktu setempat (sama dengan Waktu Indonesia Tengah/Wita). Bergerak dari Hotel Mandarin Oriental Taipei menuju Taman/Balai Chiang Kai-shek Memorial Hall.
Di lapangan, olahraga jalan pagi berlangsung sejak pukul 06.05 sampai kurang lebih pukul 07.25. Berbicara sambil jalan santai.
Kemudian menyeberang jalan ke warung makan khas Indonesia, berjarak kurang lebih 200 meter, mampir ke Kedai Sri Rahayu.
Di sini, rombongan berkumpul melingkar, sarapan sambil bincang-bincang dalam waktu sekitar dua jam.
Group CEO Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk Hery Gunardi bersama jajaran direksi BRI dan wartawan asal Indonesia jalan pagi di taman Chiang Kai-Shek, Taipei, Taiwan, Sabtu (22/8/2026), lalu kembali ke hotel.
Menjelang siang, kunjungan kerja berlanjut ke kantor cabang BRI Taipei. Kantor ini ditopang oleh sumber daya manusia berjumlah sekitar 20 orang.
Setelah melihat-lihat aktivitas kantor, layaknya kantor bank yang memiliki teller/kasir, rombongan memasuki ruang rapat yang memiliki daya tampung kurang dari 20 orang.
Pembahasan mengenai perbankan nasional, penguatan BRI dari desa masuk kota, hingga tekad BRI masuk dunia internasional disampaikan oleh manajemen BRI.
Sekitar pukul 13.10 waktu setempat, tiba di satu restoran yang terletak di lantai 47 Gedung Breeze Xin Yi. Banyak canda dan tawa perbincangan di meja makan.
Menjelang sore, rombongan jalan kaki menuju Taipei 101, gedung pencakar langit setinggi 382 meter di pusat Taipei.
Gedung ini disebut sebagai bangunan tertinggi ke-11 di dunia.
Sejak jalan kaki hingga turun dari gedung, memakan waktu sekira pukul 14.15 sampai 16.05
Saking asyiknya jalan, jadwal ngeteh sore di Hehe Qingtian Tea House ditiadakan.
Menjelang senja, kembali ke hotel istirahat sejenak.
Makan malam di satu restoran yang terletak di lantai 31 bangunan Distrik Xinyi, Taipei, Taiwan.
Bincang hangat melingkar berlangsung hingga lewat pukul 22.00 waktu setempat, kemudian kembali ke hotel.
Lalu, Minggu (23/8/2026) sore, pukul 15.10 waktu setempat, Hery Gunardi bersama beberapa pejabat setempat meluncurkan BRImo Taiwan.
Aplikasi ini memungkinkan pekerja migran Indonesia menabung upah dalam mata uang New Taiwan Dollar, lalu melakukan transaksi, termasuk mengirim uang untuk diterima keluarga dalam mata uang rupiah di Indonesia.
Pagi itu, cuaca berawan di seputaran lapangan luas Alun-alun Kebebasan atau dalam bahasa Mandarin disebut Ziyou Guangchang yang berada di kompleks Chiang Kai-shek Memorial Hall di Taipei, Taiwan.
Sabtu (22/8/2026) sekira pukul 06.00 waktu setempat, serupa dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita), sejumlah Warga Negara Indonesia jalan santai, olahraga pagi, jogging kurang lebih 90 menit.
Jajaran direksi dan manajemen BRI yang turut hadir adalah Direktur Teknologi Informasi Saladin Dharma Nugraha Effendi, Direktur Treasury dan Perbankan Internasional Farida Thamrin, Direktur Manajemen Risiko Ety Yuniarti, Group Head Corsec Dhanny, dan Corcomm Department Head Ratna Lely Nurjannah.
Dari jajaran komisaris BRI, diwakili oleh Edi Susanto selaku Komisaris Independen.
Sebelumnya, Edi Susanto menjabat sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI).
Tampak juga delapan pemimpin redaksi media nasional dari Jakarta.
Selain selaku Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi juga menjabat Chief Executive Officer (CEO) BRI yang membawahkan beberapa anak perusahaan seperti BRI Global Financial, PT Pegadaian, Bank Raya, BRI Life, PT Permodalan Nasional Madani, BRI Insurance, BRI Manajemen Investasi, BRI Danareksa Sekuritas, BRI Venture, BRI Finance, dan lainnya.
