TRIBUNNEWS.COM - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli menanggapi ramainya pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang menyinggung soal Pemilihan Umum atau Pemilu lebih cepat dari 2029, saat duduk di dekat mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Statement Budi Arie itu menjadi perbincangan setelah potongan videonya beredar luas.
Gun Romli sapaan akrabnya menilai, pernyataan tersebut menunjukkan seolah baik Budi Arie maupun ayah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka itu masih haus kekuasaan.
Apalagi, saat ini, bangsa Indonesia tengah dihadapkan dengan bencana alam.
Seperti, gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kekeringan yang melanda wilayah Pulau Jawa di mana 14 daerah di Jawa Tengah berstatus Awas Kekeringan pada periode 21-31 Agustus 2026, belum pulihnya Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara setelah banjir bandang November 2025 lalu, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang merebak di berbagai wilayah di Pulau Kalimantan.
Gun Romli pun mempertanyakan alasan Budi Arie melontarkan pernyataan soal Pemilu tersebut.
Ia juga menyebut, seharusnya Budi Arie diperiksa terkait dua kasus.
Pertama, dugaan keterlibatan dalam kasus mafia akses judi online (judol) saat masih menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika RI (Menkominfo).
Kedua, dugaan pencemaran nama baik karena telah menuding PDIP mendapatkan aliran dana judi online (judol).
"Budi Arie ini bukannya harus diperiksa kasus dugaan terlibat judol atau pencemaran nama baik terhadap PDI Perjuangan? Kok malah nyerocos soal percepatan 2029?" kata Gun Romli, dikutip dari video yang diunggah di akun Instagramnya, @gunromli, Selasa (25/8/2026).
"Negeri sedang banyak bencana."
Baca juga: Budi Arie Sebut Pemilu Lebih Cepat dari 2029 di Depan Jokowi, Pengamat BRIN: Apa Kepentingannya?
"Kalimantan dibakar, Sumatera belum pulih, NTT gempa, Jawa kekeringan, Pemilu 2029 juga masih jauh."
"Kok bisa-bisanya Budi Arie nyerocos di samping Jokowi? Soal kemungkinan percepatan 2029 ini, kesannya Budi Arie dan Jokowi yang haus kekuasaan."
Kemudian, Gun Romli menilai, seolah-olah Jokowi yang sudah menjabat sebagai RI1 selama dua periode, 2014-2019 dan 2019-2024 tidak cukup berkuasa.
Seolah-oleh, Budi Arie yang dilantik menjadi Menteri Koperasi RI (Menkop) oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Senin (21/10/2024) meski akhirnya dicopot pada Senin (8/9/2025) lalu juga merasa tidak cukup.
"Jadi presiden dua periode tidak cukup bagi Jokowi. Budi Arie yang pernah jadi menteri, kemudian dipecat jadi menteri, juga belum merasa cukup," ucap Gun Romli.
Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir di Situbondo, Jawa Timur 17 Maret 1978 itu juga heran, mengapa percepatan kekuasaan yang dibahas para elite pejabat.
Padahal, rakyat tengah dihadapkan berbagai bencana.
Ia lantas mengkritik status relawan pendukung, yang seharusnya bisa dikirim untuk membantu warga terdampak bencana, alih-alih hanya memikirkan kekuasaan dan manuver politik.
"Di tengah rakyat masih berjibaku dengan asap reruntuhan dan sawah kekeringan, kok yang dipikirkan segelintir elite di lingkaran istana lama ini malah skenario percepatan kekuasaan?" ucap Gun Romli.
"Bukan bagaimana memadamkan api di Kalimantan, bukan bagaimana memulihkan Sumatra, bukan bagaimana menolong NTT, tapi hitung-hitungan insting soal 2029 yang katanya bisa lebih cepat."
"Katanya di relawan, relawannya kok enggak dikirim ke NTT, dikirim ke beberapa titik-titik bencana, malah manuver-manuver politik saja yang diomongin."
Adapun potongan video Budi Arie sempat viral di media sosial, di mana pria yang dicopot oleh Presiden RI Prabowo Subianto dari jabatan Menteri Koperasi RI (Menkop) pada Senin (8/9/2025) itu tengah berbicara di sebuah forum.
Dalam video, terlihat Budi Arie mengajak audiensnya untuk tidak terpaku pada skenario politik konvensional menuju Pemilu 2029.
Dengan nada serius, ia menyinggung soal insting politiknya mengenai kemungkinan adanya percepatan Pemilu yang juga sudah disampaikan kepada Jokowi.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" kata Budi Arie, yang langsung dijawab seruan "Siap!" dari audiens.
Saat Budi Arie menyampaikan pernyataan ini, Jokowi yang duduk di sampingnya terlihat hanya diam saja, tidak bereaksi apa-apa.
Lebih jauh, Budi Arie mendeskripsikan kondisi masyarakat saat ini sebagai sebuah anomali.
Ia lantas membandingkan dinamika sosial dan ekonomi saat ini dengan patahan sejarah pada masa transisi Orde Baru ke Reformasi tahun 1997-1999.
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun '97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy," ucap Budi Arie.
(Tribunnews.com/Rizki A.)