1.000 Pintu 1.000 Dulang, Ribuan Warga Nganggung di Halaman Masjid Raya Tuatunu Pangkalpinang
Fitriadi August 26, 2026 11:38 AM

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Ribuan warga duduk berhadapan di halaman Masjid Raya Tuatunu, Pangkalpinang, Selasa (25/8/2026). Di antara barisan mereka, dulang-dulang berisi makanan tersaji rapi.

Hidangan yang dibawa dari rumah itu kemudian dinikmati bersama dalam Festival Nganggung 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tahun ini, festival mengusung tema “1000 Pintu, 1000 Dulang”. Angka tersebut bukan sekadar penanda jumlah, melainkan simbol keterbukaan rumah, gotong royong, dan kesediaan warga berbagi dalam satu perayaan.

Sebelum berkumpul di Masjid Raya Tuatunu, peserta mengikuti kirab dari Masjid Al Ikhlas dan Masjid Al Mukarrom. Mereka berjalan sambil menjunjung dulang di lengan dengan mengenakan pakaian Melayu.

Peserta dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), instansi vertikal, dan masyarakat turut ambil bagian dalam parade tersebut.

Setibanya di masjid, rangkaian acara dilanjutkan dengan Tari Sambut, pembacaan Al Quran, tausiyah, serta sambutan sejumlah pejabat. Pemerintah juga meluncurkan Kampung Zakat bertema “Kelurahan Zakat Berdaya”.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Yan Rizana mengatakan, penyatuan Nganggung tahun ini menjadi pembeda dari pelaksanaan sebelumnya.

Jika selama ini perayaan Maulid Nabi dilakukan secara terpisah di masing-masing masjid, tahun ini seluruh rangkaian dipusatkan di Masjid Raya Tuatunu.

“Selama ini sebenarnya perayaan Maulid Nabi ini, Nganggung, biasanya dirayakan masing-masing masjid di Tuatunu. Alhamdulillah tahun ini kita satukan di Masjid Raya Tuatunu,” kata Yan.

Sedikitnya tiga masjid utama terlibat, yakni Masjid Al Ikhlas, Masjid Muhajirin, dan Masjid Al Aqsha.

Dukungan juga datang dari sekitar 40 masjid di wilayah Tuatunu. Karena itu, jumlah dulang diperkirakan mencapai lebih dari 1.000.

“Insya Allah, sebetulnya lebih dari 1.000. Tapi kami tidak menghitung nanti seperti apa,” ujarnya.

Saat waktu makan tiba, dulang dibuka. Hidangan dari berbagai rumah melebur menjadi satu santapan.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa Nganggung bukan sekadar membawa makanan menggunakan dulang, tetapi juga merawat nilai berbagi, silaturahmi, dan gotong royong.

Ketua TP-PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Noni Hidayat Arsani menilai kegiatan tersebut berhasil mempertemukan pemerintah dan masyarakat dalam suasana kebersamaan.

“Di sini antara pemerintah dengan masyarakat kita berbaur, bersilaturahmi dan mengikhtiarkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW,” kata Noni.

Staf Ahli Gubernur Babel Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Agus Suryadi juga menyebut Nganggung sebagai cerminan jati diri masyarakat Bangka Belitung.

“Masyarakat menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, silaturahmi dan rasa syukur kepada Allah SWT,” ujarnya.

Menjaga Nganggung

Festival tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat tradisi Nganggung di tengah perubahan zaman. Tradisi Nganggung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014.

Wali Kota Pangkalpinang Saparudin mengatakan, pemerintah akan mendorong tokoh budaya Tuatunu mendokumentasikan sejarah dan tata cara Nganggung dalam sebuah buku.

“Mudah-mudahan nanti saya sudah meminta kepada tokoh-tokoh budaya di Tuatunu untuk membuat satu buku tentang budaya Nganggung ini sendiri,” kata Saparudin.

Menurut dia, dokumentasi penting agar generasi berikutnya memahami bentuk dan nilai Nganggung yang sebenarnya. Hal itu sekaligus menjadi respons terhadap kebiasaan sebagian masyarakat yang mulai mengganti dulang dengan makanan dalam kotak.

Saparudin menilai dulang merupakan simbol sinergi dan kebersamaan masyarakat.

“Maknanya kita menggambarkan semakin banyak masyarakat yang bisa ikut dalam sinergitas, gotong royong ini. Semakin ramai masyarakat kan semakin baik,” ujarnya.

Saparudin berharap Festival Nganggung dapat menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Pangkalpinang dan dikembangkan sebagai salah satu event pariwisata. Namun, kemasan festival diharapkan tetap menjaga akar tradisinya. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.