Sambil jalan pagi, Hery berbincang akrab dengan para wartawan senior yang melangkah berdampingan, menyusuri taman kompleks CKS, sebutan akrab untuk Chiang Kai-shek Memorial Hall (Balai Peringatan Chiang Kai-shek). Taman Chiang Kai-shek berdiri di atas lahan seluas 24 hektare persegi.
Balai/taman CKS didirikan untuk mengenang Jenderal Besar dan mantan Presiden Republik Tiongkok (Taiwan), Chiang Kai-shek, yang wafat pada tahun 1975.
Chiang Kai-shek adalah seorang tokoh politik, revolusioner, dan pemimpin militer yang menjabat sebagai kepala negara Republik Tiongkok (Republic of China/ROC) selama hampir lima dekade, menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh di Asia pada abad ke-20.
Dikutip dari sejarah yang ditulis bbc.co.uk, Chiang Kai-shek hidup dalam kurun waktu 1887–1975. Setelah kematian pendiri Republik Tiongkok, Sun Yat-sen, Chiang mengambil alih kepemimpinan Partai Nasionalis atau Kuomintang (KMT).
Ia memimpin faksi nasionalis dalam Perang Saudara Tiongkok yang panjang dan berdarah melawan Partai Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong.
Terdapat empat bangunan di kompleks Balai Peringatan Chiang Kai-shek.
Di arah barat terdapat gerbang utama bernama Alun-Alun Kebebasan/Ziyou Guangchang, yang menjadi pintu masuk.
Gerbang masuk ini ditandai dengan sebuah gapura tradisional raksasa setinggi 30 meter dengan lima lengkungan.
Sebelum jalan, rombongan terlebih dahulu foto-foto di gerbang.
Selanjutnya, menyusuri bagian depan bangunan yang berdiri di sebelah selatan adalah Teater Nasional.
Bangunan berarsitektur kuno ini merupakan panggung pertunjukan seni utama di Taiwan.
Peserta jalan santai sempat berfoto bersama di anak tangga gedung.
Menyusuri taman, jalan berkelok-kelok ditumbuhi aneka bebungaan dan pepohonan.
Terdapat kolam dan burung-burung, lokasi yang bagus untuk mengabadikan foto.
Di sebelah timur alun-alun, terdapat bangunan utama yang dinamai Chiang Kai-shek Memorial Hall (Balai Peringatan Chiang Kai-shek).
Bangunan ini sangat sarat akan simbolisme, misalnya, atap segi delapan berwarna biru dan dinding marmer putih melambangkan warna bendera Taiwan, serta 89 anak tangga menuju pintu masuk melambangkan usia Chiang Kai-shek saat wafat.
Terdapat monumen yang difungsikan sebagai museum.
Sebelum sinar matahari menyilaukan, rombongan berfoto bersama di anak tangga gedung utama Balai Peringatan Chiang Kai-shek.
Peserta jalan pagi kemudian keluar kompleks, melewati samping kanan Gedung Konser Nasional yang bangunannya mirip dengan Gedung Teater Nasional.
Lalu menyeberangi jalan untuk sarapan di warung makan khas Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yakni Kedai Sri Rahayu.
Letaknya di sebelah selatan CKS, tepatnya beralamat di No. 36, Aiguo E Rd, Zhongzheng District, Taipei City, Taiwan (atau di Jalan Aiguo East Road/Jalan Aiguo Timur).
Sri Purwanti, perempuan asal Cilacap yang sudah 26 tahun tinggal di Taipei dan menikah dengan pria Taiwan, mendirikan warung makan itu sejak lima tahun lalu.
Sebelumnya, sejak 15 tahun silam, ia mendirikan warung bakso di tempat lain di kota yang sama. Kini ia memiliki empat warung makan, semuanya beroperasi di Ibu Kota Taiwan.
Sri mengatakan, lokasi warungnya selain dekat pusat keramaian Taman CKS, konsumennya juga banyak dari umat Islam Masjid Agung Taipei, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari warungnya.
Oleh karena dekat dengan masjid, konsumen Kedai Sri Rahayu banyak dari kalangan muslim yang menunaikan ibadah salat di Masjid Agung Taipei.
Tidak hanya orang Indonesia, juga pekerja migran dari Pakistan, Malaysia, dan negara lainnya.
Di Warung Makan Sri Rahayu, Direktur Utama BRI dan rombongan menyantap menu-menu makanan tradisional, seperti nasi liwet dan sate ayam.
Kedai ini juga menyediakan aneka menu nasi liwet burung dara, nasi liwet lele, sate ayam, bakso iga, bakso mercon, hingga es cendol.
