TRIBUNJOGJA.COM - Sebanyak 9 pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) I Kulon Progo sempat tidak betah tinggal di asrama. Namun demikian, pada akhirnya satu anak yang dipastikan resmi mengundurkan diri dari sekolah rakyat tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SRT I Kulon Progo, Agus Ristanto pada Selasa (25/08/2026).
Agus juga mengungkap beberapa alasan dan faktor penyebab anak-anak ingin mengundurkan diri dari SRT I Kulon Progo.
SRT I berlokasi di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo dan kini telah beroperasi selama sebulan.
Harus tinggal di asrama dan hidup terpisah dari orang tua, beberapa di antara anak-anak pelajar SRT I tersebut dilaporkan merasa tidak betah.
Ada sejumlah pelajar yang merasa tidak betah karena harus tinggal di asrama. Bahkan ada pelajar yang akhirnya memutuskan mundur dari sekolah besutan Presiden Prabowo Subianto ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SRT I Kulon Progo, Agus Ristanto menyebut ada 9 pelajar yang sempat meminta pulang ke rumah karena tidak betah harus tinggal di asrama.
"Kami lalu memberikan pemahaman dan pengertian pada para pelajar yang merasa tidak betah ini agar keinginan untuk mundur bisa ditahan," jelas Agus pada Selasa (25/08/2026).
Namun dalam prosesnya, ada satu pelajar yang memutuskan mundur dari program SR. Yang bersangkutan kini sudah resmi mundur dari SR secara tertulis atas persetujuan orang tuanya.
Agus mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat para pelajar tak betah tinggal di asrama. Salah satunya dari kelonggaran penggunaan ponsel untuk menghubungi orang tua mereka yang ternyata dinilai memicu rasa rindu berlebihan.
"Sebab saat anak-anak diberi waktu untuk menghubungi orang tuanya dengan ponsel, kebanyakan minta dijemput, sehingga orang tua yang tidak tega menuruti kemauan anak," paparnya.
Agus menilai rasa tidak betah para pelajar murni karena faktor pribadi dan belum mampu beradaptasi, bukan karena faktor tekanan atau adanya perundungan. Ia pun memastikan tidak ada aksi senioritas di SRT I.
Namun pihaknya kini memutuskan untuk lebih memperketat jadwal penggunaan ponsel untuk komunikasi. Keputusan ini diambil dengan tujuan untuk menjaga fokus serta kenyamanan belajar anak di lingkungan asrama.
"Kami ingin proses pembiasaan kehidupan berasrama bagi pelajar bisa berjalan mandiri tanpa ada pemicu emosional yang berlebihan dari luar," kata Agus.
Waka Kesiswaan SRT I Kulon Progo, Ikhsan membenarkan ada 9 pelajar yang ingin mundur dari situ. 1 pelajar sudah resmi mengundurkan diri dan ada 2 pelajar yang masih dalam proses untuk mengundurkan diri.
Sedangkan 6 pelajar lainnya masih dalam penyesuaian agar tetap bersedia bertahan di SRT I Kulon Progo. Ia pun memaklumi keinginan para pelajar itu untuk mundur mengingat mereka mengalami kendala untuk beradaptasi.
"Apalagi mereka berasal dari berbagai kabupaten/kota di DIY, tidak hanya dari 1 daerah," jelas Ikhsan.(alx)