TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sukiyaki dikenal sebagai salah satu hidangan Jepang dengan karakter rasa manis dan gurih.
Namun, ketika hadir di Indonesia, hidangan Jepang tersebut dapat mengalami penyesuaian rasa mengikuti preferensi konsumen lokal.
Baca juga: Ledre Laweyan Ibu Sri Martini, Kuliner Legendaris di Gang Sempit Solo Sejak 1984
Salah satunya melalui penggunaan tomat dan cabai yang memberikan sensasi asam, segar, dan pedas.
Salah satu restoran yang menghadirkan variasi tersebut adalah Gokuniku di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.
Restoran ini menyajikan spicy tomato sukiyaki dengan perpaduan rasa dasar sukiyaki, tomat, dan cabai rawit.
Menurut CEO Gokuniku, Michael, ide menu tersebut terinspirasi dari pengalamannya mencicipi tomato sukiyaki di Singapura.
“Kalau tomato spicy ini, dia ada essence asam, asam segarnya. Ada cabai rawitnya juga. Nah, itu yang bikin beda sebenarnya,” ujarnya.
Dari Manis dan Gurih Menjadi Lebih Segar
Secara umum, sukiyaki memiliki karakter rasa manis dan gurih. Daging serta sayuran dimasak dalam kuah atau saus tersebut dan disantap bersama pelengkap.
Penambahan tomat memberikan karakter rasa yang berbeda. Rasa asam dan segar membuat kuah memiliki sensasi yang lebih ringan, sementara cabai memberikan tingkat kepedasan.
Perpaduan rasa manis, gurih, asam, dan pedas sendiri cukup dekat dengan karakter berbagai makanan yang dikenal masyarakat Indonesia.
Karena itu, penyesuaian rasa menjadi salah satu bentuk adaptasi yang umum terjadi ketika makanan dari suatu negara berkembang di pasar kuliner lain.
Baca juga: Berawal dari Sulit Cari Makanan Halal, Nasabah BRI Bangun Bisnis Kuliner di Taiwan
Kuliner Jepang Tak Selalu Hadir dalam Bentuk Asli
Adaptasi tidak hanya terjadi pada sukiyaki. Berbagai hidangan Jepang di Indonesia juga kerap mengalami penyesuaian bahan, tingkat rasa, ukuran porsi, hingga cara penyajian.
Perubahan tersebut memungkinkan hidangan yang memiliki karakter khas dari negara asalnya diterima oleh konsumen dengan kebiasaan makan yang berbeda.
Dalam kasus spicy tomato sukiyaki, penggunaan tomat dan cabai menjadi contoh sederhana bagaimana unsur lokal dapat dipadukan dengan hidangan Jepang tanpa menghilangkan konsep dasarnya.
Kehadiran variasi semacam ini juga menunjukkan bahwa kuliner Jepang di Indonesia tidak berhenti pada upaya mempertahankan resep asli. Restoran dan pelaku kuliner turut mengembangkan rasa berdasarkan karakter pasar yang dituju.
Pada akhirnya, adaptasi semacam ini memperlihatkan bagaimana makanan dapat berubah ketika berpindah dari satu budaya ke budaya lain.
"Cita rasa asli tetap menjadi dasar, tetapi bahan dan karakter rasa dapat berkembang mengikuti kebiasaan makan masyarakat setempat," katanya.