Makanan jajanan dan lele didatangkan dari Indonesia.
Sementara menu yang diolah dan disediakan di Taiwan seperti ayam goreng, burung dara, dan bebek.
Menurut Sri, harga per porsi makanan setara dengan Rp 100 ribu.
Rombongan Dirut BRI sarapan sambil berbincang-bincang di Kedai Sri Rahayu selama kurang lebih dua jam.
Menjelang siang, setelah bersalin pakaian di Hotel Mandarin Oriental yang terletak di Jalan Dunhua Utara (Dunhua North Road) nomor 158, Distrik Songshan, Kota Taipei, Taiwan, acara selanjutnya mengunjungi Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Taipei yang berlokasi di No 166, Section 3, Nanjing East Road, Zhongshan District, Taipei City, Taiwan (10491).
Di kantor BRI, diskusi awalnya dipimpin oleh Direktur Treasury and International Banking BRI, Farida Thamrin. Kemudian bergabung Hery sekitar 30 menit kemudian.
Banyak informasi disampaikan Hery, antara lain kegelisahan perbankan nasional melihat keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membuka lebar keran perbankan asing masuk ke daerah-daerah di Indonesia.
Hal ini menjadi ancaman bagi perbankan nasional.
"Sementara BRI hendak buka di Malaysia susah. BRI sebenarnya sudah lama masuk ke sana, tapi sampai sekarang, untuk membuka kantor cabang saja, tidak diberi izin," kata Hery.
Saat ini, unit kerja BRI di luar negeri sudah hadir di enam negara yakni Singapura, Amerika Serikat, Kepulauan Cayman, Hong Kong, Timor Leste, dan Taipei-Taiwan.
Dikutip dari Kontan.co.id, sejumlah bank asing dengan mayoritas kepemilikan asing (afiliasi internasional) misalnya OCBC Indonesia (Singapura), CIMB Niaga (Malaysia), UOB Indonesia (Singapura), Bank DBS Indonesia (Singapura), Bank Maybank Indonesia (Malaysia), KEB Hana Bank (Korea Selatan), dan Bank JTrust Indonesia (Jepang).
Kemudian ada bank asing yang membuka kantor cabang seperti MUFG Bank Ltd. (Jepang), Bank of China (China), ICBC Indonesia (China), Bangkok Bank (Thailand), Deutsche Bank (Jerman), dan lain-lain.
Bank Rakyat Indonesia masuk ke Taipei sejak tahun 2021. Pembukaan resmi (Grand Launching) BRI Cabang Taipei dilakukan empat tahun kemudian, yaitu pada 8 Agustus 2025. Grand launching dibuka oleh CEO Grup BRI Hery Gunardi bersama Kepala KDEI Taipei.
Turut hadir General Manager BRI Cabang Taipei Andik Kurniawan, Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin, jajaran pimpinan dari BRI Pusat, serta Wakil Kepala KDEI Taipei Johanes Andi Susanto.
Kontribusi PMI di Taiwan terhadap perekonomian nasional cukup besar. Berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi PMI dari Taiwan mencapai sekitar US$ 2,97 miliar pada 2025, atau setara dengan Rp 47–48 triliun (dengan asumsi kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS). Nilai tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya yang sebesar US$ 1,37 miliar pada tahun 2021.
Arus remitansi tersebut menunjukkan bahwa PMI di Taiwan bukan hanya menjadi bagian penting dari pasar tenaga kerja internasional, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap perekonomian keluarga dan daerah asal di Indonesia.
General Manager BRI Cabang Taipei Andik Kurniawan mengatakan, secara keseluruhan pengiriman uang dari Taiwan ke Indonesia melalui BRI mencapai sekitar 27,9 persen.
"Melalui BRI sekitar Rp 11 triliun," kata Andik, pria asal Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang sudah setahun bertugas di Taipei.
Andik berharap kehadiran BRI memberi dampak dan manfaat bagi PMI di Taiwan. Dari sekitar 400 ribu diaspora Indonesia di Taiwan, Andik menyasar target 10 persen untuk menjadi nasabah BRI.
"Tahun 2028, kami targetkan sekitar 40 ribu diaspora Taiwan dapat menggunakan jasa BRI Taiwan," kata Andik.
Hingga awal Agustus 2026, total nasabah BRI Cabang Taiwan telah mendekati 5.000 individu dan 334 restoran. Adapun pengguna aktif (active user) BRImo Taiwan tercatat sebanyak 1.300 orang, dengan jumlah transaksi mencapai 562.713 USD atau setara kurang lebih Rp 10 miliar.
