Refleksi Maulid: Meneladani Kepemimpinan Rasulullah
suhendri August 26, 2026 11:43 AM

Oleh: Prof. Dr. Irawan, M.S.I- Direktur Pascasarjana IAIN SAS Babel

SIAPAKAH Nabi Muhammad SAW? Michael H. Hart, dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (1978), menyebutkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh atau figur yang memiliki prestasi tertinggi melebihi tokoh-tokoh lainnya. Tak seorang pun memiliki pengaruh begitu besar dalam sejarah kemanusiaan selain beliau.

Nabi Muhammad menjadi penutup dari sejumlah nabi dan rasul. Sebagaimana  dijelaskan Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari atau Tuan Guru Sapat (ulama besar Nusantara asal Banjar yang menjadi Mufti Kerajaan Indragiri dan namanya digunakan sebagai nama Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung) dalam kitabnya Fath al-'Alim fi Tartib al-Ta'lim terdapat 124.000 nabi, yang diangkat menjadi rasul berjumlah 313 (dalam sebagian riwayat lain disebutkan 315), dan 25 rasul yang wajib diketahui.

Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Senin 12 Rabiul Awal Tahun Gajah selalu diperingati oleh seluruh umat muslim hampir di seluruh dunia, yang disebut Maulid Nabi. Banyak tokoh agama, sejarawan, sarjana, ulama, akademisi, dan peneliti menulis biografi utusan Allah ini dengan berbagai sudut pandang atau pendekatan. Dalam hubungannya dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal 1448 H, tulisan ini mengulas kembali sejarah Rasulullah SAW yang dikarang oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Hisham, dan Martin Lings untuk mengontekstualisasikannya dalam  kehidupan sekarang.

Penulis sejarah Nabi Muhammad SAW, Ibnu Ishaq (85 H/704 M – 150 H/767 M), yang berjudul Sirat Rasul Allah merupakan fondasi utama dari seluruh penulisan biografi Nabi Muhammad SAW dalam sejarah Islam. Ibnu Ishaq adalah orang pertama yang mengumpulkan, mengorganisasi, dan membukukan kisah hidup Rasulullah SAW secara sistematis dan menyeluruh. Pandangan Ibnu Ishaq mengenai Nabi Muhammad dalam Sirat Rasul Allah memberikan fondasi nilai yang sangat relevan untuk konteks kehidupan modern saat ini.

Kedua, kepemimpinan inklusif dan diplomasi. Ibnu Ishaq mencatat peran Nabi saat menyusun Piagam Madinah untuk menyatukan masyarakat multietnis dan agama. Ini menjadi cetak biru penting bagi kehidupan bermasyarakat saat ini dalam mengelola keberagaman, membangun toleransi, dan menjunjung nilai kewarganegaraan yang setara.

Ketiga, sisi kemanusiaan dan resiliensi. Ibnu Ishaq tidak hanya menampilkan mukjizat, tetapi juga perjuangan, kesedihan, dan proses yang dialami Nabi. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, gambaran ini mengajarkan pentingnya resiliensi (ketahanan mental), kesabaran, dan penerimaan atas keterbatasan diri saat menghadapi krisis. 

Keempat, visi transformasi sosial. Penggambaran Nabi sebagai pembawa perubahan dari zaman jahiliah menuju peradaban yang adil memberikan dorongan moral bagi generasi saat ini untuk menjadi agen perubahan sosial – melawan ketidakadilan, memperjuangkan hak kelompok rentan, dan membangun tatanan sosial yang beretika.

Penulis sejarah Nabi Muhammad SAW berikutnya Ibnu Hisham (wafat 218 H/833 M), merupakan ulama besar yang menyunting, menyempurnakan, dan mengkritisi naskah asli Ibnu Ishaq menjadi karya monumental berjudul Sirah Nabawiyah Ibnu Hisham. Kitab ini menjadi versi biografi Nabi Muhammad SAW yang paling otoritatif dan populer hingga hari ini. Karya Ibnu Hisham ini bukan hanya sekadar menyunting, menyempurnakan, dan mengkritisi naskah asli Ibnu Ishaq, akan tetapi penjelasannya tentang pribadi keponakan Abu Thalib ini memiliki relevansi dengan kehidupan saat ini.