Setelah peluncuran BRImo Taiwan yang memungkinkan pengguna aplikasi menabung dan bertransaksi dalam mata uang New Taiwan Dollar (NTD), ia memasang target pertumbuhan akuisisi sebanyak 300 user setiap bulannya.
Ribuan pekerja migran Indonesia (PMI) memadati alun-alun Balai Kota New Taipei (New Taipei City Hall) Distrik Banqiao, Kota Taipei, Taiwan, Minggu (23/8/2026) sore hingga petang. Mereka menghadiri peluncuran aplikasi perbankan digital BRImo Taiwan.
Acara ini menampilkan band Sheila On 7 dan Wika Salim.
Group CEO PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Hery Gunardi meluncurkan BRImo dalam acara yang dikemas dengan rangkaian Festival Budaya Indonesia yang memakan waktu lebih dari tiga jam.
Grup band ternama Sheila on 7 tampil lebih dari satu jam, membawakan 13 lagu terbaik mereka, antara lain "Bila Kau Tak di Sampingku", "Film Favorit", "Melompat Lebih Tinggi", "Memori Baik", "Seberapa Pantas", "Sephia", dan diakhiri tepat pukul 18.10 waktu setempat.
Tampil sebagai hiburan pembuka adalah penyanyi Wika Salim.
Pedangdut kelahiran Bogor, Jawa Barat, bernama lengkap Wika Febrina Putri itu melantunkan lagu-lagu populer, di antaranya "Keong Racun", "Perawan atau Janda" (Medley), "Kicau Mania", dan "Bintang Kehidupan" karya mendiang Nike Ardilla.
Peluncuran BRImo dilakukan tepat pukul 15.10 waktu setempat.
Tombol ditekan bersama-sama oleh Hery Gunardi, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Arif Sulistyo, Wali Kota New Taipei City Hou Yu-ih, Senior Executive Officer of Labor Bureau of NTC Lai Yan Heng, dan Head of Bureau of Labor Affairs New Taipei Mr. Chen Rui Jia.
Menurut Wali Kota New Taipei City Hou Yu-ih, terdapat sekitar 400 ribu orang pekerja migran Indonesia dan diaspora di Taiwan.
Adapun dari data Badan Imigrasi Nasional Taiwan yang diterbitkan pada Juni 2026, PMI asal Indonesia berjumlah 364.408 jiwa atau 11 persen dari jumlah total 1,07 juta jiwa pekerja mancanegara.
Dari angka itu, kurang lebih 40 ribu orang PMI bekerja di Kota Taipei.
BRImo Taiwan dihadirkan untuk PMI dan perantau asal Indonesia di negara ini, atau untuk para pebisnis Taiwan yang memiliki hubungan dengan rekanan di Indonesia.
BRImo adalah layanan perbankan digital BRI khusus bagi masyarakat dan diaspora Indonesia di Taiwan.
Layanan ini diintegrasikan melalui BRI Taipei Branch untuk mempermudah akses keuangan lintas negara secara real-time dan aman selama 24 jam.
Manfaat BRImo (BRI Mobile) Taiwan yaitu memberi akses transaksi perbankan 24 jam.
BRImo memudahkan berbagai aktivitas finansial harian kapan saja tanpa terikat jam kerja kantor fisik.
Melalui kemudahan BRImo, waktu remitansi, pengiriman, atau transfer uang dari Taiwan ke Indonesia menjadi semakin cepat.
"Melalui BRImo Taiwan, BRI ingin membuat layanan perbankan semakin mudah, cepat, aman, dan dekat bagi masyarakat Indonesia di Taiwan. BRImo membantu Pekerja Migran Indonesia dan diaspora mengelola keuangan secara lebih terencana, aman, dan transparan," kata Hery Gunardi yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sekaligus Group CEO BRI sejak Maret 2025.
BRImo menyatukan berbagai fitur pembayaran dan layanan perbankan dalam satu genggaman telepon seluler.
Kehadiran BRI di Taiwan bukan semata tentang membuka kantor atau menghadirkan layanan digital.
"Kehadiran BRI di Taiwan adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan di Indonesia," kata Hery.
Saat berbincang dengan sejumlah Pemimpin Redaksi media nasional dari Jakarta di Kantor Cabang BRI Taipei pada hari Sabtu (22/8/2026), Hery Gunardi mengatakan, BRI akan semakin ekspansif melayani diaspora di luar negeri.