Pertama, etika akademis dan literasi informasi (critical thinking). Metodologi Ibnu Hisham yang berani memilah, mengkritisi, dan menyaring informasi dari gurunya (Ibnu Ishaq) mengajarkan pentingnya literasi kritis di era banjir informasi saat ini. Ini menjadi contoh pentingnya verifikasi data (tabayyun) dan tidak telan mentah-mentah suatu informasi.

Kedua, penguatan karakter dan integritas (character building). Penyajian Ibnu Hisham yang fokus pada detail akhlak, keputusan moral, dan kepemimpinan Nabi memberikan panduan praktis bagi masyarakat modern untuk membangun integritas pribadi, baik dalam karier, keluarga, maupun kehidupan sosial.

Ketiga, manajemen konflik dan toleransi. Melalui pencatatan rapi mengenai strategi diplomasi Nabi (seperti Perjanjian Hudaibiyyah dan Piagam Madinah), karya ini memberikan pelajaran berharga dalam resolusi konflik secara damai, moderasi beragama, serta pentingnya menjaga komitmen/perjanjian dalam hubungan internasional maupun antarwarga negara di era modern.

Keempat, preservasi sejarah dan identitas. Kitab ini menjadi jembatan utama yang menjaga otentisitas sejarah Islam. Bagi umat Islam saat ini, karya ini berfungsi sebagai pilar identitas dan sumber keteladanan yang sahih di tengah perubahan zaman yang serba cepat.

Penulis sejarah Nabi selanjutnya Martin Lings. Martin Lings (juga dikenal sebagai Abu Bakr Siraj ad-Din, 1909–2005) adalah seorang cendekiawan, budayawan Shakespeare, dan penganut tasawuf (sufi) asal Inggris. Karya monumentalnya, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources (1983), dianggap sebagai salah satu biografi Nabi Muhammad SAW terbaik dan paling puitis dalam bahasa Inggris. Tulisan Lings ini mengajak umat beragama untuk meneladani Rasulullah.

 Pertama, Lings menjembatani narasi Barat dan Islam. Lings berhasil menyajikan Sirah Nabawiyah menggunakan bahasa Inggris bernilai sastra tinggi tanpa mengurangi keotentikan sumber klasik. Di era prasangka global dan Islamofobia, pendekatan Lings memberikan pemahaman yang jernih, objektif, dan estetis bagi masyarakat Barat maupun generasi muda berpendidikan modern.

Kedua, Lings menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara duniamu dan spiritual (holistik). Di tengah krisis kesehatan mental dan materialisme modern, penggambaran Lings mengenai kehidupan Nabi mengajarkan bagaimana menyakralkan aktivitas sehari-hari bagaimana bisnis, politik, keluarga, dan kepemimpinan dapat dijalankan berlandaskan nilai spiritualitas. 

Ketiga, Lings menyampaikan pentingnya dialog antar-iman dan pluralisme yang sehat. Pandangan Lings yang menempatkan Nabi Muhammad dalam koridor sejarah kenabian universal memicu dialog antar-agama yang saling menghormati, mengedepankan persamaan substansi tauhid daripada perselisihan doktrinal.

Begitu mulia dan agungnya pribadi Rasulullah sehingga Karen Armstrong berkata, jika dunia modern ingin terhindar dari bencana ketimpangan dan konflik, manusia harus belajar dari nilai-nilai keadilan dan kasih sayang yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Semoga kita semua memperoleh syafaat Rasulullah SAW di Hari Akhir nanti. (Wallāhu a’lam). (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.