Menurutnya, BRI tidak boleh kalah dengan bank dari mancanegara yang gencar masuk ke Indonesia.
Yuni Lestari adalah seorang perempuan asal Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang sudah delapan tahun bekerja di Taiwan.
Orang tua dan anak Yuni tinggal di Cluwak, yang berada di area lereng Gunung Muria dan berjarak sekitar satu jam atau 39 kilometer di sebelah utara pusat Kota Pati.
Yuni mengaku sangat terbantu oleh kehadiran BRImo. Ia sudah dua tahun menjadi pengguna BRImo.
Sebelumnya, untuk urusan mengirim uang, ia menggunakan jasa perusahaan remitansi, yaitu melakukan transfer uang tanpa menjadi nasabah bank.
"Setelah adanya BRImo, saya sangat terbantu. Kapan saja mau kirim uang ke ibu, bisa dan aman. Dulu kalau mau ngirim uang, harus bawa uang tunai. Sekali waktu, saya pas bawa uang di tangan, saat menghitung, lembaran uangnya terbang ditiup angin. Selain itu, membawa uang tunai juga rawan hilang atau menjadi korban kriminal," ujar Yuni, ibu satu anak berusia 10 tahun, saat ditemui Tribunnews.com di belakang panggung Festival Budaya Indonesia di Taipei, Minggu.
Sri Purwanti, perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah, pemilik rumah makan (Kedai) Sri Rahayu, mengaku sudah setahun lebih menggunakan aplikasi perbankan digital, BRImo.
Baru-baru ini, pemilik 4 warung makan di Taipei dengan penghasilan setara Rp 4 miliar per bulan itu, mengirim dana setara Rp 2 miliar kepada adiknya di Cilacap.
"Baru-baru ini mengirim uang sekitar Rp 2 miliar kepada adik. Dengan kehadiran BRImo, transaksi bank lebih mudah," kata Sri.
Corporate Secretary (Corsec) BRI, Dhanny, mengatakan bahwa dengan diluncurkannya BRImo Taiwan, para pekerja migran Indonesia dan diaspora di Taiwan dapat lebih praktis dalam melakukan transaksi perbankan.
Dalam mengirim uang dari luar negeri, sebagian besar PMI menggunakan jasa perusahaan remitansi uang atau wesel pos.
Praktiknya, PMI membawa uang dan mendatangi badan usaha yang menyediakan layanan pengiriman atau transfer uang, baik di dalam negeri maupun lintas negara (internasional).
Uang disetor, lalu dikirim ke penerima di Indonesia.
Pengiriman ini dilakukan di luar transaksi perbankan, sehingga pengirim dan penerima tidak harus memiliki rekening.
Pengiriman remitansi banyak dilakukan melalui Western Union dan 7-Eleven.
Namun, untuk penyalurannya ada juga yang bermitra dengan perbankan, termasuk BRI.
Remitansi domestik juga dapat dilakukan melalui Kantor Pos, Pegadaian, dan sebagainya.
Jumlah total Warga Negara Indonesia (WNI), yang mencakup Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan diaspora di Taiwan, saat ini telah mendekati 400.000 orang.
Mayoritas dari populasi ini bekerja di sektor formal (manufaktur) maupun informal (asisten rumah tangga dan perawat orang lanjut usia/lansia).
Rincian Data WNI di Taiwan:
Estimasi Total WNI/Diaspora: Mendekati 400.000 jiwa menurut data KDEI Taipei dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
Data Imigrasi Resmi: Catatan Badan Imigrasi Nasional Taiwan menunjukkan kisaran 350.000 hingga 400.000 orang WNI yang tinggal dan bekerja di sana.
Sektor Pekerjaan: Terbagi menjadi sektor formal (pabrik/manufaktur) dan informal (penjaga orang sakit, asisten rumah tangga), serta sebagian kecil anak buah kapal (ABK) perikanan.
Berdasarkan pengumuman KDEI Taipei Nomor: 0111/KA.VII/KDEI/1/2026, mengacu pada "upah dasar" Kementerian Tenaga Kerja Taiwan yang disesuaikan pada 26 September 2025, gaji pokok Pekerja Migran pada sektor formal disesuaikan menjadi NT$ 29.500 per bulan.
Dengan asumsi NT$ 1 = Rp 556, berarti rata-rata upah PMI adalah Rp 16,4 juta per bulan, terhitung sejak 1 Januari 2026.